Dalam 5 Tahun, Kapasitas Listrik Indonesia Meningkat 19 Ribu MW

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 09 Okt 2019, 14:09 WIB
(Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat dalam lima tahun Pemerintah ‎Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meningkatkan 40 persen pasokan listrik nasional. Jumlah tersebut akan bertambah seiring beroperasinya pembangkit listrik program kelistrikan 35 ribu Mega Watt (MW).

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan, pada 2014 kapasitas listrik terpasang Indonesia mencapai 50 ribu Mega Watt (MW) atau 50 Giga Watt (GW), saat ini sudah mencapai 66 GW dan sampai akhir 2019 sekitar 69 GW, dengan begitu dalam lima tahun kapasitas listrik Indonesia bertambah 19 ribu MW setara dengan19 GW.

"Saya ucapkan terima kasih ke stakeholder, IPP dan PLN tambahnya 40 persen dalam 5 tahun," saat menghadiri perayaan hari listrik nasional, di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Rabu (9/10/2019).

Jonan melanjutkan, pasokan listrik akan terus bertambah seiring dengan beroperasinya Pembangkit bagian dari program kelistrikan 35 ribu MW, diperkirakan sampai 2024 ‎selesainya program tersebut kapasitas listrik bertambah menjadi 93 GW.

"Meneruskan program 35 ribu MW yang belum selesai karena masih konstruksi kalau demand tinggi bisa mencapai 100 GW," tuturnya.

Menurut Jonan, kapasitas listrik terpasang Indonesia masih lebih rendah dibanding Tiongkok sebesar 1.131 GW atau 15 kali lebih besar dibanding Indonesia padahal jumlah penduduknya hanya 4 kali lebih banyak dari Indonesia.

Jonan melanjutkan, dari 1.131 GW kapasitas listrik Tiongkok, 300 GW berasal dari pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT), dia pun menginginkan kapasitas pembangkit berbasis EBT Indonesia terus ditingkatkan untuk mengurangi penggunaan energi fosil.

"Ini harapannya, mulai sekarang saya sangat berharap rekan-rekan di PLN untuk terbuka sama EBT. Jadi nggak cuman certain mind it aja. Ini kan jangka panjang," tandasnya.

2 of 3

360.429 Keluarga Gunakan Listrik dari LTSHE hingga Akhir 2019

Petugas PLN memasang listrik di rumah warga di Desa Parauto, Nabire, Papua. (Vina A. Muliana/Liputan6.com)
Petugas PLN memasang listrik di rumah warga di Desa Parauto, Nabire, Papua Barat. (Vina A. Muliana/Liputan6.com)Petugas PLN memasang listrik di rumah warga di Desa Parauto, Nabire, Papua. (Vina A. Muliana/Liputan6.com)

Pemerintah terus meningkatkan akses listrik bagi seluruh rakyat Indonesia. Di antaranya dengan memasang Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE).

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, hingga Juli 2019, rasio elektrifikasi nasional sudah mencapai 98,81 persen. Ini terdiri dari listrik PLN 94,97 persen, nonPLN 3,47 persen dan sisanya dari  0,37 persen dari LTSHE.

"LTSHE merupakan program terobosan Pemerintah dalam menerangi masyarakat yang belum mendapatkan akses listrik khususnya pada desa-desa yang masih gelap gulita dan termasuk dalam daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal), yang jumlahnya mencapai sekitar dua ribu desa di seluruh Indonesia," kata Agung, dalam situs resmi Kementerian ESDM, di Jakarta, Sabtu (5/10/2019)..

Agung mengungkapkan, sampai akhir 2019 nanti ditargetkan akan terpasang 107.877 unit LTSHE baru di 22 provinsi di Indonesia, di antaranya Nusa Tenggara Timur dan Papua menjadi penerima terbanyak.

Dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia, rasio elektrifikasi kedua provinsi tersebut adalah yang terendah, Nusa Tenggara Timur masih 72 persen dan Papua 94 persen. 

"Dengan tambahan pemasangan di tahun 2019, maka total dari 2017-2019 akan terpasang 360.429 unit LTSHE di seluruh Indonesia," ujarnya.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓