Usai Gempa Banten, Penyaluran BBM dan Elpiji Tetap Normal

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 03 Agu 2019, 10:38 WIB
Diperbarui 04 Agu 2019, 15:14 WIB
Subsidi Energi

Liputan6.com, Jakarta PT Pertamina (Persero) menyatakan, fasilitas penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) di dekat pusat gempa tetap melayani masyarakat. Sehingga tidak ada hambatan untuk mendapat bahan bakar.

Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR III Dewi Ari Utami mengatakan,  pasca gempa magnitudo 7,4 sarana dan fasilitas penyaluran BBM dan Elpiji seperti Terminal BBM, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan Stasiunn Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBBE) di wilayah Banten, Jawa Barat dan Jakarta dalam kondisi aman dan beroperasi normal.

"Saat ini aman. Jadi sarfas kita di Banten, Jawa Barat dan Jakarta semua dalam kondisi aman," kata Dewi, saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Sabtu (3/8/2019).

Menurut Dewi, saat status siaga di wilayah Anyer dan Pandeglang sebagai wilayah dekat pusat titik gempa diberlakukan SPBU tetap buka, namun tetap dalam kondisi siaga jika ada informasi evakuasi.

"Pagi ini SPBU Pertamina beroperasi normal demikian juga untuk  sarana dan fasilitas pendiatribusian BBM dan Elpiji," tuturnya.

 

 

 

 

 

 

2 of 4

BMKG: Gempa Banten Belum Puncak, Potensi Maksimal M 8,7

Gempa 7 SR di Lombok Utara, BMKG: Peringatan Dini Tsunami Berakhir
Ilustrasi kerusakan struktur tanah yang retak akibat gempa. Foto: Pixabay

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengungkapkan gempa bumi di Banten bermagnitudo 7,4 yang dimutakhirkan menjadi 6,9, belum merupakan puncak dari potensi gempa di wilayah tersebut.

Pusat gempa di bagian selatan Selat Sunda itu merupakan kawasan yang ditandai sebagai zona sepi gempa besar, sementara itu merupakan kawasan dengan subduksi aktif.

Daryono mengatakan ketidakadaan gempa selama ini dianggap sebagai proses akumulasi dari medan tegakan kerak bumi yang sedang berlangsung

“Di daerah Selat Sunda, catatan kami tidak ada gempa di atas magnitudo 7,0,” katanya seperti dikutip dari Antara, Sabtu (3/8/2019).

Menurut catatan BMKG, pernah terjadi di bagian selatan Banten gempa bumi dengan magnitudo 7,9 pada 1903, yang merupakan gempa terakhir.

Dia tidak dapat memperkirakan secara statistik proses berulang gempa bumi itu, karena proses akumulasi medan tegakan kulit bumi tidak bisa distatistikkan.

Daryono menyatakan sebuah kawasan subduksi aktif tetapi tidak pernah terjadi gempa, dapat diduga kawasan itu sedang terjadi proses akumulasi medan tegangan, di mana ada proses penumpukan energi yang terkandung dalam kulit bumi.

“Kalau melihat hasil hitungan potensi gempa, ini belum puncaknya, karena potensi maksimal dapat mencapai magnitudo 8,7. Potensi itu tidak bisa diperkirakan dan kapan saja bisa terjadi,” jelas dia.

Sebelumnya Daryono menjelaskan, BMKG mencatat ada sebanyak enam subduksi atau penujaman lempeng di Indonesia. keenam subduksi itu dapat dirinci kembali menjadi 16 segmen megatrust.

Megatrust ini, kata Daryono berpotensi untuk memicu gempa besar di atas 7 magnitudo. "Bisa memicu gempa besar di atas 7 magnitudo. Ini kenyataan kondisi tektonika Indonesia," papar Daryono di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Rabu 31 Juli 2019.

 

3 of 4

Indonesia Punya Banyak Sesar Aktif

Gempa Bumi
Ilustrasi Gempa Bumi (iStockphoto)

Selain itu, Indonesia juga memiliki bagian banyak sesar aktif yang sewaktu-waktu dapat bergerak. Dari sekian banyak sesar aktif tersebut, sebagiannya berada di daratan.

Sesar aktif yang berbeda di daratan ini jika bergerak akan menimbulkan efek goncangan yang cukup signifikan. Bahkan cenderung bersifat destruktif atau merusak.

Kata Daryono sesar di Indonesia bersifat aktif dan juga kompleks. "Aktif artinya gempa terus terjadi, sedangkan kompleks karena memang banyak sekali sumber gempanya," jelas Daryono.

Meskipun realitasnyan banyak wilayah di Indonesia yang rawan akan gempa. Namun kata Daryono bukan berarti masyarakat Indonesia tidak bisa tinggal dengan aman di wilayah-wilayah yang memiliki potensi akan gempa bumi.

Daryono berkaca pada Amerika Serikat dan Jepang. Di dua negara itu juga rawam akan gempa bumi. Bagi di Amerika terutama di wilayah Pantai Barat yakni lempengan San Andreas.

"Di Amerika ada (lempeng) San Andreas tapi saat gempa kemarin tidak banyak yang meninggal," kata Daryono.

Menurut Daryono, minimnya korban jiwa saat gempa bumi di Amerika dikarenakan budaya mitigasi bencana di sana telah berakar kuat.

"Jepang itu tidak ada yang aman gempa semuanya ada sesar aktif, tetapi pembangunan maju, ekonomi manju karena mereka mampu mengelola resiko (bencana) dengan baik," katanya.

4 of 4

Saksikan video terkait di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓