Orang Kaya Makin Banyak, Indonesia Bakal Dibanjiri Produk Asing

Oleh Bawono Yadika pada 16 Sep 2019, 14:00 WIB
Diperbarui 16 Sep 2019, 14:00 WIB
20151113-Ilustrasi Investasi
Perbesar
lustrasi Investasi Penanaman Uang atau Modal (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia akan menikmati momentum revolusi konsumen di tahun depan. Ini ditandai dengan meningkatnya populasi kelas menengah (middle class) pada 2020.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, momentum ini secara positif akan meningkatkan daya saing Indonesia bagi investor asing.

Tetapi, negatifnya, dengan pasar yang semakin meluas, Indonesia ditakutkan hanya akan dibanjiri oleh sejumlah komoditas asing ke dalam negeri.

"5 tahun lalu, hanya 70 juta penduduk yang naik kelas. Tahun depan, naik 100 persen jadi 141 juta penduduk. Implikasinya Indonesia akan semakin menarik," tuturnya di Jakarta, Senin (16/9/2019).

Dengan kesempatan yang besar ini, Jokowi menegaskan Pemerintah akan terus berupaya memangkas sekaligus mempermudah proses perizinan investasi.

Hal ini dilakukan guna meningkatkan daya saing Indonesia di kancah global, mengingat RI masih tertinggal dengan Malaysia dan Korea Selatan dalam hal daya saing dan produktifitas.

"Kita pemerintah akan terus bekerja keras menghilangkan halangan bisnis investasi sehingga kecepatan kita bisa bersaing dengan negara-negara lain," kata dia.

 

2 dari 3 halaman

Perang Dagang Bikin Harta Orang Kaya di Dunia Hilang 28.298 Triliun

Banner Infografis Perang Dagang AS-China Segera Berakhir
Perbesar
Banner Infografis Perang Dagang AS-China Segera Berakhir. (Sumber Foto: AFP)

Sebelumnya, pertama kali dalam tujuh tahun, kekayaan para miliarder di seluruh dunia turun hingga USD 2 triliun atau Rp 28.298 triliun (USD 1 = Rp 14.149). Ini tak terlepas dari dampak perang dagang yang terjadi para tahun lalu.

Data berasal dari World Wealth Report 2019 yang dirilis Capgemini. Dalam laporan itu, para miliarder atau disebut high-net-work-individual (HNWI) atau individual dengan kekayaan tinggi. Turut dijelaskan bahwa orang terkaya di Asia Pasifik kena dampak penurunan kekayaan yang terparah. 

"Di tengah turunnya kekayaan global yang signifikan, para HNWI di wilayah Asia Pasifik dan Eropa adalah yang paling terdampak karena pasar yang menurun dan melambatnya pertumbuhan ekonomi (terutama di Asia Pasifik). Asia Pasifik memikul setengah dari USD 2 triliun menurunnya kekayaan global, sementara Eropa memikul satu-seperempat penurunan global," ujar Anirban Bose, Financial Strategic Business Unit CEO & Group Executive Board Member dari Capgemini.

China terkena dampak penurunan kekayaan yang besar, yakni setara 25 persen dari total global. Populasi HNWI alias orang terkaya di China juga merosot dari 1,2 juta pada 2017, menjadi 1,1 juta orang pada 2018.

Jumlah populasi orang terkaya di Jepang dan Korea Selatan juga menurun. Pada tahun 2017, dua negara itu masing-masing memiliki 3,16 juta dan 243 ribu populasi HNWI, tahun 2018 mereka hanya punya 3,15 juta dan 235 ribu.

Sementara, Indonesia mengalami kenaikkan, yakni pada 2017 memiliki 124 ribu orang terkaya, dan tahun 2018 terdapat 129 ribu orang.

Penurunan kekayaan didominasi oleh para Ultra-HNWI mereka yang memiliki kekayaan di atas USD 30 juta (Rp 424.4 miliar). 

"Kebanyakan penurunan kekayaan HNWI global berasl dari segmen orang yang lebih kayak, para Ultra-HNWI mengemban 75 persen penurunan, dan miliarder tingkat menengah memikul 20 persen penurunan kekayaan global," jelas Bose.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait