Ibu Kota Baru Bakal Punya Angkutan Massal yang Ramah Lingkungan

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 29 Agu 2019, 09:49 WIB
Rampung 98 Persen, Begini Wujud Proyek MRT Fase I

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyampaikan, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan menyiapkan sejumlah infrastruktur angkutan massal yang terintegrasi dan ramah lingkungan di ibu kota baru yang terletak di wilayah Kalimantan Timur.

"Di ibukota baru nanti, kami akan siapkan konektivitas transportasi yang terintegrasi antar modanya melalui angkutan massal dan berkonsep ramah lingkungan atau minim emisi," jelas dia dalam sebuah pernyataan tertulis, Kamis (29/8/2019).

Dia melanjutkan, Kemenhub berkomitmen untuk mengutamakan pembangunan infrastruktur transportasi publik agar di ibu kota baru nanti angkutan massal menjadi pilihan utama bagi masyarakat untuk bertransportasi.

"Jadi memang kita konsisten untuk transportasi (berbasis) kendaraan massal untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi. Kalau pun ada kendaraan pribadi, saya inginkan kendaraan bertenaga listrik yang beroperasi," ungkap dia.

Adapun ia menyebutkan, sejumlah infrastruktur transportasi publik yang akan dibangun dan dikembangkan di ibu kota baru antara lain seperti Moda Raya Terpadu (MRT), Light Rail Transit (LRT), dan Bus Rapid Transit (BRT).

Sementara terkait infrastruktur transportasi udara dan laut, Menhub menjelaskan, pengembangan bandara dan pelabuhan pun akan dilakukan untuk mendukung konektivitas transportasi dari dan menuju Kalimantan.

"Jadi pembangunan ini merupakan rencana jangka panjang. Kita akan bangun secara bertahap," ujar Menhub Budi.

2 of 4

Menteri PUPR Targetkan Peletakan Batu Pertama Ibu Kota Baru di 2020

Mencari Ibu Kota Baru Pengganti Jakarta
Pemandangan gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (30/4/2019). Pemerintah berencana memindahkan ibu kota dari Jakarta lantaran Pulau Jawa dinilai sudah terlalu padat penduduk. (Liputan6.com/JohanTallo)

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyatakan bahwa peletakan batu pertama atau groundbreaking ibu kota baru akan dilakukan pada 2020. Pembangunan ibu kota baru di Kalimantan Timur itu rencananya dilakukan dalam tiga tahap.

"Kami akan mulai dan sekarang sudah mulai mudah-mudahan pertengahan tahun depan akan kita bisa mulai groundbreaking. Itu target kami," kata Basuki di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (28/8/2019).

Basuki menjelaskan, pembangunan tahap pertama adalah pembangunan desain ibu kota baru. Termasuk tata letak kementerian di ibu kota baru.

"Kita mendesain juga tentang kawasannya setelah kawasannya ditunjuk RTBL nya kayak apa rencana tata bangunan letak-letaknya, dimana DPR-nya dimana istananya dimana kementeriannya dimana perumahannya dimana komersial distriknya," ungkapnya.

Sedangkan tahap kedua pembangunan sarana dan prasarana. Mulai sari pembangunan jalan hingga drainase air bersih.

"Kita menbangun prasarana dasarnya. Jalan-jalannya, drainasenya, air bersihnya. Kita akan mulai dan sekarang sudah mulai mudah-mudahan pertengahan tahun depan akan kita bisa mulai groundbreakingnya. Itu target kami," ucapnya.

Terakhir tahap ketiga pemindahan kementerian-kementerian ke ibu kota baru. Meski begitu, Basuki memahami semua tahapan ini tidak bisa dilakukan jika belum ada payung hukum terkait pemindahan ibu kota.

"Setelah itu baru tahap ketiganya mudah-mudahan bisa dimulai tahun depan," tandasnya.  

3 of 4

Pemerintah Ajak Swasta Bangun Perumahan di Ibu Kota Baru

Banner Infografis Ibu Kota Baru Indonesia di Kalimantan Timur
Banner Infografis Ibu Kota Baru Indonesia di Kalimantan Timur. (Liputan6.com/Triyasni)

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus bersiap untuk merancang pembangunan infrastruktur ibu kota baru yang berlokasi di Penajam Paser Utara dan sebagian Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Salah satunya pembangunan di sektor perumahan, yang bakal turut melibatkan pihak swasta.

Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid mengatakan, pemerintah akan menggandeng swasta melalui skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dalam pembangunan rumah di ibu kota baru.

"Kalau rumah dinas/negara tentu (lewat) APBN. Sedangkan rumah umum (komersil) baru KPBU," ujar Khalawi kepada Liputan6.com, Rabu (28/8/2019). 

Penyediaan perumahan di ibu kota baru nantinya akan disediakan dua jenis hunian, yakni rumah dinas dan rumah umum. Rumah dinas diperuntukkan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja di sana namun tidak dapat dimiliki secara pribadi. Sedangkan rumah umum bakal disediakan pengembang dan dapat dibeli lewat kocek pribadi.

Adapun untuk rumah dinas kelak akan dibangun dalam dua tipe, yakni model rumah susun (rusun) dan rumah tapak atau landed house. Rusun diberikan bagi pejabat eselon II dan ASN lainnya, sementara untuk pejabatan kementerian/lembaga disediakan rumah dinas tapak. 

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓