Freeport Belum Dapat Tambahan Kuota Ekspor Konsentrat

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 30 Jul 2019, 18:15 WIB
Diperbarui 30 Jul 2019, 18:15 WIB
Tambang Grasberg PT Freeport Indonesia. Foto: Liputan6.com/Ilyas Istianur P

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) belum memberikan tambahan kuota ekspor ‎mineral olahan (konsentrat) untuk PT Freeport Indonesia. Tambahan yang diusulkan perusahaan tersebut sebesar 300 ribu ton.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saefulhak mengatakan, untuk menambah kuota harus diubah dalam Rencana Kerja Anggaran Biaya (RKAB), biasanya perubahan dilakukan pada triwulan ke dua.

"Kalau revisi itu triwulan kedua biasanya, revisi RKAB baru bisa dilakukan setelah triwulan kedua, Juni Juli sudah boleh," kata Yunus, di Jakarta, Selasa (30/7/2019).

‎Yunus melanjutkan, untuk menambah volume ekspor ada penambahan produksi. Hal ini akan dizinkan ketika sudah dimasukan ke dalam studi kelayakan (Feasibility Study/FS) untuk kegiatan eksploitasi.

"Selama dia sudah ada dalam FS ya dibolehkan," tuturnya.

Menurut Yunus, penambahan produksi berasal dari bijih tembaga (ore) yang belum diolah menjadi konsentrat, bukan dari kegiatan tambang terbuka (open pit) Grabsberg. Pasalnya, saat ini produksi Freeport dari kegiatan tambang menurun seiring masa transasi ke tambang bawah tanah.

" kalau ore yang masih ditumbuk segala macem kan belum produksi, produksi itu kan yang sudah diolah, makanya dia kan ngolah ore-ore yang dulu hanya stockpile kemudian diproduksi, ngambil dari itu kan namanya produksi," tandasnya.

2 dari 4 halaman

Anggarkan Dana USD 1 Juta, Freeport Kirim Putra Papua Belajar ke AS

FOTO: Ciptakan Pekerja yang Kompeten dengan Bangun Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas
Instruktur berbicara dengan siswa pelatihan angkatan pertama P2TIM-TB di Kampung Deimes, Bintuni Timur, Papua Barat (23/7). Pemerintah bekerjasama dengan PT. Petrotekno adakan pelatihan teknik industri dan migas. (Liputan6.com/Pool/Febri)

PT Freeport Indonesia bekerja sama dengan AMINEF kembali memberangkatkan empat orang peserta Program Community College Initiative (CCI) asal Papua dan Papua Barat, dari total 26 orang penerima beasiswa CCI dari seluruh Indonesia pada tahun ini. Adapun pada 2018 lalu, dari total 20 orang penerima beasiswa CCI, sembilan orang di antaranya adalah penerima beasiswa asal Papua.

Senior Advisor PT Freeport Indonesia, Michael Manufandu mengatakan, CCI ini merupakan program yang tepat untuk anak muda Papua, karena program tersebut tidak hanya memfasilitasi pengembangan akademik para penerima beasiswa, namun juga dapat mengasah keterampilan kepemimpinan mereka. Total dana yang dialokasikan PT Freeport Indonesia untuk turut mendukung Program CCI untuk periode 2016 hingga 2020 mencapai USD 1 juta.

“Freeport sudah ikut dalam program ini selama 12 tahun. Hal ini karena kami melihat, Program CCI tidak hanya menawarkan pendidikan teknis profesional bagi yang sudah bekerja, namun juga mereka memberikan pendidikan kepemimpinan yang baik, di mana mereka dilatih untuk memimpin dalam unit kecil maupun unit besar,” ujar dia di Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Direktur Eksekutif AMINEF Alan Feinstein mengungkapkan apresiasinya atas dukungan PT Freeport Indonesia selama ini dalam Program CCI. Menurut dia, PT Freeport Indonesia telah menjadi salah satu pendukung utama yang terlibat dalam keseluruhan program, mulai dari sosialisasi, rekrutmen, seleksi hingga orientasi pra-keberangkatan.

“PT Freeport Indonesia dengan jaringannya yang luas khususnya di Papua dan Papua Barat telah memungkinkan kami untuk menyosialisasikan program ini kepada mereka yang tinggal di kedua provinsi tersebut. Karena itu, kami sangat berterima kasih atas dukungan PT Freeport Indonesia selama ini,” kata dia.

Alan juga menjelaskan, anak-anak Papua dan Papua Barat penerima beasiswa AMINEF selama ini menunjukkan minat belajar yang tinggi dan sangat termotivasi untuk kembali ke daerahnya untuk membangun Papua. Dengan demikian, keterampilan kepemimpinan berikut keilmuan yang mereka dapatkan bisa menjadi modal utama mereka untuk menjadi pionir dan berkontribusi positif pada komunitasnya.

3 dari 4 halaman

Bangun Smelter, Freeport Cari Pinjaman Bank

Freeport Indonesia (AFP Photo)
Freeport Indonesia (AFP Photo)

PT Freeport Indonesia tengah mencari pinjaman dana dari bank. Pinjaman tersebut untuk membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) di Gresik, Jawa Timur. Proyek infrastruktur tersebut membutuhkan biaya sekitar USD 3 miliar.

Direktur Utama Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, saat ini Freeport Indonesia sedang melakukan pembicaraan dengan beberapa bank agar bisa mendapat pinjaman dana. Namun dia tidak menyebutkan besaran pinjamannya. Ada 15 bank, baik dari dalam negeri mapupun luar negeri yang sudah memberikan respons.

"Masih dalam proses pembicaraan tapi banyak yang minat, mungkin sudah 15 bank yang berminat. Bank asing sama bank nasional," kata Tony, di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Saat ini proses pembangunan smelter Gresik sudah pada padatan tanah dengan porsi mencapai 3,86 persen. Sejauh ini Freeport Indonesia telah menggelontorkan dana USD juta dari kas internal.

Sementara total kebutuhan investasi untuk membangun infrastruktur tersebut mencapai USD 3 miliar.

‎"Proyek itu keseluruhan itu hampir USD 3 miliar, mungkin sekitar USD 150 juta sudah kita keluarkan," tuturnya.

Juru Bicara Freeport Indonesia Riza Pratama menambahkan, pembangunan smelter Gresik akan masuk konstruksi fisik pada 2020 dan diperkirakan akan selesai pada 2023.

Lahan yang digunakan untuk infrastruktur tersebut seluas 100 hektare.

"Sipilnya mungkin pertengahan 2020. Jadi persiapannya agak lama. Sekarang lagi pemadatan tanah, peninggian tanah," tandasnya.  

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓