Indonesia Tawarkan Investasi Maritim ke Belanda

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 24 Sep 2019, 11:15 WIB
Hari Kemerdekaan RI ke 72

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Indonesia dan Kerajaan Belanda terus meningkatkan kerjasama antar kedua negara melalui peluang perdagangan dan investasi dalam sektor maritim guna mendukung peningkatan perekonomian Indonesia.

Demikian yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Laut yang diwakili oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Arif Toha saat memenuhi undangan Kamar Dagang dan Industri Indonesia di acara Indonesia – The Netherlands Business And Investment Forum On Infrastructure And Maritime hari ini, Senin (23/9) di Rotterdam, Belanda.

Toha menjelaskan Indonesia sebagai negara maritim menjadi lokasi strategis dalam rute perdagangan dunia mengingat 90 persen perdagangan internasional melalui jalur laut dan sebagian besar melewati wilayah perairan Indonesia.

Saat ini pelayanan transportasi laut domestik masih terpusat pada wilayah yang memiliki aktifitas ekonomi tinggi yaitu di wilayah barat Indonesia.

Untuk itu, diperlukan upaya pengembangan kawasan pertumbuhan ekonomi di wilayah timur Indonesia dengan didukung pelayanan transportasi laut sebagai tulang punggung distribusi logistik yang menghubungkan wilayah barat dan timur Indonesia. Dengan begitu, mampu menurunkan biaya logistik guna mempercepat pemerataan perekonomian.

Pada tahun 2018, Indeks Performa Logistik atau Logistics Performance Index (LPI) Indonesia menempati posisi 46 dengan skor 3,15. Posisi ini naik dari peringkat sebelumnya pada tahun 2016, yaitu posisi ke-63 dengan skor 2,98.

"Peningkatan tersebut sejalan dengan peningkatan kualitas infrastruktur Indonesia yang juga mengalami kenaikan. Dengan kata lain, pembangunan infrastruktur yang gencar dilakukan selama kurun waktu empat tahun terakhir, terbukti memberikan dampak yang positif," ujar Arif dalam keterangannya, Selasa (24/9/2019).

"Karena dengan dibangunnya infrastruktur yang handal, merupakan kunci utama dalam meningkatkan daya saing Indonesia, yang diyakini mampu mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB)," tambahnya. 

 

2 of 4

Kontribusi Sektor Maritim Perlu Ditingkatkan

20161025-Bea-Cukai-Kembangkan-ISRM-untuk-Pangkas-Dwelling-Time-Jakarta-IA
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (25/10). Kebijakan ISRM diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pelayanan dan efektifitas pengawasan dalam proses ekspor-impor. (Liputan6.com/Immaniel Antonius)

Namun di sisi lain, sebagai negara maritim terbesar yang 2/3 luas wilayahnya terdiri dari laut, kontribusi sektor maritim terhadap perekonomian Indonesia masih perlu terus ditingkatkan.

Menurut data BPS 2018, kontribusi sektor kelautan terhadap PDB nasional masih berada di bawah 15 persen, atau hanya sekitar 13,32 persen. Kecilnya kontribusi maritim mengindikasikan bahwa Indonesia masih dapat mengeksplorasi lebih jauh potensi maritimnya.

Pemerintah Indonesia terus melakukan berbagai langkah konkrit, untuk meningkatkan perekonomian nasional melalui transportasi laut. Hal ini dapat terlihat dengan adanya peningkatan volume ekspor dan impor barang dalam kurun waktu 4 tahun terakhir yang melalui 4 (empat) Pelabuhan Utama, yaitu Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Belawan dan Pelabuhan Makassar.

Tentunya hal itu dilakukan dengan didukung oleh kebijakan yang menunjang kemudahan dalam berinvestasi, antara lain deregulasi perizinan dan implementasi Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik atau Online Single Submission (OSS).

"Dengan demikian, Indonesia menawarkan peluang berbisnis dan berinvestasi ditengah iklim politik yang stabil, keamanan negara yang semakin baik. Untuk itu, para pengusaha di Belanda didorong untuk berinvestasi di Indonesia khususnya di bidang Infrastruktur dan maritim," tutup Arif.

3 of 4

Proyek Pengembangan Pelabuhan Benoa Dukung Konektivitas Tol Laut

Menteri BUMN Rini Soemarno meninjau proyek reklamasi Pelabuhan Benoa
Menteri BUMN Rini Soemarno meninjau proyek reklamasi Pelabuhan Benoa

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini M. Soemarno meninjau proyek pengembangan Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali yang digagas oleh PT Pelabuhan Indonesia III (Persero). Para pemimpin adat setuju dengan pengembangan proyek tersebut.

Menurutnya, proyek pengembangan Pelabuhan Benoa harus bermanfaat untuk warga sekitar dan sudah menjadi fokus pemerintah dalam meningkatkan konektivitas dalam mendukung industri logistik Indonesia.

"Pembangunan proyek ini harus bisa bermanfaat untuk kepentingan nasional. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab BUMN dalam mendukung program tol laut," ujar Menteri Rini yang dikutip dari keterangan tertulis Rabu (11/9/2019).

Rini menegaskan dengan adanya pembangunan pelabuhan, akan meningkatkan pariwisata Pulau Bali. Demi mendukung pariwisata, Pelindo melakukan pengerukan dan pendalaman alur atau low water spring. Agar kapal pesiar dapat bersandar lebih banyak lagi dan dapat mendatangkan wisatawan luar negeri.

Rini meminta masyarakat adat Pulau Bali ikut menjadi pengawas proyek pengembangan tersebut. Sehingga budaya dan adar istiadat tetap terjaga. Para nelayan pun akan lebih mudah melaut dengan pengerukan kanal dalam proyek Pelabuhan Benoa ini.

Pelindo juga meningkatkan kapasitas gedung terminal penumpang yang mulanya berkapasitas 900 orang, menjadi 3.500 orang dalam bangunan seluas 5.600 meter persegi. Rencana penyelesaian bangunan akan selesai semester II 2019.

Area berputar kapal juga diperlebar sehingga kapal dengan radius putar lebih panjang, akan menjadi lebih aman. Dari 300 meter menjadi 420 meter. Rini berharap Pelabuhan Benoa bisa menjadi home port cruise. Tentunya akan berdampak positif bagi perekonomian di Bali.

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓