Produksi Minyak Pertamina Capai 314 Ribu Barel per Hari

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 05 Sep 2019, 10:30 WIB
RU IV Cilacap, Kilang BBM Terbesar di Indonesia Milik Pertamina

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) telah berkontribusi dalam pengelolaan produksi minyak dan gas (migas) nasional, sampai semester pertama 2019 setidaknya 40 persen dari total produksi nasional.

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H. Samsu mengatakan, di dalam negeri Pertamina saat ini memproduksi minyak bumi sebesar 314 ribu barel per hari atau sekitar 41,16 persen dari total produksi nasional.

Sementara itu, produksi gas bumi Pertamina mencapai 2591 MMSCFD atau sekitar 43,82 persen dari total produksi nasional.

"Sebagai perusahaan migas terintegrasi, Pertamina mengemban misi utama sebagai powerhouse untuk menjamin keamanan dan pasokan energi nasional," kata Dharmawan, di Jakarta, Jumat (5/9/2019).

Dharmawan melanjutkan, Untuk produksi migas dari lapangan di luar negeri, sebesar 99 ribu barel per hari untuk minyak bumi dan 261 MMSCFD gas bumi.

Bisnis hulu Pertamina yang saat ini ditopang oleh anak usaha, yakni PEP, PEPC, PHE, PHI, dan PIEP akan terus meningkatkan produksi minyak dan gas bumi agar dapat lebih banyak lagi memberikan kontribusi bagi negara.

"Peningkatan produksi minyak dan gas Pertamina tentunya akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemenuhan energi nasional," ujarnya.

 

2 of 3

Strategi Tingkatkan Produksi Minyak Nasional

Mengintip Kilang Minyak Sei Pakning Milik Pertamina
Manager Production RU II Pertamina Sei Pakning Nirwansyah dan Health, Security & Safety Environment (HSSE) Officer Azhari meninjau area kilang RU II Sei Pakning, Bengkalis, Riau, Selasa (17/10). (Liputan6.com/Yulia)

Menurut Dharmawan, untuk meningkatkan kontribusi dalam produksi migas nasional, Pertamina akan terus berupaya beradaptasi dengan perubahan dan tantangan global dengan menerapkan tiga pilar strategi bisnis hulu.

Pertama, Managing Base, yaitu mengelola produksi migas di aset domestik yang ada. Menurutnya, sebanyak 49,25 persen lapangan tersebut telah beroperasi lebih dari 50 tahun dan masih berproduksi hingga kini.

Lapangan existing yang sudah tua tersebut bersifat die-hard dan dikelola oleh insan Pertamina yang die-hard pula. Lapangan itu pun masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi Pertamina sekaligus bagi negara, baik langsung maupun melalui kontribusi pajak.

"Melalui strategi ini, Pertamina hendak memastikan bahwa semangat, perhatian terhadap detail, tekad, ketekunan, dan kegigihan merupakan kunci keberhasilan dalam mengoperasikan lapangan tersebut," tegasnya.

Kedua, tambah Dharmawan, Pertamina akan melakukan Stepping Out atau melangkah keluar untuk menemukan lapangan baru, dengan cara non-organik melalui Merger and Acquisitions (M&A) dan eksplorasi baru di tempat terpencil (New Exploration Frontiers).

Ketiga, Pertamina memulai Energy Transitions (transisi energi), yaitu bertransisi ke energi terbarukan dalam rangka mendukung penuh cita-cita Pemerintah untuk mencapai tujuan dan sasaran kebijakan energi nasional tahun 2025 dan 2050, sebagaimana tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

“Kontribusi kami dalam hal ini adalah melalui pengembangan energi panas bumi dengan menggandakan target peningkatan kapasitas pada tahun 2025,” pungkasnya.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓