Harga Properti di Hong Kong Anjlok hingga 24,3 Persen Akibat Demo

Oleh Tommy Kurnia pada 11 Sep 2019, 18:00 WIB
Siswa di Hong Kong Bentuk Rantai Manusia

Liputan6.com, Hong Kong - Sektor properti Hong Kong masih harus bersabar karena demo pro-demokrasi yang berkelanjutan membuat harga properti anjlok. Harga properti di daerah yang banyak demo terpantau merosot sejak Juni kemarin.

Menurut South China Morning Post, Rabu (11/9/2019), wilayah dekat stasiun subway Olympic di bagian barat distrik Mong Kok terkena dampak anjlok terparah karena dekat lokasi demo. Data Ricacorp Properties mneyebut harga pada 50 lokasi housing estates di Hong Kong jatuh 8 sampai 10 persen di bulan Agustus.

Harga flat di Central Park bahkan anjlok 24,3 persen antara bulan Juni dan Juli. Sementara, harga di Island Harbourview jatuh 11,9 persen.

"Selama pergerakan ini masih ada, berarti masih ada risiko. Mong Kok dan Prince Edward dianggap lebih berbahaya. Distrik-distrik yang lebih damai dan tidak terlalu dirugikan pendemo tentunya lebih populer di kalangan pembeli," ujar Derek Chan, kepala penelitian Ricacorp.

Tak hanya properti, sektor pariwisata Hong Kong juga tersengat demo. Kedatangan turis bahkan turun 40 persen pada Agustus kemarin dibandingkan Agustus tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut adalah penurunan bulanan yang paling parah sejak tahun 2003. Ketika itu Hong Kong sedang terjangkit wabah SARS. Shanghaiist melaporkan Disneyland Hong Kong menjadi seperti "kota hantu" karena sepi pengunjung.

Protes pro-demokrasi Hong Kong berlanjut pada minggu ke empat belas dan para taipan properti sudah memohon agar demo berhenti. Belum ada tanda meredanya protes ini dan kini murid sekolah pun sampai ikut melakukan aksi dengan cara keluar kelas.

2 of 4

Minta Bantuan Donald Trump, Demonstran Hong Kong Nyanyikan Lagu Kebangsaan AS

Demonstran Hong Kong meminta Presiden AS Donald Trump untuk "membebaskan" kota yang dikuasai China. (AFP)
Demonstran Hong Kong meminta Presiden AS Donald Trump untuk "membebaskan" kota yang dikuasai China. (AFP)

Demonstrasi anti-pemerintah di Hong Kong belum mereda. Ribuan pengunjuk rasa masih turun ke jalan-jalan di Hong Kong pada Minggu, 8 September 2019.

Tak seperti biasanya, kali ini para demonstran menyanyikan lagu kebangsaan Amerika Serikat, The Star Spangled Banner, dan meminta Presiden AS Donald Trump untuk "membebaskan" kota yang dikuasai China itu.

"Berjuanglah untuk kebebasan, berdirilah bersama Hong Kong," teriak mereka sebelum menyerahkan petisi di Konsulat AS. "Tolak Beijing, bebaskan Hong Kong."

Seperti dilansir VOA Indonesia, Menteri Pertahanan AS Mark Esper pada Sabtu 7 September mendesak China untuk menahan diri di Hong Kong. Hong Kong adalah bekas koloni Inggris yang kembali ke pemerintahan China pada 1997.

Esper memberikan komentar di Paris ketika polisi di Hong Kong mencegah para pengunjuk rasa menghalangi akses ke bandara. Polisi menembakkan gas air mata di distrik padat penduduk Mong Kok.

Bulan lalu Trump menyarankan China untuk "secara manusiawi" menyelesaikan masalah di Hong Kong sebelum kesepakatan perdagangan dicapai dengan Washington. Sebelumnya Trump menyebut protes itu sebagai "kerusuhan", masalah yang harus dihadapi China.

3 of 4

Protes Berlangsung Damai

Siswa di Hong Kong Bentuk Rantai Manusia
Para siswa saling memegang tangan mengelilingi St. Paul's College di Hong Kong, Senin (9/9/2019). Aksi dilakukan para siswa yang masih berseragam sekolah sebagai bentuk dukungan terhadap demonstran anti pemerintah setelah bentrokan yang terjadi pada akhir pekan lalu. (AP/Kin Cheung)

Polisi antihuru-hara membersihkan stasiun MTR Pusat, dekat tempat demonstrasi pada Minggu di mana beberapa pengunjuk rasa ditahan, dan staf mengumumkannya sebagai "insiden serius".

"Dengan AS terkunci dalam perang dagang dengan China pada saat ini, ini adalah kesempatan baik bagi kami untuk menunjukkan (Amerika Serikat) bagaimana kelompok-kelompok pro-China juga melanggar hak asasi manusia di Hong Kong dan memungkinkan kebrutalan polisi," kata Cherry, 26, yang bekerja di industri keuangan, ketika pengunjuk rasa berbaris menuju Konsulat AS terdekat.

"Kami ingin pemerintah AS membantu melindungi hak asasi manusia di Hong Kong," katanya.

Hong Kong kembali ke China di bawah formula "satu negara, dua sistem" yang menjamin kebebasan yang tidak dinikmati di daratan. Banyak warga Hong Kong takut Beijing mengikis otonomi itu. 

4 of 4

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓