Pertamina Bakal Ekspor Solar dan Avtur

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 27 Agu 2019, 11:46 WIB
(Foto: Dok Pertamina)

Liputan6.com, Jakarta PT Pertamina (Persero) mengalami kelebihan produksi solar dan avtur. Akibat kelebihan produksi ini, rencananya Bahan Bakar Minyak (BBM) tersebut akan diekspor.

Direktur Keuangan Pertamina Pahala N Masury mengatakan, kelebihan pasokan ini terjadi sejak Mei 2019. Dengan demikian pada bulan itu juga, Indonesia sudah tidak perlu impor avtur dan solar.

"Dari BBM kita menghentikan impor solar dan impor avtur," kata Pahal, di Jakarta, Selasa (26/8/2019).

Pahala melanjutkan, agar avtur dan solar Pertamina yang berlebih tidak mengendap, ada rencana mengola bahan bakar tersebut untuk dijadikan produk turunan dari petrokimia.

‎"Sebenarnya dari sisi volume tidak terlalu besar. Sebenarnya avtur dan solar base-nya sama, sulit juga mengalihkan jenis produk yang sama. Solusinya mungkin kita bisa olah kembali," paparnya.

Pahala melanjutkan, produk turunan solar dan avtur dari pengolahan petrokimia rencananya akan diekspor. Hal ini sedang dijajaki oleh perusahaan energi plat merah tersebut.

"Jenis produk lain, kita jual, memang ini penjajakan, kita masih lihat realisasinya. Dari pada jadi persediaan, perlu kita lakukan ekspor," tandasnya.

2 of 4

Laba Pertamina Semester 1 2019 Meroket 112 Persen

Ilustrasi Perusahaan Minyak dan Gas Pertamina
Ilustrasi Perusahaan Minyak dan Gas Pertamina

PT Pertamina (Persero) mencatat pencapaian laba bersih semester 1 2019 mengalami peningkatan 112 persen dibanding periode yang sama pada 2018.

‎Direktur Keuangan Pertamina Pahalah N Mansury mengatakan, pencapaian laba bersih semester 1 2019‎ sebesar USD 660 juta atau Rp 9,4 triliun, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu sebear USD 311 juta atau Rp 4,4 trilin

"Memang meningkat signifikan dibanding semester pertama tahun lalu," kata Pahala, di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Senin (26/8/2019).

Pahala mengungkapkan, peningkatan laba bersih Pertamina disebabkan penurunan harga minyak dunia sepanjang periode tersebut dengan rata-rata USD 63 per barel, sehingga membuat biaya produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) mengalami penurunan.

‎"Memang komposisi signifikan adalah minyak mentahnya kita produksi BBM tapi crude diproduksi kilang kita," tuturnya.

3 of 4

Hingga Semester I 2019, Penjualan BBM Pertamina Meningkat

Harga Pertamax Naik
Petugas mengisi BBM ke kendaraan konsumen di SPBU Abdul Muis, Jakarta, Senin (2/7). PT Pertamina (Persero) menaikkan harga Pertamax, Pertamax Turbo dan Pertamina Dex mulai dari Rp500 hingga Rp900 per liter mulai 1 Juli 2018. (Liputan6.com/Johan Tallo)

PT Pertamina (Persero) menyatakan produksi minyak mentah dan penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) mengalami kenaikan selama semester I 2019.

Direktur Keuangan Pertamina Pahala N Masyuri mengatakan, produksi minyak Pertamina semester I 2019 sebesar 413 ribu barel per hari (bph), meningkat dari periode yang sama pada tahun lalu sebesar 385 bph.

‎"Produksi minyak mentah meningkat 6 persen dari tahun lalu," kata Pahala, di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Senin (26/8/2019)‎.

Pahal melanjutkan, penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamina pada semester I 2019 sebesar 34,1 juta Kilo liter, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 33,9 juta Kl.

"Selain itu volume penjualan meningkat 700 ribu Kl," tuturnya.

Sementara itu, untuk penjualan produk non-BBM juga mengalami peningkatan dari periode sebelumnya sebesar 7,9 juta KL menjadi 8,3 juta KL. ”Bahkan sejak Mei 2019, Avtur dan Solar sudah tidak perlu diimpor karena telah dapat dipenuhi dari produksi kilang Pertamina,” ujarnya.

Menurut Pahala, dengan beroperasinya kilang Proyek Langit ‎Biru Cilacap (PLBC), produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamina dengan standar Euro 4 meningkat menjadi 1,6 juta barel per hari.

"Salah satu milestone cukup penting adalah PLBC memproduksi produk selama ini belum mampu produksi, dengan PLBC ini kita mengasilkan produk Pertaseries," tandasnya.

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓