Cetak Sejarah Baru, Pemerintah Targetkan Kemiskinan di Bawah 9 Persen

Oleh Liputan6.com pada 28 Agu 2019, 18:45 WIB
Diperbarui 28 Agu 2019, 18:45 WIB
20160929- Menkeu dan Komisi XI Evaluasi Pelaksanaan Tax Amnesty-Jakarta- Johan Tallo

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menargetkan tingkat kemiskinan di Indonesia pada 2020 akan berada di bawah 9 persen. Paling tidak apabila angka tersebut tercapai akan menjadi tonggak sejarah baru bagi Indonesia.

"Tadinya sudah single digit, rekor Indonesia dan kita berharapkan akan muncul rekor baru di bawah 9 persen tahun 2020," kata Sri Mulyani di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (28/8).

Sri Mulyani menyampaikan, target penurunan tingkat kemiskinan di 2020 ini juga akan diikuti dengan peningkatan sumber daya manusia melalui indeks Pembangunan Manusia yang meningkat ke 72,51 poin.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan di Indonesia pada Maret 2019 mencapai 25,14 juta orang atau sebesar 9,41 persen. Angka ini menurun sebesar 530 ribu orang dibandingkan September 2018.

"Presentase penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 9,41 persen menurun 0,25 persen poin terhadap September 2018," kata Kepala BPS Suhariyanto, di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (15/7).

Suhariyanto menyampaikan presentase penduduk miskin pada periode September 2018 hingga Maret 2019 di daerah perkotaan mengalami penurunan sebesar 136,5 ribu orang. Yakni dari 10,14 juta orang pada September, menjadi 9,99 juta orang pada Maret 2019.

Sedangkan penduduk miskin di perdesaan, BPS mencatat turun sebesar 393,4 ribu orang dsri 15,54 juta orang pada September 2018 menjadi 15,15 juta di Maret 2019.

"Presentase kemiskinan di perkotaan turun dari 6,89 persen menjadi 6,69 persen. Sementara di perdesaan turun dari 13,10 persen menjadi 12,85 persen," katanya.

 

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

 

2 dari 4 halaman

Pertama dalam Sejarah Tingkat Kemiskinan RI di Bawah 10 Persen

kemiskinan-ilustrasi-140102b.jpg
Ilustrasi kemiskinan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan  penduduk Indonesia per Maret 2018 sebesar 9,82 persen. Angka ini terendah sejak era krisis moneter (krismon) pada 1998 silam. Adapun pada 1998, tingkat kemiskinan Indonesia mencapai 24,2 persen.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengaku bangga dengan angka kemiskinan yang baru dirilis BPS. Sebab angka kemiskinan sudah berada di bawah 10 persen.

"Istimewa, angka kemiskinan 9,82 persen. Ini kali pertama. Dalam sejarah," ujar dia pada perayaan the 10th anniversary Adaro di Hotel Ritz Charlton, Jakarta, Senin (16/7/2018).

Dia mengisahkan bahwa Pemerintah Indonesia dari masa ke masa terus berupaya untuk menurunkan angka penduduk miskin. "Di bawah 10 persen itu remarkable, tapi kita tidak akan berhenti," kata dia.

Selain itu, Sri Mulyani juga mengaku gembira dengan angka gini ratio yang juga berada di 0,38. "Gini ratio, 0,38 sudah di bawah 0,39 di bawah 0,4," dia menandaskan.

 

Reporter: Wilfridus Setu Umbu

Sumber: Merdeka.com

3 dari 4 halaman

Jumlah Penduduk Miskin Terendah Sejak Krisis 1998

DKI Akan Tandai Kawasan Rawan Kebakaran
Aktivitas warga di permukiman padat penduduk yang sempit di kawasan Tambora, Jakarta, Jumat (23/8/2019). Gubernur DKI Anies Baswedan akan menandai kampung-kampung atau lokasi rawan kebakaran karena penggunaan listrik ilegal. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin atau penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan di Indonesia mencapai 25,95 juta orang (9,82 persen) pada Maret 2018. Angka tersebut berkurang 633,2 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2017 yang sebesar 26,58 juta orang (10,12 persen).

Kepala BPS, Suharyanto, menyebutkan angka tersebut paling rendah sejak krisis moneter yang dialami Indonesia pada 1998 silam.

"Ini pertama kali Indonesia mendapatkan tingkat angka kemiskinan satu digit, terendah sejak 1998, meski penurunan jumlah penduduknya tidak yang paling tinggi," kata Suharyanto di kantornya, Senin 16 Juli 2018.

Meski turun, Suharyanto menegaskan bahwa tugas pemerintah masih banyak sebab jumlah penduduk miskin masih cukup tinggi.

"Maret 2018 ini adalah untuk pertama kalinya persentase penduduk miskin di angka 1, biasanya dua digit, ini pertama kalinya terendah. Tapi menurut saya kita masih punya banyak PR, kebijakan harus tepat sasaran. Memang persentase paling rendah tapi jumlah (penduduk miskin) masih besar."

Suharyanto mengungkapkan persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2017 sebesar 7,26 persen, turun menjadi 7,02 persen pada Maret 2018. Sementara itu, persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2017 sebesar 13,47 persen, turun menjadi 13,20 persen pada Maret 2018.

Selama periode September 2017-Maret 2018, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun hingga 128,2 ribu orang (dari 10,27 juta orang pada September 2017 menjadi 10,14 juta orang pada Maret 2018). Sementara itu, di daerah perdesaan turun 505 ribu orang (dari 16,31 juta orang pada September 2017 menjadi 15,81 juta orang pada Maret 2018).

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓