Jumlah Orang Kaya di Dunia Bertambah 1,1 Juta dalam Setahun

Oleh Tommy Kurnia pada 23 Okt 2019, 21:00 WIB
Diperbarui 23 Okt 2019, 21:00 WIB
Donald Trump dalam safari politiknya di Biloxi, negara bagian Mississippi, pada November 2018 (AFP/Jim Watson)
Perbesar
Donald Trump dalam safari politiknya di Biloxi, negara bagian Mississippi, pada November 2018 (AFP/Jim Watson)

Liputan6.com, Washington D.C. - Perang dagang yang berkecamuk dalam setahun terakhir diprediksi IMF sebagai pendorong terjadinya krisis global pada tahun 2020 atau 2021. Akan tetapi, jumlah para orang kaya di dunia tetap meningkat.

Dilansir CNBC, jumlah jutawan dolar di dunia bertambah sebesar 1,1 juta orang dari pertengahan tahun 2018 hingga pertengahan tahun 2019. Kini, total jutawan di dunia  mencapai 46,8 juta orang.

Total kekayaan mereka tercatat USD 153,8 triliun atau setara 44 persen kekayaan di dunia. Data itu berasal dari Global Wealth Report yang baru-baru ini dirilis Credit Suisse.

Amerika Serikat (AS) dan China justru memimpin dalam hal penambahan orang kaya walau mereka sedang sibuk patgulipat adu tarif di perang dagang.

AS memiliki tambahan 675 ribu jutawan baru selama setahun belakangan, sementara China menambah 158 ribu jutawan baru.

Australia merupakan negara yang rugi karena orang kaya di negara itu berkurang 124 ribu orang. Namun, ketimpangan kekayaan tercatat lebih rendah di Australia ketimbang AS dan China.

Koefisien gini di Australia sebesar 66 persen, lebih rendah dibandingkan China (70,2) dan AS (85,2). Namun ketiganya masih lebih rendah ketimbang ketimpangan di Rusia yang sampai menyentuh 87,9.

Orang kaya di China disorot karena ada perbedaan orang desa (rural) dan kota (urban). Namun, secara keseluruhan ketimpangan kekayaan di China menurun.

Sementara, kehadiran orang kaya di AS sedang digempur oleh politikus sayap kiri Partai Demokrat yang gencar mempromosikan pajak kekayaan.

2 dari 4 halaman

Miliarder Ini Akui Kapitalisme Itu Mengerikan

Demi Buktikan Siapa Paling Kaya, Pria-Pria Ini Bakar Uang
Perbesar
Ilustrasi Membakar Uang (pixabay.com)

Amat jarang ada miliarder yang mengakui dampak buruk kapitalisme. Hal itu tak berlaku bagi miliarder teknologi Marc Benioff yang mengakui kapitalisme memiliki sisi mengerikan karena membawa ketimpangan (inequality).

"Kapitalisme, saya akui, telah berbaik hati pada saya. Tetapi kapitalisme yang dipraktikkan beberapa dekade belakangan ini, yang terobsesi memaksimalkan keuntungan untuk pemegang saham, juga telah membawa pada ketimpangan yang mengerikan," ujar Benioff seperti dikutip CNBC.

Menurut Forbes, Benioff memiliki kekayaan USD 6,3 miliar atau Rp 89,2 triliun (USD 1 = Rp 14.164). Kekayaan berasal dari Salesforce, sebuah firma software cloud yang ia dirikan pada tahun 1999.

Solusi yang ditawarkan sang miliarder adalah kapitalisme yang lebih adil. Caranya adalah para pebisnis memberikan timbal balik positif ke masyarakat, dan tidak hanya meraup untung. Pajak yang lebih tinggi bagi orang kaya dianggap menjadi jalan.

"Secara nasional, menambah pajak dari individual dengan pendapatan tinggi seperti saya akan membantu triliunan dolar yang kita amat butuhkan untuk meningkatkan pendidikan dan layanan kesehatan dan melawan perubahan iklim," jelas Benioff.

Ide menaikkan pajak sendiri menjadi perdebatan panas di Amerika Serikat. Ada dua kandidat calon presiden AS yang ingin pajak orang kaya tambah tinggi, yakni Senator Bernie Sanders dan Senator Elizabeth Warren.

Jika wacana Bernie Sanders berhasil, maka miliarder seperti Mark Zuckerberg harus membayar pajak kekayaan sebesar Rp USD 5,8 miliar per tahun. Sementara, orang terkaya di dunia Jeff Bezos harus rela membayar pajak kekayaan hingga USD 9 miliar.

3 dari 4 halaman

Wacana Pajak Kekayaan

Jeff Bezos and Amazon
Perbesar
Jeff Bezos

Kekayaan melimpah yang dimiliki miliarder kerap menjadi incaran untuk menambah pundi uang di satu negara. Seperti yang terjadi di Amerika Serikat (AS).

Terdapat kandidat calon presiden AS yang berencana menaikkan pajak bagi para miliarder secara signifikan.

Rencana itu berasal dari Senator Bernie Sanders, kandidat calon presiden Partai Demokrat. Senator Sanders terang-terangan menyebut bahwa miliarder seharusnya tidak boleh ada.

Dalam proposal pajak kekayaan tahunan, mereka yang punya harta di atas USD 10 miliar (Rp 141,7 triliun) harus membayar pajak hingga delapan persen per tahun. Pajak kekayaan tahunan itu berbeda dari pajak pendapatan. 

Berikut besaran pajak yang harus dibayar para miliarder tiap tahun jika pajak kekayaan tahunan ala Bernie Sanders terwujud.

1. Jeff Bezos: USD 9 miliar (Rp 127,6 triliun)

2. Bill Gates: USD 8,6 miliar (Rp 121,9 triliun)

3. Warren Buffett: USD 6,6 miliar (Rp 93,5 triliun)

4. Mark Zuckerberg: USD 5,8 miliar (Rp 82,2 triliun)

5. Larry Page: USD 4,8 miliar (Rp 68 triliun)

6. Charles Koch: USD 4,8 miliar (Rp 68 triliun)

7. Larry Ellison: USD 4,7 miliar (Rp 66,6 triliun)

8. Sergey Brin: USD 4,6 miliar (Rp 66,6 triliun)

9. Rob Walton: USD 4,2 miliar (Rp 59,5 triliun)

10. Jim Walton USD 4,2 miliar (Rp 59,5 triliun)

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓