Investor Lepas Saham, IHSG Ditutup Melemah ke 6.169,10

Oleh Arthur Gideon pada 30 Sep 2019, 16:15 WIB
Diperbarui 30 Sep 2019, 17:16 WIB
Pembukaan-Saham

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan di awal pekan ini. Sepanjang hari, IHSG terus berada di zona merah.

Pada penutupan perdagangan saham Senin (30/9/2019), IHSG ditutup melemah 27,78 poin atau 0,45 persen ke level 6.169,10. Sementara itu, indeks saham LQ45 juga turun 0,44 persen ke posisi 968,14.

Sebanyak 258 saham melemah sehingga mendorong IHSG ke zona merah. Sementara 165 saham menguat dan 115 saham diam di tempat.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 449.618 kali dengan volume perdagangan 19,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 8,6 triliun.

Investor asing jual saham Rp 91 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.195.

Dari 10 sektor pembentuk IHSG, sebagian besar berada di zona merah. Pelemahan dipimpin sektor pertambangan yang tertekan 1,15 persen. Disusul oleh sektor keuangan yang turun 0,88 persen dan sektor barang konsumsi yang turun 0,45 persen.

Saham-saham yang menguat antara lain OPMS naik 25 persen ke Rp 410 per saham, ARTO naik 24,71 persen ke Rp 1.085 per saham dan CMNP naik 24,54 persen ke Rp 2.030 per saham.

Sementara saham-saham yang melemah sehingga membuat IHSG melaju di jalur merah antara lain SMMA yang turun 19,45 persen ke Rp 8.800 per saham, NICK turun 17,54 persen ke Rp 282 per saham dan SAPX turun 17,41 persen ke Rp 830 per saham.

2 of 3

Tak Sesuai Prediksi

IHSG
Pekerja beraktivitas di BEI, Jakarta, Selasa (4/4). Sebelumnya, Indeks harga saham gabungan (IHSG) menembus level 5.600 pada penutupan perdagangan pertama bulan ini, Senin (3/4/2017). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Realisasi gerak IHSG pada hari ini tidak sesuai dengan prediksi para analis. Sebelumnya, analis memperkirakan IHSG akan bergerak fluktuatif (mixed) dengan potensi positif di pasar saham.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, pasar nampaknya akan fokus kembali pada negosiasi perang dagang antara AS-China.

Kata dia, pasar kini tengah menanti hasil pertemuan awal para negosiator kedua negara tersebut yang sudah dimulai dari Kamis pekan lalu. 

"Pertemuan awal ini akan memberi gambaran perkembangan negosiasi dagang antara AS-China kedepannya," tutur dia dalam risetnya di Jakarta, Senin (30/9/2019).

Selain perang dagang, kinerja indeks menurutnya juga dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi global yang ditandai pelonggaran moneter di sejumlah bank sentral dari negara lain.

"Data ekonomi dari beberapa negara yang keluar minggu lalu menunjukan data yang bercampur. Pasar mulai mempertimbangkan ekonomi dunia melihat banyaknya pelonggaran kebijakan moneter oleh beberapa bank sentral," ujarnya.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by