Top 3: Maksimalkan Irigasi Saat Musim Kemarau

Oleh Septian Deny pada 24 Agu 2019, 08:00 WIB
Diperbarui 02 Sep 2019, 12:18 WIB
Musim Kemarau, Harga Gabah Petani Alami Kenaikan

Liputan6.com, Jakarta - Ketersediaan irigasi yang baik mampu membantuk para petani untuk terus mengolah sawahnya dan memproduksi komoditas pangan. Hal ini yang dilakukan oleh para petani di Lampung Timur.

Ratusan hektare lahan untuk penanaman padi sawah di wilayah tersebut diakuinya mengandalkan air irigasi. Saat masa tanam gadu, meski sebagian wilayah kekurangan air, Basir memastikan sebagian petani mulai tahap pengolahan lahan.

Usai pengolahan lahan (labuh) sebagian petani menebar benih (ngurid) bahkan sebagian mulai menanam padi (tandur). Masa tanam musim gadu yang dilakukan petani dengan adanya pasokan air lancar sebagian memakai padi varietas IR64 yang tahan kekeringan.

Artikel mengenai pemanfaatan irigasi saat musim kemarau ini menjadi salah satu artikel yang banyak dibaca. Selain itu masih ada artikel lain yang layak untuk disimak.

Lengkapnya, berikut ini tiga artikel terpopuler di kanal bisnis Liputan6.com pada Sabtu (24/8/2019):

2 dari 5 halaman

1. Petani Lamtim Maksimalkan Irigasi Saat Musim Kemarau

Dirjen Sarana dan Prasarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Sarwo Edhy
Dirjen Sarana dan Prasarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Sarwo Edhy melakukan kunjungan kerja di wilayah yang memiliki potensi lahan kekeringan

Irigasi lancar dengan pasokan air cukup untuk lahan pertanian dimanfaatkan petani Lampung Timur (Lamtim) menggarap lahan sawah saat musim kemarau.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Sarwo Edhy mengatakan, rehabilitasi saluran irigasi dikebut tujuannya salah satunya menghadapi musim kemarau.

"Namun petani harus mengelola airnya dengan bijak secara bergilir. Bila perlu dibentuk Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)," kata Sarwo Edhy, Rabu (21/8).

 

Baca artikel selengkapnya di sini

3 dari 5 halaman

2. Penurunan Bunga BI Diprediksi Belum Sanggup Dongkrak IHSG

Terjebak di Zona Merah, IHSG Ditutup Naik 3,34 Poin
Pekerja melintasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). IHSG ditutup naik 3,34 poin atau 0,05 persen ke 5.841,46. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan terkonsolidasi untuk perdagangan saham Jumat (23/8/2019).

Sejumlah analis menilai, meski Bank Indonesia (BI) telah kembali memangkas suku bunga acuanya menjadi 5,50 persen, gerak indeks belum akan terdongkrak ke teritori positif.

Penyebabnya, pergerakan indeks masih didominasi dari sentimen eksternal, mulai dari ketidakpastian dagang Amerika Serikat (AS)-China hingga isu resesi yang akan menimpa Amerika Serikat.

 

Baca artikel selengkapnya di sini

4 dari 5 halaman

3. Menanti Pelonggaran Moneter The Fed, Harga Emas Kembali Turun

Temuan emas (1)
Ilustrasi emas batangan. (Sumber Twitter/@allthingsbus)

Harga Emas turun ke level yang lebih rendah pada perdagangan Kamis (Jumat waktu Jakarta). Hal ini menyusul komentar dari pejabat Bank Sentral Amerika Serika (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) yang menurunkan kemungkinan pelonggaran moneter tambahan.

Sementara para investor masih menunggu kejelasan lebih lanjut dari kepala bank sentral di simposium Jackson Hole.

Dikutip dari CNBC, Jumat (23/8/2019)), harga emas di pasar spot turun 0,18 persen pada USD 1,499.5 per ounce, setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak 13 Agustus di USD 1,491.50.

 

Baca artikel selengkapnya di sini

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓