PT BSI Rehabilitasi 30,1 Hektare Lahan Tambang Emas Tumpang Pitu

Oleh Septian Deny pada 29 Agu 2019, 17:14 WIB
Diperbarui 29 Agu 2019, 19:17 WIB
Bintang 5: Tambang Emas, Kendaraan Alat Berat, Kapal Induk

Liputan6.com, Jakarta - PT Bumi Suksesindo (BSI), operator tambang emas di Gunung Tumpang Pitu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur berjanji akan terus melakukan rehabilitasi lahan tambang yang telah dieksploitasi. Ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi rawannya bencana alam di daerah pesisir selatan Pulau Jawa tersebut.

Presiden Direktur PT BSI, Adi Adriansyah Sjoekri mengatakan, sampai kuartal IV 2018, sedikitnya 30,1 hektare lahan tambang emas di kawasan Tumpang Pitu telah direhabilitasi. Hal ini guna mengimbangi intensitas penambangan yang telah dieksploitasi seluas 900 hektare di wilayah tersebut. Rehabilitasi juga dilakukan dengan menata dan meningkatkan kondisi lingkungan di sekitar lokasi tambang.

 

"BSI telah menyelesaikan pembangunan titik penataan (compliant point). Fungsi dari titik penataan ini untuk menangkap sedimen, sehingga tidak terbawa air menuju pantai Pulau Merah," kata Adi Adriansyah dalam keterangan tertulis, Kamis (29/8).

Untuk keperluan itu, selama kuartal terakhir 2018 saja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mengambil 2.094 sampel lingkungan.

Hal itu untuk memenuhi persyaratan pengambilan sampel yang diatur oleh peraturan perundangan serta untuk keperluan pemantauan internal atas inisiatif perusahaan.

Sampai saat ini, BSI telah melakukan kegiatan rehabilitasi yang dimulai sejak 2016 seluas 30,1 hektare. Selain melaksanakan rehabilitasi secara terus-menerus, BSI juga telah memenuhi kewajiban jaminan reklamasi sebesar Rp 58,6 miliar untuk periode 2015-2019.

"Sejak awal kami bertekad melakukan pengelolaan sumber daya alam secara bertanggung jawab, taat hukum, dan menerapkan prinsip-prinsip penambangan yang baik. Kalau penilaian Kementerian LHK, BSI memenuhi ketentuan rehabilitasi dan reklamasi lahan kurang dari 100 persen, pencairan jaminan reklamasi juga disesuaikan persentase yang dicapai," urai Adi.

 

Reporter: Idris Rusadi Putra

Sumber: Merdeka.com

 

2 dari 3 halaman

Usung Konsep Green Mining

Tambang Emas Ilegal di Ketapang, Kalimantan Barat
18 ribu hektar lebih lahan bekas hutan di kawasan Desa Pematang Gadung, Ketapang, Kalimantan Barat, disulap menjadi pertambangan emas ilegal. Sejak 1992, praktik ini bermula dari pembalakan liar, dilanjutkan eksploitasi emas yang merusak lingkungan

Sementara itu, untuk mempertahankan berbagai jenis tanaman asli yang ada di kawasan tambang, BSI menggunakan konsep 'green mining'. Ada beberapa lokasi persemaian (nursery) sebagai tempat aneka jenis tanaman asli yang nantinya digunakan untuk menghijaukan kembali kawasan Tumpang Pitu, melalui reklamasi tambang.

Selain itu, juga terus dilakukan penghijauan di lahan-lahan kritis, dengan menabur benih atau menanam dari jenis tanaman buah-buahan. Tanaman tersebut dipilih sebagai upaya memberikan cadangan makanan bagi satwa yang ada di sekitar kawasan tambang. "Tujuannya, agar satwa tetap betah berada hutan di sekitar tambang," tuturnya.

Manajer Corporate Communications PT BSI, Teuku Mufizar Mahmud mengatakan, selama proses penambangan, pihaknya tidak menggunakan air tanah, melainkan air hujan. Ketika hujan, air hujan tidak akan keluar, karena ada dam penampungan yang juga berfungsi untuk pengendapan sedimentasi.

"Selama setahun, kami menampung air hujan, sehingga tidak mengambil air tanah. Ada tiga dam yang menyaring endapan sedimen sebelum dibuang ke sungai. Sementara dam yang mengandung sianida tidak dibuang, tapi dipakai kembali untuk pelindihan batuan dan tanah. Sedangkan untuk pengambilan batuan dan tanah, kita sesuaikan kontur agar tidak longsor dan banjir," kata Mufizar.

Menurut Mufizar, reklamasi dan rehabilitasi lahan dilakukan setelah lahan tidak digunakan lagi. Namun, diakui, tahap pemulihan kembali lahan tersebut harus melalui proses cukup panjang, yang disebut proses reklamasi tambang.

Tahap pertama proses reklamasi tambang adalah melakukan pengembalian tanah yang sebelumnya diambil. Untuk diketahui, ketika akan melakukan galian, tanah pucuk diambil dan disisihkan. "Nantinya, ketika lahan sudah tidak digunakan galian, tanah tersebut akan dikembalikan, karena tanah pucuk ini unsur haranya paling bagus," ujarnya.

Setelah proses pengembalian tanah, tahap berikutnya tanaman perintis atau semak belukar akan ditanam pertama kali. "Selanjutnya, menanam tanaman tinggi seperti sengon dan berbagai jenis tumbuhan yang pada awalnya memang tumbuh di tempat itu. Dan, terakhir, penanaman tumbuhan hutan," pungkas Mufizar

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓