Melantai Perdana di BEI, Saham Telefast Indonesia Melonjak 50 Persen

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 17 Sep 2019, 09:45 WIB
PT Telefast Indonesia Tbk selaku anak usaha PT M Cash Integrasi Tbk resmi mencatatkan nama di Bursa Efek lndonesia (BEI).

Liputan6.com, Jakarta - PT Telefast Indonesia Tbk, anak usaha PT M Cash Integrasi Tbk, resmi mencatatkan nama di Bursa Efek lndonesia (BEI) dengan melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO). Pencatatan saham perdana tersebut dilakukan pada Selasa (18/9/2019).

Emiten dengan kode saham TFAS ini jadi perusahaan ke-35 yang tercatat di pasar modal Tanah Air sepanjang tahun ini.

Dalam perdagangan pertamanya, saham TFAS langsung menguat 50 persen dari harga perdana Rp 180 per lembar saham menjadi Rp 270 per lembar saham, atau menghijau sebesar 90 poin.

Direktur Utama PT Telefast Indonesia Tbk Jody Herdian menyampaikan, langkah perseroan memasuki pasar saham atau IPO ini sejalan dengan upaya TFAS yang hendak menyelaraskan antara kemajuan teknologi dengan adanya tuntutan menyediakan lapangan pekerjaan.

"Menjawab tantangan tersebut, kami memberikan solusi integrasi sumber daya manusia (SDM) bagi pemberi kerja dalam pengelolaan dan pengembangan tenaga kerja, serta bagi pencari kerja dalam mencari pekerjaan dengan mudah, cepat, tepat serta tanpa batasan hasil dan waktu," tuturnya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Guna mendukung visi tersebut, Jody mengabarkan, rencananya dana hasil IPO akan digunakan perseroan untuk modal kerja sebesar 70 persen, belanja modal sebesar 25 persen, dan sisa sebesar 5 persen akan diarahkan untuk investasi dalam SDM.

Adapun TFAS melepas sebanyak 416.666.500 lembar saham, atau setara dengan 25 persen dari modal disetor perseroan. Emiten juga telah menunjuk PT Kresna Sekuritas (terafiliasi) dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk sebagai penjamin pelaksana emisi saham.

2 of 3

BEI Sebut Ada Perusahaan Fintech yang Jajaki IPO

IHSG
Pekerja beraktivitas di BEI, Jakarta, Selasa (4/4). Sebelumnya, Indeks harga saham gabungan (IHSG) menembus level 5.600 pada penutupan perdagangan pertama bulan ini, Senin (3/4/2017). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Inarno Djajadi menuturkan, sudah ada perusahaan financial technology (fintech) yang sedang jajaki untuk menawarkan  saham perdana atau Initial Public Offering (IPO).

Namun, Inarno masih belum mau terbuka lebih jauh, perusahaan mana saja yang hendak mencatatkan namanya sebagai emiten baru di pasar modal.

"Terlalu dini mungkin kalau saya sebutkan. Tapi ada yang sudah menjajaki untuk melantai di bursa. Tapi belum saatnya saya bicara itu siapa saja," ungkap dia di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Selasa 23 April 2019. 

Saat ditanya kapan perusahaan yang dimaksud bakal melakukan penjajakan IPO, lagi-lagi ia belum mau menjawab lebih rinci.

"Mungkin itu butuh proses. Kalau bisa secepatnya lebih baik. Tapi memang ada beberapa kendala yang dihadapi," sebut dia.

"Salah satunya mungkin bahwasanya bentuk badan hukumnya tidak PT (Perseroan Terbatas). Persyaratan di kita untuk listing salah satunya harus PT," dia menandaskan.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓