Jasa Marga: Untung-Rugi Tol Dihitung dalam Jangka Panjang

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 05 Nov 2019, 17:13 WIB
Diperbarui 05 Nov 2019, 18:16 WIB
Jalan Tol Pandaan-Malang Seksi I-III sepanjang 30,6 km.

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Keuangan Jasa Marga Donny Arsal menyatakan, pendapatan seluruh ruas tol yang dikelola Jasa Marga berstatus financially liable alias layak dalam keuangan.

Maksudnya, penentuan untung rugi tol tidak bisa dilakukan setahun atau dua tahun sejak tol dioperasikan. Sehingga, pendapatan ruas tol yang baru beberapa tahun beroperasi masih dalam status yang sehat untuk perusahaan.

"Karena tol itu tidak bicara setahun dua tahun kita lihat untung, rugi, pendapatan tol itu terus mengalir seumur masa konsesi," ungkapnya di Jakarta, Selasa (11/05/2019).

 

Donny mencontohkan ruas tol di Jakarta yang masa konsesinya hingga 35 tahun dan di luar Jakarta yang mencapai 40 tahun. Setelah berpuluh-puluh tahun, barulah diketahui untung rugi pendapatan tol secara keseluruhan.

Corporate Finance Group Head Jasa Marga Eka Setya Adrianto menambahkan, umumnya ruas tol yang baru beroperasi 2 hingga 3 tahun akan mengalami peningkatan pendapatan hingga dua digit.

"Biasanya 10 persen," ungkapnya.

Hal itu dikarenakan ada penyesuaian dari penggunaan jalan arteri ke jalan tol. Awal-awal, pengguna jalan akan merasa nyaman karena jalan relatif lengang dan mempercepat sampai tujuan. Lama kelamaan, jalan akan penuh hingga mencapai kapasitas maksimalnya.

"Saat titik jenuh itulah, pendapatan tol mulai melambat," tambahnya.

Namun, ada pula kasus dimana jalan tol tetap memiliki pendapatan tinggi yang konsisten. Hal itu jika terjadi pembangunan wilayah di sekitar jalan tol.

"Misalnya ruas Cipularang, karena Bandung sekarang jadi Paris Van Java akhirnya mendatangkan pengunjung terus. Kemudian, Cikampek, awalnya sepi tapi karena jadi pusat industri, akhirnya ramai," tutupnya.

2 of 3

1.852 Km Jalan Tol Baru Ditargetkan Beroperasi di April 2020

Proyek di Tol Cikampek
Kendaraan melintasi proyek Tol Jakarta-Cikampek II dan kereta api ringan (LRT) di Bekasi, Selasa (18/12). Sejumlah proyek di Jalan Tol Jakarta-Cikampek dihentikan sementara untuk mengantisipasi adanya potensi kemacetan. (Merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Badan Pembangunan Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) meragukan target pembangunan jalan tol hingga akhir 2019 bisa mencapai 1.852 km.

Kepala BPJT Danang Parikesit mengatakan, tambahan jalan tol yang bisa terbangun untuk kemudian beroperasi hingga akhir tahun hanya sekitar 1.500 km.

"Kalau lihat pengalaman 5 tahun lalu dengan nilai kontrak investasi sampai dengan Rp 500 triliun. Itu dengan target sebenarnya 1.852 km. Tapi delivery kita sampai kuartal IV (2019) diperkirakan 1.500 km," jelasnya di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (29/10/2019).

Adapun pemerintah di era Kabinet Kerja Joko Widodo (Jokowi) periode 2014-2019 mulanya menargetkan pembangunan jalan tol sepanjang 1.060 km. Target tersebut kemudian berubah menjadi 1.852 km, dengan proyeksi minimal hingga akhir 2019 mencapai 1.500 km.

Danang memperkirakan, target pembangunan 1.852 km tol baru dapat terealisasi antara Maret hingga April 2020 mendatang.

"1.852 km itu kita perkirakan ada mundur satu kuartal, kira2 di akhir bulan Maret atau bulan April (2020), itu total 1.852 km tercapai," ujar dia.

Dia melanjutkan, jika terbangun 1.500 jalan tol baru, maka total jalur bebas hambatan yang dapat beroperasi hingga akhir tahun nanti mencapai sekitar 2.200 km.

"Kalau lihat historis, kita puluhan tahun hanya sampai 700 km. Sehingga menurut saya suatu prestasi luar biasa dicapai 5 tahun ini dengan membangun 1.500 km," tukas Danang.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by