Gaji Rp 8 Juta Ingin Beli Rumah, Bisakah?

Oleh Arthur Gideon pada 04 Agu 2019, 09:00 WIB
Diperbarui 06 Agu 2019, 01:13 WIB
Berburu Rumah Murah di Indonesia Property Expo 2017

Liputan6.com, Jakarta - Untuk para sarjana yang baru lulus dan baru saja bekerja dengan gaji Rp 8 juta per bulan, ada baiknya untuk mulai memikirkan membeli rumah. Cara yang diambil dengan memanfaatkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang disediakan bank baik konvensional maupun syariah.

Head of Marketing Rumah.com Ike Hamdan menyatakan, bagi para konsumen yang ingin membeli rumah, saat ini adalah kondisi termudah untuk membelinya. Hal ini dikarenakan adanya berbagai kebijakan pemerintah yang memudahkan kepemilikan rumah sehingga menjadi lebih fleksibel.

Selama ini, kendala utama untuk membeli rumah adalah masalah uang muka atau down payment. Dengan aturan loan-to-value (LTV) ratio yang memudahkan, apa lagi suku bunga acuan yang telah diturunkan oleh Bank Indonesia, kendala-kendala tersebut sudah seharusnya teratasi.

menurut Ike, ketika baru memulai bekerja, ada baiknya sudah memikirkan membeli rumah. Karena ketika masih lajang atau belum punya anak, beban keuangan belum terlalu besar.

"Berbeda halnya ketika sudah menikah apalagi punya anak, kebutuhan finansial akan semakin besar. Jika ditambah dengan biaya cicilan rumah, beban finansial itu akan semakin besar. Sehingga kebutuhan membeli rumah akhirnya dikorbankan dan mengandalkan tinggal bersama di rumah orang tua,” jelas Ike dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (4/8/2019).

Kondisi ini selaras dengan hasil survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1-2019, dimana generasi muda memiliki minat paling besar untuk membeli properti, sebesar 71 persen responden yang berusia 21-29 tahun, dimana kemungkinan besar mereka adalah para fresh graduate yang baru mulai bekerja. Sementara responden pada kelompok usia 30-39 tahun menempati posisi kedua dengan persentase sebesar 60 persen.

Untuk diketahui, Survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1 2019 ini merupakan survei berkala diselenggarakan dua kali dalam setahun oleh Rumah.com bekerjasama dengan lembaga riset Intuit Research, Singapura. Survei berkala ini dilaksanakan oleh Rumah.com sebagai pemimpin pasar properti portal di Indonesia untuk mengikuti secara langsung perkembangan yang terjadi di pasar.

Survei ini diikuti oleh 1000 responden dari kota-kota di seluruh Indonesia dimana sebanyak 69 perse responden berasal dari rentang usia milenial atau 22 hingga 39 tahun yang terdiri dari 34 persen milenial muda kelahiran 1990-1997, sedangkan 35 persen adalah milenial tua atau kelahiran 1982-1989.

 

2 of 3

Rumah Seken

Indonesia Properti Expo 2019
Pengunjung melintasi maket perumahan pada Indonesia Property Expo (IPEX) 2019 di Jakarta Convention Centre (JCC), Sabtu (2/2). Kegiatan yang digelar 2-10 Februari itu menargetkan penyaluran kredit baru senilai Rp 6 triliun. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1-2019, juga menunjukkan bahwa berdasarkan usia, kalangan milenial adalah kalangan yang paling resisten terhadap rumah seken. Total, 61 persen dari kalangan milenial hanya menghendaki rumah baru, hanya 39 persen yang tak keberatan dengan rumah seken.

Mayoritas responden pada kelompok usia 21-29 tahun yaitu sebesar 55 persen lebih meminati untuk membeli properti baru daripada seken. Sedangkan responden pada kelompok usia 30-39 tahun, malah lebih banyak lagi yang meminati membeli properti baru yaitu sebesar 65 persen.

Sementara mengacu pada hasil survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1 2019, jenis pembiayaan yang dipilih berdasarkan usia, peminat cicilan syariah paling banyak dari kalangan berusia di bawah 40 tahun atau generasi milenial.

Sebanyak 52 persen milenial muda dan 50 persen milenial tua memilih menggunakan KPR Syariah dalam proses pembelian rumahnya. Sementara responden yang berusia 40 hingga 49 tahun hanya 36 persen dari mereka yang memilih KPR Syariah dan 50 persen responden usia 50 hingga 59 tahun memilih KPR Syariah.

Menurut Ike, generasi Z dan milenial memang paling bersemangat membeli properti, namun mereka masih memiliki pengalaman dan informasi yang minim. Pengembang dapat memberikan bantuan informasi hingga pengurusan pengajuan KPR. Sesuaikan strategi pemasaran dengan karakter milenial yang dinamis, technology-minded, dan menyukai desain yang unik.

“Semakin membaiknya pasar properti di semester kedua 2019 menunjukkan bahwa berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah memang membawa dampak positif terhadap pasar. Hal ini menunjukkan bahwa program-program pelonggaran LTV, FLPP, serta model pembiayaan lainnya berdampak positif pada perkembangan properti di tanah air. Berbagai kebijakan pemerintah tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya saat ini merupakan waktu yang paling mudah untuk membeli rumah khususnya bagi mereka yang telah bekerja,” pungkas Ike.

3 of 3

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓