Cadangan Devisa Akhir Agustus 2019 Naik Jadi USD 126,4 Miliar

Oleh Arthur Gideon pada 06 Sep 2019, 10:20 WIB
Diperbarui 06 Sep 2019, 11:17 WIB
Rupiah Stagnan Terhadap Dolar AS

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2019 tercatat sebesar USD 126,4 miliar. Angka tersebut naik dibandingkan dengan posisi pada akhir Juli 2019 yang sebesar USD 125,9 miliar

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Junanto Herdiawan menjelaskan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,4 bulan impor atau 7,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

"Serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," jelas dia dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (6/9/2019).

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Peningkatan cadangan devisa pada Agustus 2019 terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa migas dan penerimaan valas lainnya.

Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai dengan didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik.

2 of 3

Penerbitan Panda Bond Bisa Tambah Cadangan Devisa

Rupiah Stagnan Terhadap Dolar AS
Teller menunjukkan mata uang dolar AS di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan membuka peluang untuk menerbitkan obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN) yang berdenominasi renminbi China atau Panda Bond. Dalam prosesnya, Kemenkeu masih terus melakukan kajian dan persiapan bersama Bank Indonesia (BI).

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, penerbitan obligasi pemerintah atau SBN berdenominasi mata uang asing dapat menambah devisa negara. Adapun SBN asing tersebut diantaranya adalah dolar AS (Global Bond), euro (Euro Bond), yen (Samurai Bond), maupun renminbi (Panda Bond).

"Bond itu kan akan menambah penerimaan pemerintah dalam bentuk valuta asing. Kalau penerimaan dalam bentuk valuta asing kan nanti akan masuk ke rekening pemerintah di BI, akan meningkatkan cadangan devisa, dan itu akan juga memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah," kata dia, di mesjid kompleks gedung BI, Jakarta, pada Jumat 26 Juli 2019. 

Perry mengungkapkan hingga saat ini tak ada persiapan khusus mengenai penerbitan Panda Bond tersebut. Prosesnya sama seperti persiapan dalam penerbitan obligasiyang lain.

Dia menegaskan Pemerintah, BI, dan OJK akan selalu berkoordinasi untuk setiap penerbitan instrumen investasi negara tersebut.

"Persiapan itu terus-terusan, enggak ada sesuatu yang persiapan khusus. Ini sudah pelaksanaannya secara reguler, apakah bentuknya dolar AS, euro, sukuk, Samurai, Panda dan segala macam itu adalah sesuatu yang reguler. Bedanya ini karena Panda baru pertama kali, itu saja," tutupnya.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓