Serikat Pekerja Minta KPPU Selidiki Kecurangan Produk Semen China

Oleh Septian Deny pada 09 Sep 2019, 12:52 WIB
Diperbarui 09 Sep 2019, 12:52 WIB
Holding​ ​BUMN,​ ​Membangun​ ​Kemandirian​ ​Ekonomi​ ​Nasional
Perbesar
Sejak 1909 hingga 1974, pasar semen Indonesia 100 persen dikuasai Semen Padang, SemenGresik, dan Semen Tonasa

Liputan6.com, Jakarta - Federasi Serikat Pekerja Industri Semen Indonesia bersama Politisi Andre Rosiade kembali mendatangi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam rangka menyerahkan bukti lanjutan.

Bukti lanjutan yang dikumpulkan berupa bukti penjualan semen China di pasar ritel yang harganya jauh di bawah harga pokok produksi dan struktur harga produksi, mulai dari bahan baku sampai menjadi semen yang digunakan sehari-hari.

Andre mengatakan, hal yang terpenting dalam membuktikan ada tidaknya pelanggaran pasal 20 UU Nomor 5 Tahun 1999 terkait jual rugi atau predatory pricing adalah dengan menyelidiki struktur biaya perusahaan.

"Industri semen adalah industri yang kompetitif, harga bahan baku antar pabrik relatif sama. Maka aneh bila harga jual Semen Tiongkok ini lebih rendah dari Harga Pokok Produksi. Untuk itu kami sangat yakin bahwa dapat diduga terjadi praktik jual rugi yang dilakukan oleh semen Tiongkok ini," kata Andre di Kantor KPPU, Jakarta, Senin (9/9/2019).

Dia menjelaskan, berdasarkan simulasi yang dibuat oleh serikat pekerja, harga yang ditawarkan oleh semen China jauh lebih rendah dari harga modalnya.

"Harga modal per sak semen (50 Kg) Rp 53.000, namun semen Tiongkok menjualnya diharga Rp 45.000. Data yang kami gunakan adalah data riil pasar," jelasnya.

 

2 dari 3 halaman

Rugikan Produsen Semen Lokal

20161012- Penjualan Semen Alami Penurunan-Jakarta- Angga Yuniar
Perbesar
Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia, penjualan semen di Pulau Jawa pada September 2016 sebesar 3,11 juta ton, turun 5% dibanding periode yang sama pada tahun lalu, Jakarta, Rabu (12/10). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Praktik jual rugi yang dilakukan oleh semen China ini, kata Andre, memang seolah-olah menguntungkan konsumen dijangka pendek karena murahnya harga semen. Namun, lanjut dia, perhatikan jangka panjangnya sebagai contoh kasus matinya Semen Tarjun Indocement di Kalimantan Selatan.

“Semen Tarjun Indocement dulu menjual semennya diharga Rp 53.000 sedangkan harga Semen Tiongkok saat itu di Kalimantan dijual harga Rp 50.000 tapi begitu Tarjun di Kalimantan Selatan pabriknya mati harga semen Tiongkok dikerek diangka Rp 65.000. Inilah yang kita takutkan bila nanti semen lokal kita mati, mereka bisa naikkan harga seenaknya. Kedaulatan kita terancam. Presiden harus perhatikan ini," paparnya.

“Kami berharap KPPU dapat segera menindaklanjuti bukti-bukti ini, Industri strategis kita dalam bahaya,” imbuh Andre

Anehnya, Andre menyebutkan, di tengah laporan yang dilakukan ke KPPU olehnya, dalam dua minggu ini harga Semen Tiongkok di pasar ritel mengalami kenaikan sekitar 7 persen-10 persen

"Tapi begitu kami mencoba untuk beli dalam jumlah lebih banyak ternyata harga penawaran bisa jauh lebih murah dari harga yang diumumkan padahal harga bahan baku seperti batubara dan transportasi sama sekali tidak mengalami kenaikan," sebut Andre.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓