Kabut Asap Turunkan Okupansi Hotel di Riau

Oleh Liputan6.com pada 22 Sep 2019, 13:00 WIB
Diperbarui 22 Sep 2019, 23:15 WIB
Padamkan Karhutla

Liputan6.com, Jakarta Kabut asal yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebabkan penurunan tingkat keterisian hotel atau okupansi di Riau. Kejadian hampir selama sebulan ini menyebabkan penurunan sebesar 25 persen.

"Dampaknya penuruan okupasi 20 persen sampai 25 persen. Orang ke Pekanbaru kan pasti berkurang orang lebih banyak aktivitas di rumah. Secara global semua sektor terpengaruh asap," kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Riau, Nofrizal saat dihubungi Merdeka.com, Minggu (22/9/2019).

Kendati begitu, secara kerugian pihaknya masih belum bisa menghitung secara keseluruhan. Mengingat di Riau sendiri ada sekitar 500 hotel, sedangkan di daerah Pekanbaru terdapat 200 hotel.

"Belum. Tapi kalau kita hitung-hitung sendiri ada. Yang jelas ini dampaknya luar biasa tidak hanya usaha tapi juga untuk manusia," imbuh dia

Dirinya pun meminta kepada Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah untuk segera bertindak dan menangani karhutala. Apalagi, pemerintah sendiri tengah mendorong upaya dalam mendorong sektor pariwisata.

"Harapan kita kepada pemerintah baik pemerintah pusat dan daerah lebih berimpati kepada kita. Karena kita sibuk sibuk tentang pariwisata tapi ketika ada musibah seperti ini menjadi diam termasuk Kementerian Pariwisata yang punya peran penting di sini," tandasnya.

 

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

2 of 2

Titik Panas

Dampak Karhutla
Warga mendapat perawatan medis karena terpapar asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Rumah Singgah Korban Asap di Pekanbaru, Jumat (20/9/2019). Data Kemenkes sebanyak 15.346 warga di Provinsi Riau menderita ISPA akibat kabut asap karhutla dalam kurun waktu September 2019. (Wahyudi/AFP)

Seperti diketahui, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Pekanbaru mendeteksi adanya 211 titik panas di 9 kabupaten di Riau. Dari jumlah itu, 150 di antaranya merupakan titik api akibat dari kebakaran hutan dan lahan.

Staf Analisa BMKG Pekanbaru Sanya Gautami mengatakan, titik panas paling banyak di Indragiri Hilir yakni 68 titik. Kemudian disusul Indragiri Hulu 45 titik

"Pelalawan 36 titik, Rokan hilir 25 titik, Kampar 12 titik, Bengkalis 9 titik, Dumai 6 titik, Kuansing 5 titik, dan Kepulauan Meranti 5 titik," katanya kepada merdeka.com.

Sementara untuk titik api dari kebakaran hutan dan lahan yang berjumlah 150 titik itu tersebar di 8 kabupaten. BMKG mendeteksi titik api paling banyak di Indragiri Hilir yakni 47 titik.

Tonton Video Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by