BI Prediksi Harga Pangan Terkendali Meskipun Kemarau Panjang

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 22 Agu 2019, 20:10 WIB
Diperbarui 13 Sep 2019, 14:22 WIB
Kemarau Panjang, Debit Air Kanal Banjir Timur Surut

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memprediksi bahwa harga bahan pangan seperti beras dan cabai tetap terkendali, meski sejumlah wilayah di Indonesia kini tengah menghadapi musim kemarau berkepanjangan.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, kemarau panjang memang membuatnya merevisi target awal inflasi yang sebesar 3,1 persen. Namun, ia menyatakan optimisme inflasi tahun ini tetap berada di bawah 3,5 persen.

"Dulu kita bilang inflasi ini akan menuju ke batas bawah sekitar 3,1 persen. Sekarang mungkin sekitar 3,2 persen atau menuju 3,3 persen, karena ada dampak kemarau panjang. Tapi masih di bawah 3,5 persen," tutur dia di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (22/8/2019).

Perry menyebutkan, pemerintah telah berkoordinasi untuk memastikan pasokan bahan pangan di pasar tetap berjalan baik, sehingga dapat menjaga harga jualnya di pasaran.

"Pak Menko Perekonomian (Darmin Nasution) sudah melakukan rakor bagaimana langkah-langkah antisipatif terhadap dampak kemarau panjang ini. Tentu saja langkah-langkah koordinasi itu untuk memastikan pasokan bahan pangan dan terkendalinya harga-harga pangan," jelasnya.

Hal tersebut dibuktikan dengan terjaganya pasokan beras yang dikelola oleh Perum Bulog. "Terkait beras, bahwa stok dari Bulog mengenai beras lebih dari cukup," sebut Perry.

Selain beras, ia menambahkan, ketersediaan cabai juga akan terjaga dengan adanya potensi panen dalam waktu 2 bulan ke depan. Terjaganya pasokan cabai lantas akan berdampak terhadap tingkat inflasi pada Indeks Harga Konsumsi (IHK).

"Insya Allah dalam 2 bulan ini (cabai) sudah mulai panen, khususnya di wilayah Semarang dan Sumatra Utara. Itu tentu saja akan mempengaruh dari kenaikan harga cabe terhadap IHK," tukas dia.

2 of 3

Target Inflasi 2020 Sulit Tercapai

20161003-Pasar Tebet-Jakarta- Angga Yuniar
Pedagang merapikan barang dagangannya di Tebet, Jakarta, Senin (3/10). Secara umum, bahan makanan deflasi tapi ada kenaikan cabai merah sehingga peranannya mengalami inflasi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) meminta pemerintah untuk tidak abai terhadap inflasi pangan agar dapat mencapai target yang telah ditetapkan. Meski secara umum angka inflasi rendah, namun kontribusi bahan pangan terhadap inflasi tetap masih tinngi.

Peneliti Indef, Eko Listianto mengatakan kecenderungan inflasi rendah bukan suatu prestasi, karena pertumbuhan ekonomi memang rendah. Hal itu dinilai akan membuat target inflasi yang tertuang dalam RAPBN 2020 yaitu sebesar 3,1 persen akan sulit untuk diwujudkan.

"Inflasi itu targetnya 3,1 persen saya bisa katakan susah dicapai angka itu karena sekarang saja sudah 3,32 persen," kata dia, di kantonrya, Senin (19/8/2019). 

Meskipun secara umum inflasi masih rendah (Juli 2019 sebesar 3,32 persen yoy), namun kenaikan inflasi barang bergejolak (4,90 persen yoy) terutama bahan pangan (4,85 persen yoy) masih tak terelakkan.

Dengan demikian sasaran inflasi 3,1 persen pada asumsi makro RAPBN 2020 akan sulit terealisasi.

"Dan harus kita waspadai karena inflasinya bersumber dari hajat hidup orang banyak. Kalau kita lihat dari data BPS Juli, inflasi bahan pangan 4,85 persen hampir dua kali lipat dari inflasi umum," kata dia.

Menurutnya, hal itu merupakan bukti bahwa selama ini pemerintah rupanya gagal menjaga stabilitas harga pangan.

"Ini menandakan pemerintah gagal mengendalikan bahan makanan walaupun seolah-olah inflasinya rendah," ujarnya.

 

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓