Aksi Massa di Papua Tak Ganggu Aktivitas Freeport

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 08 Okt 2019, 15:24 WIB
Tambang Grasberg PT Freeport Indonesia. Foto: Liputan6.com/Ilyas Istianur P

Liputan6.com, Jakarta - Aksi massa di Papua yang berujung pada kerusuhan beberapa waktu lalu sempat mengganggu aktivitas masyarakat. Apakah aksi massa tersebut juga mengganggu operasional pertambangan PT Freeport Indonesia?

Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot mengatakan, kegiatan operasional pertambangan Freeport di Papua masih berjalan normal, atau tidak terganggu walau terjadi aksi massa di wilayah tersebut.

"Masih normal (Kegiatan pertambangan Freeport)," kata Bambang, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (8/10/2019).

Pengamanan di lokasi pertambangan tidak ditingkatkan, masih sama ketika kondisi keamanan dalam Keadaan normal. "Itu kan (pengamanan tambang Freeport) rutin biasa selalu," ujarnya

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan, dampak kerusuhan di Papua tidak terlalu besar terhadap ekonomi nasional. Sebab, selama ini share ekonomi Papua masih kecil.

"Dari aspek ekonomi karena share ekonomi papua terhadap ekonomi nasional relatif kecil maka dampaknya tidak besar," ujar Iskandar melalui pesan singkat di Jakarta, Kamis (26/9/2019).

 

2 of 2

Sektor yang Terganggu

Kerusuhan Pecah di Manokwari
Massa turun ke jalan dalam unjuk rasa yang berujung kerusuhan di kota Manokwari, Papua, Senin (19/8/2019). Aksi masyarakat Papua ini merupakan buntut dari kemarahan mereka atas peristiwa yang dialami mahasiswa asal Papua di Surabaya dan Malang, serta Semarang beberapa hari lalu. (STR / AFP)

Sektor yang terganggu dengan adanya aksi demonstrasi berulang tersebut adalah sektor perdagangan. Sementara sektor lain seperti pertambangan tidak terpengaruh besar sebab pertambangan lebih terpengaruh sistem operasional penambangannya.

"Pertambangan kan tetap jalan dan tidak terpengaruh. Memang pada triwulan II 2014 mengalami kontraksi akibat pengalihan pertambangan terbuka ke bawah tanah, tapi bukan karena kerusuhan. Dampak kerusuhan lebih berpengaruh terhadap sektor perdagangan di Papua pada triwulan III tahun ini," jelasnya.

Pemerintah, kata Iskandar terus mengantisipasi dampak kerusuhan untuk jangka panjang. Dia berharap kerusuhan segera berakhir agar perdagangan segera pulih. "Di Papua saja ya. Yang terpenting menjaga keamanan seperti telah dilakukan," tandasnya.

Lanjutkan Membaca ↓