Ini Dia Tantangan Sektor Transportasi ke Depan

Oleh Liputan6.com pada 16 Okt 2019, 14:00 WIB
Diperbarui 16 Okt 2019, 14:17 WIB
20161006- Pemprov DKI Jakarta Berencana Ganti Angkutan Reguler- Helmi Fithriansyah

Liputan6.com, Jakarta Wakil Ketua Umum Kadin bidang Transportasi,Carmelita Hartoto mengungkapkan beberapa tantangan kinerja sektor transportasi ke depan. Salah satunya imbas gejolak ekonomi dunia serta kondisi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

"Tantangan ke depan tidak mudah kinerjanya semakin berat melihat kondisi perang dagang AS dan China," ujar dia di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (16/10/2019).

Dia mengatakan dengan kondisi tersebut secara otomatis akan mempengaruhi kinerja sektor industri nasional. Akan tetapi, dia tetap optimis sektor transportasi akan terus tumbuh dengan adanya dukungan pemerintah serta stakeholder terkait lainnya.

"Kami harus tetap optimis karena kelanjutan pembangunan infrastruktur masih jadi prirotas lima tahun mednatang itu akan cukup mengerek sektor transportasi nasional," jelas dia.

Tantangan lain yang masih dihadapi di sektor transportasi yakni masalah efisiensi serta beban biaya logistik yang dinilai masih tinggi. Di mana, beban logistik berada di 24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Pastinya akan berdampak pada daya saing kinerja kita. Untuk itu perbaikan kinerja logistik nasional tidak bisa hanya melihat kesuksesan negara lain tapi harus mencari solusi dan berbenah dengan mengikuti perkembangan teknologi. Ini tidak lepas dari kinerja kita yang menginginkan logistik lebih efisien," tandas dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

 

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai Rp10 juta dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2019 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

2 of 2

Meski Melambat, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tak Separah Negara Lain

Ilustrasi pertumbuhan Ekonomi
Ilustrasi pertumbuhan Ekonomi

 IMF baru saja merilis laporan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan merosot dari 3,5 persen menjadi 3 persen saja. Prediksi ekonomi Indonesia pun ikut turun dari 5,2 persen menjadi 5 persen saja.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Iskandar Simorangkir berkata fenomena ini memang sedang terjadi di berbagai negara akibat dampak perang dagang. Penurunan ekonomi Indonesia juga dinilai tak terlalu parah dibanding negara lain.

"India yang tadinya (pertumbuhan ekonomi) sampai 9 persen, sekarang sama kayak kita 5 persen. Turun jadi 8 persen, sekarang dia 5 persen. Jadi in term of penurunan, kita enggak signifikan," ujar Iskandar pada Rabu (16/10/2019) di Jakarta.

 

 

 

Perlambatan ekonomi global memang membuat ekspor berkurang, tetapi impor pun menurun. Iskandar pun menyebut konsumsi domestik bisa menjadi tameng terhadap perlambatan ekonomi global sehingga pertumbuhan ekonomi tak anjlok ke bawah 5 persen.

"Sepanjang kita bisa mempertahankan domestic demand, kita paling apes skenario terburuk di 5 persen, tapi masih bisa kita mencapai 5,1. Pesimisnya 5.0," jelas Iskandar.

CNBC melaporkan Pemangkasan prediksi pertumbuhan ekonomi global oleh IMF adalah yang terendah sejak krisis finansial satu dekafe lalu. Apabila ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China tidak kunjung reda, maka pertumbuhan ekonomi global bisa makin buruk.

 

Lanjutkan Membaca ↓