Mendag: Pariwisata Jadi Andalan Indonesia Hadapi Perang Dagang

Oleh Bawono Yadika pada 04 Okt 2019, 10:30 WIB
Diperbarui 04 Okt 2019, 11:17 WIB
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita memaparkan kondisi perekonomian dunia yang kini tumbuh melambat.

Selain perang dagang AS-Cina, perekonomian global kini semakin diperparah dengan babak perang dagang baru antara AS-Uni Eropa.

"Dunia kita mengalami capital dry market, ini kering di pasar uang global. Ditambah lagi AS-Uni Eropa yang akan mengenakan tarif yang berdampak pada ekspor Indonesia," tuturnya di Batu, Jawa Timur, Jumat (4/10/2019).

Lebih lanjut Mendagmenjelaskan, pengenaan tarif yang diberlakukan Presiden Trump ke Uni Eropa akan mempengaruhi daya beli masyarakat Eropa. Ini secara langsung berdampak pada kebutuhan mereka akan produk-produk RI.

"Sebab itu langkah lainnya, pemerintah meminta pariwisata ini jadi penerimaan devisa terbesar negara," ujarnya.

Oleh karena itu, menurut Enggar, perang dagang dapat dimanfaatkan suatu negara untuk memperburuk ekonomi global.

"Begitu masalah finansial baik secara alamiah atau malah dijadikan senjata, maka perang dagang hanya akan mempercepat proses world crisis untuk lebih parah," tegas Mendag.

2 dari 3 halaman

Mendag Undang Perusahaan Internasional Relokasi Pabrik ke Indonesia

Gaya Mendag Enggartiasto Lukita Saat Pemotretan
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat pemotretan dalam kunjungannya ke Kantor Liputan6 di SCTV Tower, Jakarta (4/5). Enggartiasto menjabat sebagai Menteri Perdagangan sejak 27 Juli 2016. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan Indonesia perkembangan ekonomi dunia memberikan tekanan cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh sebab itu, pemerintah mencari cara jalan agar Indonesia tidak terdampak.

Menurut Enggartiasto, Indonesia tengah menghadapi masa sulit karena tekanan dari faktor eksternal. Saat ini tengah terjadi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China, perang dagang Jepang dengan Korea, dan juga keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau yang biasa disebut Brexit. 

Meskipun Indonesia tengah menghadapi banyak tantangan dari luar negeri, pemerintah tidak boleh dijadikan alasan untuk berdiam diri.

"Seperti yang tadi saya gambarkan kondisi ini tidak mudah, memang. Itu fakta. Kapan akan berakhir juga kita tidak tahu. Tapi kita tidak boleh berdiam diri. Pak Presiden (Joko Widodo) menyampaikan kita harus melihat dari sisi opportunity. Apa saja kita ambil," ungkapnya di Jakarta, Senin (19/08/2019).

Enggartiasto kemudian menitikberatkan soal relokasi industri. Indonesia harus bisa menangkap semua peluang relokasi industri agar perusahaan-perusahaan multinasional mau membangun pabrik di Indonesia. Pemerintah berjanji memberikan berbagai insentif dan mempermudah perizinan agar banyak perusahaan yang datang.

"Makanya kita harus itu (menarik agar perusahaan di berbagai negara merelokasi pabrik ke Indonesia), karena kalau tanpa itu, tidak mungkin ada penambahan ekspor, market share bisa menurun," tambahnya.

Sejauh ini China, Kanada dan Chile menjadi negara yang paling terdampak perang dagang AS dengan China. Ketiga negara tersebut kehilangan impor hingga USD 20 miliar. Untuk pabrik di AS, mereka mengalihkan produksi ke Meksiko, Korea Selatan, dan Vietnam.

Oleh karena itu, Indonesia harus memanfaatkan peluang ini sebaik-baiknya, apalagi ekonomi Indonesia sendiri diproyeksikan jadi nomor 4 atau 5 dunia tahun 2040 mendatang.  

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓