Wanita Lamar Pria, Tabu Enggak Sih?

Oleh Fitriana Monica Sari pada 30 Sep 2019, 05:30 WIB
Apa Tanggapan Pria Jika Dilamar Wanita?

Liputan6.com, Jakarta - Anda pernah bertanya-tanya apakah wanita melamar pria itu tabu? Mengingat umumnya memang prialah yang biasanya melamar seorang wanita untuk dijadikan pendamping hidup.

Wilayah yang membentang dari Sabang hingga Merauke menjadikan Indonesia sebagai negara multi etnis. Keberagaman budaya, banyaknya bahasa daerah, suku, serta adanya berbagai adat istiadat juga tradisi merupakan ciri khas yang melekat pada Indonesia.

Setiap tradisi memiliki keunikan masing-masing, contohnya tradisi lamaran pernikahan. Lamaran pernikahan merupakan salah satu rangkaian tradisi yang dilakukan sebelum menikah.

Biasanya lamaran dilakukan oleh pihak laki-laki. Laki-Laki biasanya membawa keluarganya akan mendatangi rumah calon istri untuk meminta kesediaan dan kerelaan keluarga untuk menjadikan putrinya sebagai istri.

Tradisi lamaran tesebut sudah menjadi tradisi umum yang dilakukan. Tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri. Tradisi itu seakan menjadi hal yang lumrah dilakukan.

Namun, tradisi tersebut tidak berlaku di beberapa wilayah berikut ini. Wilayah-wilayah berikut ini memiliki tradisi yang berbeda yaitu lamaran dilakukan oleh pihak perempuan.

Tradisi ini tidak termasuk sebagai salah satu cara untuk merendahkan kaum wanita, tetapi tradisi yang pastinya mengandung kebaikan, serta memiliki latar belakang sejarah bahkan filosofi tersendiri.

Apakah masih menganggap wanita melamar pria itu hal tabu? Berikut contoh-contoh beberapa daerah di Indonesia yang memberlakukan prialah yang dilamar wanita, seperti dikutip dari Cermati.com.

 

 

2 of 5

1. Tradisi Wanita Melamar Pria di Minangkabau, Sumatera Barat

[Bintang]  Mario Irwinyah dan Ratu Anindita
Dalam pernikahan ini Mario dan Anindita mengenakan busana adat Minangkabau. (Via Instagram/@anandita_dita)

Minangkabau menjadi salah satu daerah yang menerapkan tradisi perempuan melamar laki-laki. Tradisi ini dikenal dengan sebutan maminang.

Tradisi ini sesuai dengan budaya masyarakat yang menganut sistem matrilineal, di mana garis keturunan didasarkan pada ibu. Pihak wanita akan akan datang ke rumah pihak laki-laki dengan membawa seserahan lengkap beserta cincin emas.

Tidak hanya itu, pihak perempuan juga memberikan sejumlah uang (uang japuik) kepada pihak laki-laki. Selain dari tradisi, hal ini dilakukan untuk menghargai dan menghormati pihak laki-laki.

Kenapa demikian? Dalam masyarakat Minangkabau, anak laki-laki dijadikan sebagai tumpuan dalam keluarganya, ketika sudah menikah otomatis anak laki-laki tersebut akan berubah menjadi tumpuan dalam keluarga perempuan.

3 of 5

2. Adat Istiadat Pria Dilamar Wanita di Tulungagung, Jawa Timur

pernikahan
ilustrasi menikah/Photo by wendel moretti from Pexels

Jika tradisi meminang di Minangkabau disesuaikan dengan kultur masyarakatnya, maka di Tulungagung ini tradisi melamar dikaitkan dengan cerita masyarakat dan juga agama.

Ada yang mengatakan bahwa tradisi ini terinspirasi dari kisah 'Ande-Ande Lumut'. Cerita yang mengisahkan tentang Klenting Kuning bersaudara yang mendatangi Ande-Ande Lumut dan meminta untuk dinikahi.

Ada pula yang mengatakan jika tradisi ini merupakan warisan budaya dari zaman dahulu yang terpengaruh oleh agama Hindu yang berasal dari India. Tidak ada perempuan yang ditolak dalam tradisi ini.

Karena sebelum melakukan lamaran, orangtua perempuan akan memanggil laki-laki secara pribadi apakah benar-benar bersedia dan mantap untuk membangun rumah tangga bersama putrinya. Jika laki-laki mengiyakan maka pihak perempuan akan melaksanakan prosesi lamaran.

4 of 5

3. Tradisi Wanita Melamar Pria di Lamongan, Jawa Timur

Ilustrasi Pernikahan
Ilustrasi Pernikahan (iStockPhoto)

Tradisi ini biasa digunakan oleh beberapa wilayah Lamongan dan pesisir pantai utara. Tradisi ini dipercaya berasal dari sejarah Tumenggung Lamongan yang memiliki putra kembar yang tampan.

Akibat ketampanannya putra kembar tersebut dipersunting oleh putri kembar dari Kerajaan Kediri. Dari sejarah itulah, akhirnya tradisi ini menjadi budaya dan dipercaya oleh sebagian besar masyarakat Lamongan.

Sama seperti lamaran pada umumnya. Pihak perempuan akan mendatangi rumah laki-laki untuk menanyakan kesediaan calon mempelai laki-laki dalam membangun rumah tangga bersama.

Kedatangan pihak perempuan juga diiringi dengan seserahan untuk calon pengantin laki-laki. Adapun isi seserahan disesuaikan dengan kondisi ekonomi.

Selanjutnya, pihak laki-laki akan mendatangi pihak perempuan untuk memberikan jawaban. Bahkan jika dirasa terlalu lama menunggu jawaban, pihak perempuan tidak segan untuk mengirim utusan kepada pihak laki-laki untuk meminta jawaban.

5 of 5

4. Adat Istiadat Wanita Melamar Pria di Rembang, Jawa Tengah

adat menikah pasangan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Ngemblok merupakan tradisi lamaran yang ada di Rembang. Khususnya masyarakat yang tinggal di daerah pesisir timur Rembang.

Tradisi ini diartikan pula sebagai penghormatan untuk kaum laki-laki. Laki-laki di pesisir pantai Rembang umumnya adalah sosok yang tangguh, pekerja keras dan memiliki rasa tanggungjawab yang besar terhadap keluarga.

Mereka berani mepertaruhkan nyawa menjadi nelayan menghadapi terjangan angin dan ombak untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Prosesi lamaran diawali dengan kedatangan pihak perempuan dengan membawa seserahan berupa sandang dan pangan.

Tradisi ini dipercaya telah ada sejak jaman dahulu, bahkan sebelum agama Islam masuk. Namun, sekarang tradisi ini tetap dilakukan dengan menambahkan syariat Islam didalamnya, yaitu pihak laki-laki tetap memberikan mahar yang pantas kepada pihak perempuan.

Niat dan Komitmen dalam Pernikahan Lebih Utama

Di manapun wilayahnya, pasti memiliki budaya dan tradisi yang berbeda. Seperti kata pepatah ‘lain ladang lain belalang, lain lubuk lain juga ikannya’. Sama halnya seperti tradisi lamaran sudah tentu akan berbeda-beda di tiap daerahnya. Meskipun secara umum lamaran dilakukan oleh pihak laki-laki, tetapi ada juga lamaran yang dilakukan oleh pihak perempuan.

Tetapi tradisi lamaran bukanlah hal yang paling mendasar dalam menjalani sebuah pernikahan. dalam pernikahan, niat dan komitmenlah yang diutamakan. Niat membangun rumah tangga sebagai jalan ibadah, serta komitmen untuk tetap setia pada sumpah yang telah dilakukan ketika menikah.

Lanjutkan Membaca ↓