Laptop China Banjiri Indonesia, Kemendag Turun Tangan

Oleh Liputan6.com pada 15 Agu 2019, 19:00 WIB
Diperbarui 15 Agu 2019, 19:00 WIB
Capaian Ekspor - Impor 2018 Masih Tergolong Sehat
Perbesar
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (25/5). Kenaikan impor dari 14,46 miliar dolar AS pada Maret 2018 menjadi 16,09 miliar dolar AS (month-to-month). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan menyelidiki penyebab Indonesia kebanjiran produk China sepanjang Juli 2019. Untuk diketahui Indonesia diserbu produk China senilai USD 1,5 miliar, produk paling besar di antaranya adalah laptop dan PC.

"Harus lihat detail dulu. Kita harus lihat dulu barangnya apa dulu," ujar Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Indrasari Wisnu Wardhana di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (15/8/2019).

Indrasari menampik, barang impor lebih diminati karena daya saing produk dalam negeri lebih rendah. Selain itu, pembengkakan impor tersebut juga tidak disebabkan oleh fluktuasi nilai tukar Yuan terhadap Dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir.

"(Daya saing produk dalam negeri rendah?) tidak juga. Harus dicek dulu. Tidak boleh gegabah bilang barang China lebih murah. Kita kan semuanya beli dengan USD, bukan dengan Yuan. Jadi kita harus lihat dulu," paparnya.

Di sisi lain, Kemendag akan terus berupaya mendorong ekspor agar mampu menutupi kebutuhan impor yang kian besar. Salah satunya melalui perundingan bilateral dengan negara-negara yang belum menjadi mitra dagang Indonesia.

"Ya kita coba tingkatkan ekspor, percepat perundingan-perundingan supaya terbuka akses pasarnya. Kita melakukan misi dagang dan promosi. Ini bisa mendorong ekspor dalam waktu pendek," jelasnya.

 

2 dari 4 halaman

Data BPS

20161025-Bea-Cukai-Kembangkan-ISRM-untuk-Pangkas-Dwelling-Time-Jakarta-IA
Perbesar
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (25/10). Kebijakan ISRM diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pelayanan dan efektifitas pengawasan dalam proses ekspor-impor. (Liputan6.com/Immaniel Antonius)

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mencatat, impor China ke Indonesia pada Juli 2019 mencapai USD 1,5 miliar. Komoditas utama impor tersebut adalah PC dan Laptop.

"Jenis barangnya hampir sama dengan bulan sebelumnya di sana komoditas utama adalah PC, laptop," ujar Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Kamis (15/8).

Suhariyanto mengatakan, secara kumulatif dari Januari hingga Juli impor Indonesia dari China mencapai USD 24,73 miliar. Angka tersebut hampir 30 persen dari seluruh impor yang masuk dari berbagai negara.

"Kalau kita lihat per negara, impor yang kenaikannya lumayan tinggi pada bulan Juli adalah dari China di mana di sana impornya naik jadi USD 1,5 miliar, dari Jepang impor kita juga naik," jelasnya.

 

3 dari 4 halaman

Produk Jepang juga Meningkat

Laptop
Perbesar
Laptop (Jason DeCrow/AP Images for Microsoft)

Sementara itu, menurut data BPS negara pemasok barang ke Indonesia selain China adalah Jepang USD 9,09 miliar atau sekitar 10,69 persen dan Thailand USD 5,46 miliar atau sebesar 6,42 persen. Impor nonmigas dari ASEAN 19,48 persen, sementara dari Uni Eropa 8,47 persen.

"Dari sisi peranan terhadap total impor nonmigas Januari-Juli 2019, sumbangan tertinggi diberikan oleh kelompok negara ASEAN sebesar 19,48 persen sebesar USD 16,5 miliar, diikuti oleh Uni Eropa 8,47 persen atau sekitar USD 7,2 miliar," tandasnya.

 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓