Penyuluh Butuh Pelatihan Untuk Tingkatkan Orientasi Daya Saing

Oleh stella maris pada 10 Sep 2019, 18:04 WIB
Kementan

 

Liputan6.com, Jakarta Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPSDMP) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penyuluhan Pertanian Menghadapi Era 4.0. Dalam acara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Momon Rusmono menegaskan instruksinya tentang 'kekuatan' yang menjadi arahan utama. 

FGD juga memberikan rekomendasi kebijakan dan strategi grand design penyuluhan pertanian untuk tercapainya lumbung pangan dunia 2045. Tantangan ke depannya bagaimana cara menambah daya saing produk. 

"PR para penyuluh adalah tantangan yang berorientasi daya saing. Penyuluh ke depan harus berbasis IT, perkembangan iptek itu harus bisa diimplementasikan oleh petani. Tugas FGD ini temukan cara bagaimana percepatan diseminasi ke tingkat petani," ujar Momon Rusmono, Selasa (10/09).

Perkembangan alsintan modernisasi pertanian telah merubah paradigma petani. Praktis dalam menanam mengolah sampai pascapanen dan pemasaran hingga suatu saat buruh tani itu akan hilang. Sehingga di tingkat petani hanya ada petani sebagai pengusaha dan buruh tani yang berubah tenaga kerja berdasarkan kompetensi.

SDM penyuluh ke depan salah satu kompetensinya ya adalah IT. "Kalau tidak ya tidak akan nyambung." Fasilitasi sarana prasarana pun harus IT.

Penyuluh juga membutuhkan pelatihan-pelatihan yang berikaitan dengan revolusi industri 4.0. "Rancang pelatihan untuk implementasi FGD hari ini. Kelembagaan petani poktan, gapoktan adalah database. Yang utama adalah penguatan pada basis kelembagaan ekonomi. Penyuluh hebat kalau sudah bisa menghasilkan Kelembagaan Ekonomi Petani yang berhasil." 

Dedi Nursyamsi selaku Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian menambahkan bahwa Indonesia berhasil menghasilkan daya saing tinggi dengan produkstivitas tinggi, namun berbiaya rendah. Artinya efisiensi tinggi, dengan pengembangan SDM.

"SDM yang bisa memanfaatkan, memelihara dan mengembangkan Infrastruktur serta Inovasi Iptek." SDM yang bisa mengimplementasikan inovasi teknologi. Dari penggunaan varietas unggulan, teknologi mengolah tanah, penggunaan sistem jajar legowo juga implemementasi teknologi pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sehingga dampak OPT bisa ditekan seminimal mungkin.

Dedi menambahkan bahwa FGD harus bisa mengembangkan SDM pertanian yang menggunakan aplikasi, untuk mengetahui suplai dan demand sehingga petani atau daerah yang kekurangan dan bisa dimasukkan supply dari daerah yang surplus.

"Kami ciptakan SDM yang mampu menggunakan aplikasi dari memesan jasa alsintan sampai pegolahan dan pemasaran hingga ekspor. Sekarang Penyuluh harus hebat. Kerja Cepat Tepat Efisien berdaya saing tinggi."

 

(*)