Komoditas Olahan Pertanian RI Tembus Pasar AS hingga Timur Tengah

Oleh Pramita Tristiawati pada 27 Sep 2019, 17:14 WIB
Proses ekspor komoditas olahan pertanian. Liputan6.com/Pramita

Liputan6.com, Jakarta Produk olahan pertanian Indonesia mampu menembus Amerika dan berbagai negara Timur Tengah. Tercatat, pada semester akhir di 2019, Indonesia mengekspor beberapa komoditi olahan pertanian senilai lebih dari Rp 14,5 miliar, melalui Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Kepala Badan Balai Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) Ali Jamil mencontohkan, ekspor dari komoditas kokoa atau coklat. Melalui PT Bumitangerang Mesindotama atau BT Cocoa, telah diekspor 197.5 ton kakao atau senilai Rp 9,57 miliar.

"Tujuannya bukan di Asia, melainkan sudah menembus pasar Brazil, Amerika Serikat dan Pakistan," ujarnya di Tangerang, Jumat (27/9/2019)

Adapula, komoditas karet lembaran dengan tujuan pasar ekspor Latvia. Ekspor dilakukan PT Silva Inhutani Lampung, dengan volume sebanyak 60.48 ton senilai Rp 1,27 miliar. Ada pula ekspor minyak kelapa senilai Rp 421,3 juta ke Cina.

Sementara untuk komoditi hewan, produk yang diekspor adalah duck down jacket senilai Rp 1,35 miliar. Dengan tujuan Selandia Baru dan Australia.

Ada pula produk olahan susu seperti keju dan susu UHT senilai Rp 1,56 miliar. Produk ini diekspor ke negara tetangga, Malaysia dan Filipina.

"Jadi, semua ekspor yang dilakukan tidak ada bahan mentah, melainkan bahan setengah jadi. Seperti cocoa itu sudah berbentuk powder atau bubuk, juga ada butter-nya," jelas Ali Jamil.

 

2 of 2

Ekspor Meningkat

Menurutnya, untuk periode September ini, total nilai ekspor komoditi pertanian dan hewan mencapai sebesar Rp 14,5 miliar, dengan volume ekspor sebanyak 329,5 ton.

"Seluruh komoditi tersebut telah dijamin kesehatan dan keamananya oleh UPT Balai Besar Karantina Pertanian Tanjongpriok," kata Ali Jamil.

Ali Jamil mengungkapkan terjadinya peningkatan ekspor dari hasil olahan pertanian. Secara volume ekspor, terjadi peningkatan sebanyak 9 ton pada tahun ini bila dibanding tahun sebelumnya.

"Tahun lalu ekspor bisa mencapai 42 juta ton, tahun ini targetnya 45 juta ton.  Begitu juga dengan nilainya ditargetkan melebihi Rp 1,9 triliun," ujar Ali Jamil.

Untuk itu, dia menerapkan sistem jemput bola. Dengan memberi kesempatan yang sama juga untuk petani kecil di berbagai daerah di Indonesia. Juga untuk para milenial yang ingin mencoba industri ekspor pertanian serta hewan

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by