Cerita Deddy Corbuzier Kini Lebih Mudah Isi Listrik untuk Mobil Tesla Miliknya

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 29 Okt 2019, 20:34 WIB
Diperbarui 29 Okt 2019, 21:17 WIB
D‎eddy Corbuzier menghadiri peluncuran SPKLU di Kantor PLN Disjaya. Pebrianto Eko W

Liputan6.com, Jakarta Mentalist sekaligus artis Deddy Corbuzier menyambut baik pengoperasian Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) milik PLN. Sebab keberadaan fasilitas ini membuat dirinya tidak kesulitan lagi mengisi pasokan energi untuk mobil listrik.

D‎eddy yang menghadiri peluncuran SPKLU di Kantor PLN Disjaya, Jakarta mengaku memiliki mobil listrik jenis Tesla Model 3. Keunggulan tunggangannya tersebut, yaitu tidak bersuara seperti mobil bermesin dengan energi BBM.

"Pengalaman naik mobil listrik kalau sudah naik nggak mau naik mobil lain,‎" kata Deddy, di Kantor PLN Disjaya, Jakarta, Selasa (29/10/2019).

‎Keberadaan SPKLU milik PLN dinilai sangat memudahkan pengguna kendaraan listrik untuk mengisi daya.

Sebelum ada SPKLU, untuk mengisi daya listrik mobilnya, dia mengaku harus membuat stasiun pengisian sendiri di rumahnya dengan waktu pengisian 5 jam. "Kedua saya bawa charger, ngecharge di rumah teman. Pengisian 20 jam," tambah dia.

Deddy mengungkapkan, keberadaan SPKLU dengan teknoogi ultra fast charging membuat pengisian energi mobil listrik lebih cepat menjadi 30 menit. 

Ini keuntungan pengguna mobil listrik. Apalagi PLN belum memungut biaya pengisian sampai akhir tahun. "Sekarang paling lama 30 menit, gratis,"ujarnya.

General Manager PLN UID Disjaya M Ikhsan Asaad mengatakan, PLN selaku operator ‎mendorong penerapan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang kendaraan listrik, dengan menyediakan fasilitas SPKLU.‎

Ikhsan mengungkapkan, ‎untuk pengoperasian perdana di Jakarta, PLN telah menaruh tiga SPKLU di halaman kantor PLN Disjaya, satu di SPKLU di Senayan City dan satu unit di kantor PLN Bulungan.

"Di halaman PLN ada tiga jenis ultra fast charging satu unit ‎150 kW, fast charging 50 kW, dan normal 25 kW," tuturnya.

Menurut Ikhsan, satu SPKLU ultra fast charging bisa mengisi empat‎ unit kendaraan secara bersamaan, dengan jenis pabrikan mobil Jepang dan Eropa.

Dia mengakui, untuk investasi pengadaan SPKLU masih cukup mahal, seperti fast charging mencapai Rp 800 juta per unit.

"Saya kira nggak bicara rugi karena investasi masa depan.‎ Saat ini di depan gedung heritage ini dipasang 3 SPKLU satu ultrafast charging bisa menge-charger 4 mobil secara bersamaan," tandasnya.

* Dapatkan pulsa gratis senilai jutaan rupiah dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

 

2 of 2

PLN Gratiskan Pengisian Energi Kendraan Listrik hingga Akhir 2019

PLN Siapkan Stasiun Pengisian Listrik di 4 Kota
Pemilik mobil listrik mengetap kartu sebelum melakukan pengisian daya listrik di SPLU di Jakarta, Rabu (29/10/2019). PLN secara serentak meresmikan SPKLU yang tersebar di empat kota, yakni Tangerang, Bali Selatan, Jakarta, dan Bandung dengan tarif sekitar Rp 1640/k. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

PT PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya ‎(Disjaya) telah menyediakan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), dengan membebaskan tarif pengisian daya sampai akhir 2019.

General Managar PLN Disjaya M Ikhsan Asaad mengatakan, PLN mendukung penggunaan kendaraan listrik, untuk membuat masyarakat tertarik pengisian daya kendaraan listrik melalui SPKLU saat ini tidak dikenakan biaya pengisian.

"Kami berikan gratis sampai akhir tahun, saya enggak mau kalah sampai akhir tahun," kata Ikhsan, di Kantor PLN Disjaya, Jakarta, Selasa (29/10/2019).

Menurut Ikhsan, saat ini PLN masih menunggu Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) mentapkan besaran tarif listrik khusus untuk kendaraan listrik, dia memperkirakan dalam waktu dekat akan diterbitkan.

"Sekarang belum bayar, nanti kita tentukan skema, nanti ESDM baru kita tentang skema pembayarannya," tuturnya.

Ikhsan pun berharap, tarif listrik khusus kendaraan listrik lebih murah dari harga Bahan Bakar Minyak (BBM), namun juga mempertimbangkan investasi pembangunan SPKLU agar ada investor yang tertarik berinvestasi membangun SPKLU.

"Kalau murah nggak ada yang investasi, bagaimana kalau balik modalnya 20 tahun?," tandasnya.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓