Saling Balas, AS dan China Berlakukan Tarif Impor Tambahan

Oleh Athika Rahma pada 02 Sep 2019, 15:00 WIB
Diperbarui 17 Sep 2019, 17:55 WIB
Perang Dagang AS vs China

Liputan6.com, Jakarta - Babak baru perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China dimulai. Meski dikabarkan tengah bernegosiasi, nyatanya dua negara adidaya ini justru saling menerapkan tarif impor tambahan.

China dilaporkan telah menerapkan kenaikan tarif impor 5 persen pada impor minyak mentah AS. Ini adalah pertama kalinya minyak mentah AS menjadi sasaran dari tensi perang dagang yang selama ini berkecamuk.

Mengutip laman Reuters, Senin (02/09/2019), selain minyak mentah, China juga memberlakukan tarif tambahan 5 persen dan 10 persen pada 1.717 produk impor AS (dari total 5.078 produk) dengan nilai mencapai USD 75 miliar.

Tidak terima, Pemerintahan AS membalas dengan memberlakukan tarif tambahan 15 persen pada barang-barang asal China senilai USD 300 miliar, Minggu (01/09/2019) lalu.

Setidaknya, tarif tambahan tahap pertama ini akan berdampak pada barang impor China senilai USD 125 miliar termasuk smart speaker, headphone Bluetooth dan pakaian.

Untuk tahap kedua, kenaikan akan diberlakukan pada 15 Desember mendatang. Penambahan tarif impor ini akan menyasar telepon genggam, laptop, komputer, mainan dan pakaian.

2 dari 2 halaman

Trump: Kami Tidak Mau Jadi Jongos China

Perang Dagang China AS
Perang Dagang China AS

Trump, pada Minggu (01/09) mengutip pernyataan ekonom AS Peter Morici yang mengatakan pemberlakuan tarif tambahan tidak akan berpengaruh besar pada konsumen AS. AS harus segera mencari pemasok dari negara lain.

"Kami tidak mau jadi jongos China. Ini tentang kebebasan Amerika. Tidak ada alasan untuk membeli segala sesuatu dari China," tegas Trump.

Media China, Xinhua, menanggapi hal tersebut dengan menyindir AS agar tidak bersikap kekanak-kanakan.

"AS harus belajar bagaimana berperilaku seperti negara adidaya yang bertanggung jawab dan berhenti bertindak seperti tukang bully. Semestinya, dia harus bergabung dengan negara lain dan membantu dunia agar menjadi lebih baik. Begitulah cara Amerika bisa menjadi hebat kembali," tulis media tersebut.

Lanjutkan Membaca ↓