PLN Targetkan Rasio Elektrifikasi Papua Capai 99,9 Persen di 2020

Oleh Septian Deny pada 08 Okt 2019, 13:15 WIB
Diperbarui 08 Okt 2019, 14:16 WIB
Papua

Liputan6.com, Jakarta - Beragam strategi telah disiapkan PT PLN (Persero) untuk meningkatkan rasio elektrifikasi (RE) khususnya Papua, karena di Papua Barat rasioelektrifikasinya lebih tinggi dari Papua.

“Sebagai bagian dari NKRI, wilayah Papua juga harus terang. Dengan demikian jika nanti Papua sudah seluruhnya terang, maka berarti program Papua Terang di 2018 sudah mengacu untuk menjadikan Indonesia Terang” kata Executive Vice President Pengembangan Regional Maluku-Papua PT PLN, Eman Prijono Wasito Adi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (8/10/2019).

Menurut dia, agar wilayah Papua bisa mengejar ketertinggalan dari provinsi lainnya dalam hal tingkat elektrifikasi, diperlukan programpercepatan penerangan di wilayah tersebut.

“Untuk menjadikan tahun 2020 Rasio Desa Berlistrik (RDB) di Papua menjadi 100 persen, PT PLN telah merencanakan lebih dari 899 desa dengan jumlah rumah yang akan dilistriki sekitar 63.930, di Papua dan Papua Barat,” papar Eman.

Dia juga menjelaskan kalau hingga saat ini di Papua dan Papua Baratsudah ada 111 sistem kelistrikan yang terdiri dari 16 sistem kelistrikanbesar (di atas 2 MW) dan 95 sistem kelistrikan kecil untuk yangkapasitasnya di bawah 2 MW. Dengan sistem kelistrikan itu, di Papua dan Papua Barat sudah terdapatdaya mampu sebanyak 327,65 MW sedangkan beban puncaknya hanyasekitar 280,88 MW.

Sedangkan tingkat rasio elektrifikasi PLN sampai dengan Agustus 2019 di kedua provinsi itu kini mencapai 57,93 persen yang berasal dari tingkatelektrifikasi di Papua sebanyak 48,3 persen dan Papua Barat 91,50 persen. PLN berencana pada 2020 Rasio Elektrifikasi di Provinsi Papua dan Papua Barat sudah 99,9 persen.

Sementara saat ini Rasio Elektrifikasi PLN atau tingkat pemasangan listrik di Indonesia, per September 2019 sudah mencapai 98,86 persen. Upaya meningkatkan rasio elektrifikasi di Papua, diakui Eman masihterhambat oleh masalah geografis berupa lokasi desa yang berjauhandan minimnya jalur tranportasi darat dan laut.

Agar bisa mencapai rasio elektrifikasi lebih tinggi lagi, Emanmenjelaskan kalau PLN tidak bisa berjalan sendirian. Itu sebabnya kamijuga bekerja sama dengan sejumlah instansi lainnya yakni KementerianESDM, termasuk juga dalam bentuk CSR baik dari perusahaan dan jugapartisipasi dari pemerintah daerah.

“Berdasarkan survei yang dilakukan melalui program EPT thun 2018,ada salah satu perangkat dalam rangka pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang ditawarkan, yakni Tabung Listrik (Talis), alat penyimpanan energi (energy storage) yang juga berfungsi seperti powerbank, digunakan untuk melistriki rumah,” ucap Eman.

 

2 dari 4 halaman

Tabung Listrik

Petugas PLN memasang listrik di rumah warga di Desa Parauto, Nabire, Papua. (Vina A. Muliana/Liputan6.com)
Petugas PLN memasang listrik di rumah warga di Desa Parauto, Nabire, Papua Barat. (Vina A. Muliana/Liputan6.com)Petugas PLN memasang listrik di rumah warga di Desa Parauto, Nabire, Papua. (Vina A. Muliana/Liputan6.com)

Selain menggunakan potensi sumber pembangkit listrik yang ada didesa, PLN juga telah menyiapkan program penggunaan aliran listrikmelalui tabung listrik (Talis). Tabung listrik ini merupakan hasil kerja sama PLN dengan Universitas Indonesia (UI).

Adapun fungsi dari Talis itu adalah menyimpan daya listrik yangnantinya bisa digunakan masyarakat untuk menerangi rumah ataudesanya. Sebuah tabung listrik yang berbobot sekitar 5 kilogram, bisamenampung daya listrik sebesar 300 watt hour (Wh) hingga 1.000 Wh.

Penggunaannya pun cukup mudah, pemilik hanya tinggal memilihsistem AC atau DC dan tinggal dihubungan dengan kabel lampu.Sedangkan jika jika daya listriknya sudah habis, pemilik bisa men-chargenya di PLTS, mikrohidro, pikkohidro, PLTA ataupun pembangkitlistrik biomassa. “Talis lebih hemat dan mudah digunakan,” kata Eman.

Dengan menggunakan Talis, masyarakat bisa berhemat dalampemasangan jaringan listrik karena biaya pembelian dan pemasangan

listrik dengan menggunakan Talis hanya sekitar Rp 3,5 juta.Sedangkan jika menggunakan jalur konvensional, tarifnya biasa lebihdari Rp 4 juta.

3 dari 4 halaman

Kondisi Papua

Papua
Perawatan kincir air di Kampung Kriku yang membuat adanya energi terbarukan untuk sumber listrik. (Liputan6.com/Katharina Janur)

Salah seorang voluntir PLN dalam survei yang dilakukan ke desa-desadi Papua dalam Program EPT tahun 2018, Iqra Hardianto Nur Ichsan,mengaku beruntung diikutsertakan dalam tim survei PLN karena bisamengetahui kondisi di Papua yang sebenarnya.

“Selama ini saya hanya memperkirakan saja, tetapi setelah melihatkondisi yang sebenarnya, saya jadi paham akan yang terjadi di Papua,” ujar dia.

Setelah melihat kondisi yang sebenarnya, Iqra memahami mengapalistrik di Papua belum bisa menyala secara maksimal di seluruh wilayah tersebut.

“Banyak kendala dan tantangan yang dihadapi dalamupaya memberikan fasilitas listrik bagi masyarakat di sana,” papar Iqra.

Dia mencontohkan kondisi wilayah Papua yang masih banyak sulitdijangkau dengan transportasi darat.

“Kebanyakan harus menggunakanjalur udara untuk menjangkau desa-desa di sana,” ucapnya.

Walaupun medannya berat, namun dia memberikan apresiasi terhadap PLN yang tetap berusaha memenuhi tanggungjawabnya dalam menerangi seluruh wilayah Indonesia.

Iqra sendiri bersama anggota tim yang berasal dari internal PLN danvoluntir lainnya, telah melakukan survei di sejumlah desa dan memberikan rekomendasi mengenai potensi sumber utama pembangkitlistriknya.

“Melalui survei, kami merekomendasikan sumber energi yang layak bagisebuah desa, apakah menggunakan mikrohidro, pikkohidro, biomassa atau tenaga angin,” jelasnya.

Selain program listrik, Iqra melihat hal lain yang sangat dibutuhkan dalam membangun wilayah Papua adalah jaringan transportasi.

“Jika jaringan transportasi bisa terbangun, maka program lainnya bisadilaksanakan dengan mudah,” jelasnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓