Rencana Manggarai Jadi Stasiun Sentral Dikritik Menteri Jonan, Ini Kata Kemenhub

Oleh Liputan6.com pada 10 Okt 2019, 18:16 WIB
Rencana Pemindahan Pelayanan Kereta Api Jarak Jauh

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perhubungan berencana mengalihkan rute kereta jarak jauh ke Stasiun Manggarai dari sebelumnya di Stasiun Gambir. Nantinya, stasiun Manggarai akan menjadi stasiun sentral dan Stasiun Gambir akan menjadi stasiuan kereta listrik atau Commuter Line (KRL).

Namun rupanya rencana yang sudah drancang sejak lama tersebut mendapat kritikan pedas dari berbagai pihak. Stasiun Manggarai dan kawasan sekitarnya dinilai belum siap menjadi stasiuan sentral dimana nantinya kereta jarak jauh, KRL hingga kereta bandara akan berada di stasiun tersebut.

Kritik juga datang dari mantan menteri perhubungan sekaligus bapak Kereta Api Indonesia, yaitu Ignasius Jonan. Pria yang saat ini menjabat sebagai Menteri ESDM ini menyebutkaan kereta jarak jauh kurang cocok dipusatkan di Stasiun Manggarai sebab masih terlalu padat.

Saat dikonfirmasi, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi enggan berkomentar banyak mengenai hal tersebut. "itu nanti ya," kata Budi Karya saat ditemui usai diskusi bertajuk 'Transportasi Massal di Ibu Kota Baru' Seperti Apa?' di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Sementara itu, Kepala Litbang Kementerian Perhubungan Sugihardjo menyambut positif kritikan tersebut. Namun, dia menegaskan pemerintah telah melakukan studi dan mendesain konsep pembangunan tersebut secara menyeluruh dan sejak lama.

"Kalau pak Jonan kan Bapak Pembangunan KA di Indonesia. Beliau tahu persis kondisi Gambir ini paling lengkap dibanding Manggarai dan sebagainya," kata Sugihardjo.

Dia mengungkapkan salah satu tantangan dalam layanan perkeretaapian adalah terus meningkatnya penumpang KRL. Dia mengutip data saat ini penumpang KRL selalu jutaan.

Oleh sebab itu, lanjutnya, perlu ada pemisahan jalur antara KRL dengan KA Jarak Jauh.

"Penumpangnya saja sudah mencapai 1,2 juta (per hari), kalau mau tambah terus ini enggak bisa. Karena jumlah penumpang padat karena frekuensi keretanya terbatas, tak bisa ditambah karena sudah sangat rapat, Yang ideal pemisahan itu bisa dilakukan dua hal: DDT (jalu dwi ganda) hingga Cikarang sudah selesai. Simpulnya didesain, Manggarai didesain untuk pisahkan jarak jauh dan KRL," ujarnya.

Dia menceritakan rencana menjadikan stasiun Manggarai menjadi stasiun sentral telah mencuat sejak zaman orde baru. Dia juga memastikan kawasan di sekitar stasiun Manggarai bakal ditata agar menjadi kawasan tertib lalu lintas dan terhindar dari kemacetan.

"Kalau dijadikan simpul harus lakukan penataan menyeluruh, ada penawataan kawasan stasiun," tegasnya.

Sementara itu, Stasiuan Gambir akan tetap berfungsi namun beralih menjadi stasiun KRL.

"Gambir itu tetap berfungsi. Gambir tidak dipindahkan, seperti sebagaimana fungsinya. Hanya hubnya itu di Manggarai," tutupnya.

Reporter: Yayu Agustini Rahayu

Sumber: Merdeka.com

2 of 2

Pengamat: Ide Stasiun Manggarai Gantikan Gambir Perlu Dikaji Ulang

Rencana Pemindahan Pelayanan Kereta Api Jarak Jauh
Kereta api melintas di salah satu jalur Stasiun Manggarai, Jakarta, Rabu (9/10/2019). Rencana pemindahan pelayanan KA jarak jauh dari Stasiun Gambir ke Stasiun Manggarai agar kapasitas pengguna KA semakin banyak. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Pemindahan fungsi naik turunnya penumpang Kereta Api (KA) jarak jauh dari Stasiun Gambir ke Stasiun Manggarai perlu dikaji ulang. Hal tersebut diungkapka oleh Pengamat Transportasi Institut Studi Transportasi Deddy Herlambang.

Deddy menjelaskan, pengkajian terutama dari sisi akses, moda transportasi pendukung, serta aspek sosial di sekitar Stasiun Manggarai.

“Memang telah ada studi dari JICA tahun 1985 dan 1991 untuk menjadikan Stasiun Manggarai sebagai stasiun terpadu atau hub besar berbasis rel. Namun karena eksekusi terlalu lama maka perubahan mind set transportasi tidak diprediksikan pada tahun studi JICA itu,” ujar Deddy dikutip dari Antara, Rabu (9/10/2019). 

Dia menuturkan saat itu tidak diprediksikan lonjakan perubahan kepadatan kendaraan pribadi, saat itu pengguna kendaraan umum di DKI masih sekitar 50-60 persen, kini pengguna kendaraan umum sebesar 23 persen–25 persen.

Sementara itu, jaringan jalan dari dulu hingga sekarang juga tidak ada perubahan yang signifikan karena pertumbuhan jalan hanya 0,01 persen tahun bila dibandingkan kendaraan baru 12 -16 persen per tahun.

Di sisi lain, lanjut dia, saat itu juga tidak diprediksikan akan booming transportasi online (private bukan mass transport), akibatnya akses menuju ke Stasiun Manggarai tidak berbentuk dan tidak tertata seperti sekarang ini.

“Susah payah terjebak kemacaten bila kita memaksa menggunakan kendaraan menuju Manggarai. Bisa kita katakan bahwa desain Stasiun Manggarai baru saat ini megah dan indah, namun apabila tidak didukung oleh sistem aksesblilitas menuju stasiun, nampaknya sulit seperti harapan,” katanya.

Lanjutkan Membaca ↓