Era Jokowi, Elektrifikasi Papua Meroket 51 Persen

Oleh Tommy Kurnia pada 18 Okt 2019, 17:22 WIB
(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Liputan6.com, Jakarta - Elektrifikasi Indonesia di era Presiden Joko Widodo terus meningkat hingga menyentuh level 98 persen. Pertumbuhan aliran listrik di Papua ternyata sangat cermerlang yakni melebihi 50 persen.

"Provinsi Papua tahun 2014, (elektrifikasi) baru mencapai 43 persen dan Papua Barat sekitar 77 persen. Melalui berbagai program elektrifikasi hingga September 2019, rasio Papua mencapai 94 persen dan Papua Barat 99 persen," ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi F. X. Sutijastoto di Jakarta, Jumat (18/10/2019).

Hingga kini, masih ada 1.724 desa di Papua yang gelap gulita dari jumlah desa sebanyak 7.358. Nantinya, daerah-daerah itu akan didukung oleh energi terbarukan. PT PLN (Persero) dan Kementerian ESDM pun bersinergi lewat program 1.000 Renewable Energy for Papua.

Pada peluncuran 1.000 Renewable Energy for Papua ini, Plt. Dirut PLN Sripeni Inten Cahyani turut mencoba contoh renewable energy di dalam replika rumah honai.

Ia pun secara simbolis menyerahkan bantuan social media movement senilai Rp 2,5 miliar dalam bentuk kwh dari program 1 foto di media sosial for 1 kwh di Papua.

F. X. Sutijastoto juga menyebut target elektrifikasi pemerintah menembus ekspektasi RPJMN di tahun 2019. Elektrifikasi seluruh Indonesia per September 2019 sudah mencapai 98,86 persen, sementara target awal adalah 96 persen.

Sisa 1,1 juta masyarakat yang belum mendapat [listrik](di Jakarta. "") ternyata lebih banyak karena masalah ekonomi. PLN, Kementerian ESDM, BUMN, dan swasta melalui CSR bersinergi mengatasi hal itu.

2 of 4

PLN Luncurkan Program Listrik Ramah Lingkungan untuk Papua

20170621-PLN Berikan Diskon Biaya Penyambungan Tambah Daya-Antonius
Petugas PLN melakukan penyambungan penambahan daya listrik di Jakarta, Rabu (21/6). Menyambut lebaran, PLN memberikan bebas biaya penyambungan untuk rumah ibadah dan potongan 50 persen untuk pengguna selain rumah ibadah. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

PT PLN (Persero) berusaha menyelesaikan tantangan geografis di Papua agar jangkauan listrik di wilayah tersebut makin meluas. Untuk itu, PLN meluncurkan program 1.000 Renewable Energy for Papua agar mencapai rasio elektrifikasi 100 persen pada tahun 2020.

Inisiatif ini adalah sekuel dari gerakan Ekspedisi Papua Terang di bulan Agustus hingga September 2018. Ekspedisi itu mengumpulkan data demografi dan geografi terkait penyusunan rencana paling efektif untuk melistriki ratusan desa di provinsi Papua dan Papua Barat.

"Masih ada sekitar 1.724 desa yang gelap gulita dari jumlah 7.358 desa, sehingga oleh karena itu PLN meluncurkan program 1.000 Renewable Energy for Papua sebagai tindak lanjut Ekspedisi Papua Terang," ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi F.X. Sutijasto dalam peluncuran program ini di Jakarta, Jumat (18/10/2019). 

Energi terbarukan dipilih karena berdasarkan survei PLN ada empat Energi Baru Terbarukan (EBT) yang potensial di Papua, yakni Pembakit Listrik Tenaga Pikohidro, Tabung Listrik, Pembangkit Listrik Tenaga Surya dengan panel surya yang bisa berfungsi hingga 20 tahun, dan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa yang bisa menerangi 200 rumah.

3 of 4

PLT Pikohidro

Progress Pembangunan Pembangkit Listrik 35.000 MW untuk Indonesia
Progress sebaran pembangkit listrik dan jaringan tranmisi yang telah dibangun PT. PLN demi program 35.000 MW untuk Indonesia.

PLT Pikohidro merupakan pembangkit skala kecil yang memanfaatkan air untuk menghasilkab hingga 5.000 watt. Sekiranya enam rumah bisa dialiri listrik berkat teknik ini.

Sementara, Tabung Listrik (Talis) adalah alat penyimpanan layaknya power bank. Talis ini mudah dipakai dan bisa diisi ulang di Stasiun Pengisian Energi Listrik.

Sejauh ini, berdasarkan data Kementerian ESDM, Rasio Elektrifikasi (RE) di provinsi Papua adalah 94,28 persen dan Papua Barat 99,98 persen, sehingga RE di dua provinsi itu adalah 95,75 persen melalui kontribusi PLN dan program Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) oleh Kementerian ESDM setempat.

Program ekspedisi Papua diikuti oleh 165 mahasiswa pecinta alam dari Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh November, dan Universitas Cenderawasih.

TNI AD dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) juga ikut membantu ekspedisi Papua terang itu.

Peewakilan mahasiswa yang ikut peluncuran program ini pun berharap listrik di Papua bisa membantu tim medis, membuka akses internet, meningkatkan edukasi, mengurangi kesenjangan, dan membuka peluang positif bagi warga Papua.

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓