Upaya Pertamina Pertahankan Produksi Migas di Blok Mahakam

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 05 Sep 2019, 19:15 WIB
Lapangan Handil Blok Mahakam di Kutai Kartanegara Kaltim. (Abelda Gunawan/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) melakukan berbagai upaya optimasi operasi untuk mempertahankan produksi dari Blok Mahakam, di antaranya dengan menerapkan inovasi teknologi.

General Manager PHM John Anis‎ mengatakan, PHM telah memprogramkan pengeboran 118 sumur. Dimana 78 sumur sudah selesai dibor hingga akhir Agustus 2019 sedangkan berdasarkan target rencana kerja dan anggaran hingga Agustus 2019 adalah 71 sumur.

Sementara tingkat produksi pada Juli 2019 sebesar 700 MMscfd berhasil dipertahankan sejak Februari 2019 dan akan terus dipertahankan hingga akhir tahun.

"Sejauh ini Pertamina telah berhasil menahan laju penurunan produksi Mahakam dengan performa yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan yang pernah dilakukan sebelumnya yakni sebesar 686 MMscfd (2 persen lebih tinggi) di tahun 2019," kata John, saat menghadiri I‎PA Convex 2019‎, di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (5/9/20‎19).

‎‎Agar Blok Mahakam terus tumbuh dan berkelanjutan maka pengembangan teknologi adalah kata kunci untuk membuka potensi baru. Teknologi juga terbukti mampu memangkas berbagai biaya operasi di tengah penurunan produksi alamiah.

‎"Itu adalah bagaimana menghadirkan teknologi yang tepat untuk memproduksi minyak dan gas dari berbagai reservoir kecil yang banyak jumlahnya itu, dengan biaya serendah mungkin," tutur John.

 

2 of 4

Punya Karakter Unik

Pertamina Siap Tampung Pegawai Total di Blok Mahakam
Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soetjipto mengaku ini disampaikan saat menggelar pertemuan dengan Serikat Pekerja Nasional Total Indonesia.

Sebagaimana diketahui, karakter kandungan migas di Blok Mahakam sangat unik karena lokasinya yang berada di delta Sungai Mahakam, dikenal dengan deltaic system.

Di Blok ini kandungan minyak dan gas berbentuk seperti ribuan kantong-kantong kecil yang tersebar di area rawa dan laut seluas lebih dari 3.000 km2, dengan kedalaman hingga 5.000 meter.

Oleh sebab itu, produksi Mahakam sangat tergantung dari pengeboran sumur-sumur baru, karena kandungan migas itu tidak terkoneksi satu sama lain.

Sejauh ini berbagai reservoir di main zone telah diproduksi, sehingga untuk kelanjutan Blok Mahakam maka diproduksi sumur-sumur di zone dangkal (shallow zone) dan ke depan dikembangkan sumur-sumur High Pressure High Temperature (HPHT).

Menurut John, para engineer di PHM kini terus mengembangkan teknik dan metode yang aman untuk menghasilkan gas di zona dangkal yang sebelumnya dinilai berbahaya untuk diproduksi, atau dinamakan Shallow Gas Development.

Sejauh ini upaya tersebut mencapai tingkat keberhasilan yang baik karena telah dibor lebih dari 200 sumur di zona ini tanpa ada insiden apa pun dan gasnya dapat diproduksi. Ke depan, Shallow Gas Development yang telah sukses di kawasan rawa-rawa (swamp area) akan dikembangkan juga ke lapangan-lapangan yang ada di lepas pantai (offshore).

Kemudian PHM juga merencanakan penerapan metode pengeboran High Pressure High Temperature (HPHT) di lapangan Tunu pada 2020. Untuk itu, terus dibuat perencanaan dan arsitektur pengeboran yang khusus dan seksama, karena kegiatan pengeboran nantinya akan menghadapi tantangan tekanan reservoir yang tinggi (>13.000 Psia) dan suhu gas yang sangat panas (>160oC).

 

3 of 4

Tantangan Selanjutnya

Lapangan Handil Blok Mahakam di Kutai Kartanegara Kaltim. (Abelda Gunawan/Liputan6.com)
Lapangan Handil Blok Mahakam di Kutai Kartanegara Kaltim. (Abelda Gunawan/Liputan6.com)

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana mengintegrasikan produksi dari sumur-sumur HPHT itu dengan fasilitas produksi yang sudah ada, karena tidak dirancang untuk produksi gas yang menggunakan teknologi HPHT.

Para ahli perminyakan di PHM juga telah mengembangkan arsitektur sumur yang lebih sederhana (light architecture), sehingga mampu mempercepat pengeboran sumur-sumur baru. Sejumlah rekor pernah dicapai, yakni menyelesaikan pengeboran sumur gas dalam 3,4 hari, dan sumur minyak hanya dalam tempo 4,98 hari di Lapangan Handil. Aplikasi berbagai teknologi juga mempersingkat aktivitas pengeboran lebih dari 1,5 hari. Inovasi tersebut telah berhasil memangkas biaya operasi pengeboran.

Dalam upaya optimasi ini, tengah dikembangkan pula design platform yang lebih tepat guna (Ultra Minimalist Platform) dengan memakai struktur Zeepod atau pun Braced Monopod, yang disesuaikan dengan kebutuhan.

“Semua inovasi teknologi dalam hal pengeboran sumur itu dilakukan tanpa sedikit pun mengorbankan faktor keselamatan,“ tandasnya.

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓