Layanan Film Streaming jadi Penyebab Ekonomi Indonesia Melambat

Oleh Liputan6.com pada 07 Nov 2019, 16:49 WIB
Musik

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2019 sebesar 5,02 persen. Angka tersebut melambat jika dibandingkan denga periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,17 persen.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Sri Soelistyowati mengatakan, salah satu penyebab melambatnya ekonomi adalah investasi kekayaan intelektual yang merosot. Hal tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya layanan tontonan streaming.

"Produk kekayaan intelektual menurun itu terkait software meningkat, tapi film yang lolos sensor mengalami pertumbuhan negatif, turun 45 persen. Turun, bukan melambat," ujarnya di Le Meredien, Jakarta, Kamis (7/11).

Sri Mengatakan, di catatan BPS, film selama ini digolongkan kepada pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi. Investasi film akan masuk menjadi penyumbang ekonomi apabila sudah melalui proses sensor yang dilakukan oleh lembaga perfilman.

"Film yang konsep masuk PMTB yang lolos sensor menurun, tapi yang enggak lolos sensor ini meningkat. Jadi ini yang sebabkan investasi intelektual kita terkontraksi," jelasnya.

 

2 of 4

Tantangan BPS

Kepala BPS Suhariyanto di Kantor Pusat Badan Pusat Statistik, Jakarta, Senin (24/6/2019).
Kepala BPS Suhariyanto di Kantor Pusat Badan Pusat Statistik, Jakarta, Senin (24/6/2019).

Sejauh ini, BPS belum menghitung sumbangsih layanan tontonan gratis terhadap ekonomi. Namun demikian, tak kemungkinan dengan adanya peningkatan teknologi BPS akan menghitung data transaksi digital dan perdagangan digital di masa mendatang.

"Ini yang jadi tantangan-tantangan kami ke depan memang. Untuk e-commerce belum bisa kami rilis karena yang belum rampung. Nanti kalau sudah rilis pasti akan kami beritahu," tandasnya.

 

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

3 of 4

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2019 Hanya 5 Persen, Ini Sebabnya

Prediksi BI Soal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun Depan
Pekerja tengah mengerjakan proyek pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Sabtu (15/12). Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 mendatang tidak jauh berbeda dari tahun ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) memprediksi angka pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini hanya mentok di 5 persen.

Bahkan ada kemungkinan bisa di bawah 5 persen. Hal ini karena adanya risiko pelambatan ekonomi global yang tidak diperkirakan di awal tahun ini.

Kepala Kajian Makro LPEM UI, Febrio Kacaribu mengatakan, semula pihaknya memperkirakan pertumbuhan ekonomi masih di kisaran 5-5,2 persen. Namun, pihaknya melihat risiko pelambatan membuat pertumbuhan ekonomi Kuartal III 2019 hanya di 4,9 persen.

"Di 2019 kami melihat risiko pelambatan dibandingkan dengan yang kami expected di awal tahun. Di Awal tahun kami 5-5,2 persen. Kemungkinan besar data yg kita lihat sejauh ini memang menunjukkan ke arah 5,0 persen, itu sudah kita revisi kedua kalinya," kata dia, dalam acara Indonesia Economic Outlook 2020, di UI Salemba, Jakarta, Senin (4/11).

Trade war atau perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang tak kunjung mereda turut memperparah kondisi tersebut. Hal ini tidak hanya berdampak pada Indonesia tetapi juga pada perdagangan seluruh negara termasuk negara maju.

Dampak lainnya adalah melemahnya iklim investasi di Indonesia. Dimana ini juga bisa berlangsung hingga tahun depan. Investasi diharapkan bisa mencapai 6 persen terhadap pertumbuhan ekonomi namun hingga kini hanya menetap di 5 persen saja.

"Reformasi yang signifikan untuk meningkatkan iklim investasi dapat menolong aktivitas ekonomi pada tahun 2020," ucapnya.

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓