Dalam 2 Hari The Fed Guyur USD 128 Miliar ke Pasar Keuangan, Ada Apa?

Oleh Arthur Gideon pada 19 Sep 2019, 08:45 WIB
The Fed

Liputan6.com, Jakarta - Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) kembali menggelontorkan dana yang cukup besar di sistem keuangan. Langkah ini dalam upaya menenangkan pelaku pasar keuangan.

Dikutip dari CNN Bussines, Kamis (19/9/2019), pada Rabu waktu setempat, the Fed New York menggelontorkan USD 75 miliar di pasar setelah sehari sebelumnya juga telah menyiram sebesar USD 53 miliar.

Suku bunga overnight untuk pinjaman antar bank di pasar keuangan AS sejak Selasa malam melonjak sehingga memaksa the Fed untuk melakukan netralisir dengan menurunkan suku bunga tersebut.

Langkah ini baru pertama kali the Fed lakukan sejak 2008 silam.

Ketua the Fed Jerome Powell mengatakan dalam konferensi pers pada hari Rabu bahwa langkah-langkah yang telah mereka lakukan sangat efektif untuk mengurangi tekanan dalam pendanaan atau likuiditas.

Namun, fakta bahwa mereka telah menggelontorkan USD 128 miliar ke dalam sistem keuangan dua hari berturut-turut menunjukkan bahwa telah terjadi sebuah kekhawatiran di sudut Wall Street.

Hal ini juga menimbulkan kekhawatiran bahwa The Fed kehilangan kendali atas suku bunga jangka pendek yang seharusnya dikendalikan oleh bank sentral.

Analis Third Seven Advisors Michael Block mengumpamakan hal ini seperti sebuah pipa air yang tengah rusak. "Namun dengan tindakan ini menunjukkan bahwa the Fed bisa segera memperbaikinya," kata dia.

Langkah yang dilakukan oleh the Fed untuk memperbaiki pipa yang rusak itu adalah dengan menggelontorkan dana di pasar keuangan untuk mengurangi tekanan dengan membeli obligasi dan surat berharga lainnya.

Bunga pinjaman overnight sempat melonjak hingga 10 persen sebelum Bank Sentral AS menggelontorkan likuiditas tersebut. Namun sesaat setelah guyuran suku nunga kembali jatuh ke bawah 3 persen, sesuai dengan target the Fed.

Powell mengakui telah terhadi tekanan yang tinggi di pasar keuangan, tetapi mennurutnya bahwa hal ini tidak akan berdampak pada ekonomi.

"Meskipun masalah ini penting untuk fungsi pasar dan pelaku pasar, tetapi keadaan ini tidak memiliki implikasi bagi ekonomi atau sikap kebijakan moneter," kata Powell.

 

2 of 3

Efek Domino

Ilustrasi The Fed
Ilustrasi The Fed
Rupiah Menguat Tipis atas Dolar
Petugas bank menghitung uang dollar AS di Jakarta, Jumat (20/10). Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) masih belum beranjak dari level Rp 13.500-an per USD. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Analis Bank of America Merrill Lynch Mark Cabana menjelaskan, kenaikan suku bunga overnight menunjukkan bahwa pasokan likuititas sangat ketat.

"Jumlah uang tunai dalam sistem perbankan terlalu terbatas," kata Cabana dalam sebuah catatan kepada klien pada hari Selasa.

Analis Seven Third Block mengatakan, tidak jelas persis mengapa terjadi kenaikan suku bunga overnight tersebut. Namun ia melihat hal tersebut kemungkinan karena penarikan di bank-bank besar, pergeseran modal asing dan pasokan Treasury AS.

"Tidak perlu banyak efek domino terjadi," kata Block.

Cabana menunjuk bahwa beberapa perusahaan AS menarik sana dengan sejumlah besar dari bank untuk melakukan pembayaran pajak triwulanan ke Departemen Keuangan AS. Itu memaksa bank untuk menguras cadangan mereka yang diparkir di The Fed.

Bank of America memperkirakan cadangan USD 100 miliar dikuras dari sistem perbankan pada hari Senin.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓