Menhub: Indonesia Harus Banyak Belajar dari Vietnam

Oleh Liputan6.com pada 16 Okt 2019, 15:39 WIB
Neraca Ekspor Perdagangan di April Melemah

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mendorong para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bisa belajar banyak dari rekan bisnis negara lain seperti Vietnam. Dia meyakini, apabila hal itu bisa dilakukan maka daya saing usaha Indonesia dapat lebih baik lagi.

"Kadin memiliki rekan seperti Vietnam model bisnis yang dilakukan negara tersebut harus kita lakukan di sini agar daya saing kita, daya saing usaha ini menjadi baik, dan investor mau untuk menginvestasikan ke sini," kata Budi saat ditemui di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (16/10/2019).

Selama ini regulasi yang dibuat oleh negara Vietnam untuk mendatangkan investasi begitu mudah, utamanya dalam mendorong ekspor. Mulai dari kebijakan fiskal, kemudahan keluar masuk pelabuhan dengan satu kali pengecekan, hingga kemudahan-kemudahan lainnya.

"Tapi saya pikir pengusaha akan lebih jeli untuk melihat sektor sektor mana hal hal mana dirasakan bermanfaat dan ambilah itu dan beritahu kami kita berdiskusi kita buat regulasi regulasi kita jadi lebih mudah sehingga investor itu diuntungkan atau dimudahkan," jelasnya.

Di samping itu, Mantan Direktur Angkasa Pura II ini juga mendorong agar Kadin dapat banyak berdiskusi dengan para operator dan sebagiannya untuk meningkatkan ekspor. Kementerian Perhubungan pun juga tidak  menutup diri apabila sewaktu-waktu diminta pertolongan dan diajak diskusi kembali.

"Karena saya paling ditugaskan untuk ekspor kita bisa pakai Tanjung Priok bisa lewat udara dan sebagiannya," tandas dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

* Dapatkan pulsa gratis senilai Rp10 juta dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

2 of 2

Ekspor Indonesia Turun 1,29 Persen di September

Agustus 2019, Ekspor Indonesia Merosot 7,06  Persen
Aktivitas bongkar muat di Terminal Peti Kemas Koja, Jakarta, Rabu (18/9/2019). Perlambatan ekonomi negara-negara tujuan ekspor, perang dagang, dan harga komoditas yang masih fluktuatif menyebabkan merosotnya nilai ekspor Indonesia. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada September 2019 mencapai USD 14,10 miliar. Nilai tersebut turun 1,29 persen apabila dibandingkan dengan Agustus 2019 dan turun 5,74 persen dibanding September 2018.

"Total nilai ekspor pada September 2019 sebesar USD 14,10 miliar. Turun 1,29 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya," ujar Kepala BPS, Suhariyanto di Kantornya, Jakarta, pada Selasa 15 Oktober 2019. 

Suhariyanto merinci, ekspor migas menyumbang sebesar USD 0,83 miliar sedangkan ekspor non migas menyumbang 13,27 miliar. Kedua komponen tersebut sama sama mengalami penurunan dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

"Dengan nilai ekspor USD 14,10 miliar, kompisisi ekspor menurut sektornya, untuk ekspor migas turun 5,17 persen secara month to month dan secara year on year turun tajam menjadi 37,13 persen," jelasnya.

Menurut sektor, ekspor non migas menyumbang 94,11 persen dari total ekspor pada September 2019. Masing-masing sektor non migas seperti pertanian, pengolahan dan pertambangan menyumbang USD 0,36 miliar, USD 10,85 miliar dan USD 2,06 miliar.

"Sama seperti bulan-bulan sebelumnya, ekspor masih perlu terus diperhatikan," tandas Suhariyanto.

Lanjutkan Membaca ↓