Tumpahan Minyak Ganggu Produksi Perum Perindo

Oleh Athika Rahma pada 16 Sep 2019, 16:45 WIB
Tumpahan Minyak Pertamina Cemari Perairan Muara Gembong

Liputan6.com, Jakarta - Insiden tumpahnya minyak milik Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Karawang, Jawa Barat, berpotensi menimbulkan kerugian lingkungan dan bisnis, salah satunya Perum Perindo.

Perum Perindo yang mengelola 60 ha tambak udang di sana, mengakui terkena dampak kejadian ini.

Meski total kerugiannya belum terhitung, yang jelas, saat ini Perum Perindo sedang berupaya melakukan mitigasi agar produksi terus berjalan sesuai target.

"Jadi sekarang kami stop memasok air laut untuk tambak udang, kita pakai reservoir persediaan dan air tawar. Kita gunakan closed system," ujar Direktur Utama Perum Perindo Risyanto alias Aris di Jakarta, Senin (16/09/2019).

Aris menambahkan, tentu tambak udang yang menggunakan air laut akan lebih baik produktivitasnya, namun hal ini dilakukan demi melindungi tambak udang itu sendiri.

 

2 of 4

Apresiasi untuk Pertamina

Pencemaran di Pesisir Utara Karawang
Tumpahan limbah minyak mentah mencemari pesisir pantai utara Karawang. Akibatnya selain warna air laut berubah, bau tak sedap juga tercium di pantai Cemarajaya hingga Sedari, Kecamatan Cibuaya, Karawang. (Liputan6.com/ Abremana)

Sementara, Perum Perindo sendiri memperkirakan tiap ha tambak bisa menghasilkan 10 ton udang vaname. Artinya jika panen sukses, maka perusahaan bisa mendapatkan 600 ton udang dari 60 ha lahan.

Diakui Aris pula, Pertamina sudah melakukan langkah yang tepat dengan bergerak cepat membersihkan tumpahan minyak ini. Namun, pembersihan minyak butuh waktu bertahun-tahun sehingga Aris lebih memikirkan dampak jangka panjangnya.

"Kita lebih hati-hati ya, kita hitung dampak lingkungannya, kemudian mengurangi kapasitas per sub blok, kita hitung terus," tuturnya.

3 of 4

Perum Perindo Targetkan Ekspor 25 Persen Hasil Laut di 2019

Antusiasme Nelayan Muara Gembong Kumpulkan Tumpahan Minyak Pertamina
Nelayan mengumpulkan tumpahan limbah minyak (oil spill) yang mencemari Pantai Muara Beting, Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (28/7/2019). Pertamina mengajak nelayan setempat untuk mengumpulkan oil spill yang nantinya akan dipindahkan ke penyimpanan limbah B3. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Perum Perindo (Perusahaan Umum Perikanan Indonesia) berupaya untuk terus meningkatkan nilai ekspor hasil laut Indonesia ke pasar dunia. Tahun 2019, BUMN perikanan ini menargetkan akan mengekspor 25 persen hasil laut dalam negeri, proporsi yang lebih tinggi dari tahun lalu sebesar 15 persen.

Direktur Utama Perum Perindo Risyanto Suanda mengatakan, Perum Perindo sedang meningkatkan fasilitas dan kualitas agar bisa meningkatkan ekspor sesuai target.

"Jadi aset yang belum disertifikasi akan disertifikasi, lalu operasi kapal yang masih tersebar akan kita integrasi di satu titik, kemudian kita akan perkuat SOP dan kembangkan teknologi di pelabuhan, perdagangan. Itu PRnya," ungkapnya di Gedung Kementerian BUMN, Senin (16/09/2019).

Risyanto melanjutkan, akses pasar yang dimiliki perusahaan ini terbilang sangat besar. Perum Perindo memiliki kontrak penjualan dari Amerika Serikat, Jepang, Vietnam hingga China.

Dari pasar Amerika Serikat, BUMN ini mengantongi USD 150 juta. Kemudian dari China, volume transaksinya mencapai 20 ribu ton per bulannya. Untuk Vietnam sendiri, Risyanto mengakui ada tantangan tersendiri.

"Vietnam ini memang lagi jadi rising star di Asia Tenggara, ya. Mereka beli cumi, ikan kerappu dari kita dan diekspor, tidak apa, tahap awalnya dari kerjasama dulu. Setelah itu kan nanti kita bisa tahu pasarnya Vietnam kemana saja," imbuhnya.

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓