Kerugian Ekonomi Akibat Kebakaran Hutan Amazon

Oleh Liputan6.com pada 02 Sep 2019, 21:05 WIB
Kebakaran dahsyat di hutan hujan Amazon Brasil (AFP/A. Scorza)

Liputan6.com, Jakarta - Pemimpin dari Group of Seven yang merupakan perkumpulan negara-negara dengan perekonomian maju, mengatakan ingin membantu Brasil untuk memadamkan kebakaran di Hutan Amazon yang terjadi beberapa waktu lalu.

Sementara biaya kerusakkan akibat kebakaran tersebut tidak sedikit dan kebakaran itu memyebabkan ekologis dan kegiatan ekonomi menjadi hancur. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun ikut mengatakan melalui cuitannya di twitter bahwa Amerika Serikat siap membantu Brasil.

"Saya telah mengatakan kepadanya jika Amerika Serikat dapat membantu dengan kebakaran hutan hujan Amazon, kami siap untuk membantu!" Ujar Donald Trump yang dikutip dari Fox Business. Senin (2/9/2019)

Menurut laporan, sekitar seperempat dari hutan hujan tersebut telah terbakar. Kira-kira wilayah kobaran api itu sebesar Kota Texas.

"Ini bukan hanya hutan yang terbakar. Ini hampir seperti kuburan karena yang bisa kamu lihat hanyalah kematian." Ungkap Rosana Villar dari Greenpeace. Sebagian hutan hujan Amazon berubah menjadi warna hitam akibat kebakaran.

Sejak berita kebakaran hutan Amazon, Earth Alliance, sebuah komunitas lingkungan yang didukung oleh Leonardo DiCaprio telah mendedikasikan sekitar USD 5 juta atau Rp 71 miliar (1 USD = Rp 14.263) untuk pelestarian hutan hujan Amazon.

Para ahli memperkirakan 25 persen dari obat-obatan yang dijual di Amerika berasal dari 40 tanaman di hutan Amazon. Sementara 40 persen dari semua obat yang dijual diekstraksi dari flora di hutan tersebut. Seperti aspirin, obat jantung, dan taksol untuk pengobatan kanker.

Menurut Kantor Perwakilan Perdagangan AS, hubungan perdagangan AS dengan Brasil sangat kuat karena Brasil adalah pemasok barang terbesar ke-17 tahun 2018 dengan total USD 37,5 miliar atau Rp 534 triliun.

Secara pertanian, Brasil mengekspor kopi sekitar USD 934 juta atau Rp 13 triliun. Serta memproduksi jus, daging, tembakau, dan minyak esensial.

Reporter: Chrismonica