Pengusaha Minta Jokowi Segera Teken Pepres Mobil Listrik

Oleh Liputan6.com pada 29 Jul 2019, 16:15 WIB
Mobil Listrik GIIAS 2019

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani meminta Presiden Joko Widodo segera meneken Perpres mobil listrik. Sebab aturan tersebut akan menjadi payung hukum bagi pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia.

Dia mengaku dapat memahami jika terjadi prokontra diantara para Menteri Kabinet Kerja, bahkan terjadi perdebatan yang tak kunjung selesai antar para menteri. Namun hal tersebut tidak boleh menghambat ditekennya Perpres tersebut.

"Ya kami ngerti mungkin ada beberapa kepentingan yang memang mereka perjuangkan, tetapi kita harus melihat ujungnya nih. Ujungnya kita mau kehadiran mobil listrik ini hanya untuk ada saja atau kita memang ingin secara kebijakan kita mendorong perubahan," kata dia saat ditemui, di Jakarta, Senin (29/7).

Sebagai pelaku usaha, jelas Rosan, pihaknya tentu mengharapkan agar Perpres yang mengatur mobil listrik dapat segera diterbitkan.

"Ya tentunya kami mengharapkan itu (Perpres) segera ditandatangani ya, karena kalau kami lihat dari dunia usaha itu azas manfaat itu banyak kok," ujarnya.

"Karena tren dunia itu memang arahnya ke situ (mobil listrik) sehingga kita pun harus bergerak cepat untuk punya landasan dalam kita menuju electric car atau hybrid car, karena itu kan mengurangi penggunaan fuel kan," ungkapnya.

Karena itu, menurut dia, pemerintah seharusnya mempercepat penerbitan Perpres terkait kendaraan listrik. Hal tersebut tentu sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mendukung pengembangan kendaraan listrik di tanah air.

"Bahwa pemakaian kendaraan yang konvensional ke listik. Kalau kita pengen sekedar ada ya tarik-tarikan, tetapi kalau kita ingin ini jadi benar benar ingin kita lakukan, udah segera teken (Perpresnya)," tandasnya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengungkapkan adanya kendala penerbitan Perpres mobil listrik. Kendala penerbitan perpres tersebut karena adanya pro kontra di antara anggota Kabinet Kerja.

"Peraturan Presiden ditunggu hampir 1,5 tahun, debat antar menteri enggak selesai-selesai. Ada yang promobil listrik, ada yang melawan," ungkap Ignasius Jonan di Jakarta, Minggu (28/7).   

2 of 4

JK Sebut Pengembangan Industri Mobil Listrik Akan Dimulai Tahun Ini

mobil listrik
Toyota Prius Hybrid yang diberikan kepada enam perguruan tinggi negeri melalui Kemenperin untuk dilakukan riset mobil listrik (Liputan6.com/Yurike)

Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK menjelaskan, saat ini pemerintah akan mengembangkan industri mobil listrik. Rencananya tahun ini akan ada regulasi soal kendaraan listrik.

"Tahun ini (regulasi)," kata JK usai membuka acara Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) ke-27 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis (18/7/2019).

JK menjelaskan hal tersebut perlu disinkronkan dengan beberapa kementerian, industri keunganan, perhubungan, serta kemanpuan industri dalam negeri. Selain itu, dibutuhkan juga manufacture oleh dealer. Dan masyarakat harus siap dengan pengambangan mobil listriktersebut.

"Ini dibutuhkan suatu service mencapai ini. Baik manufacture oleh dealer dan masyarakat harus siap dengan ini. Tentu membutuhkan waktu dan perkembangan teknologi," lanjut JK.

Tidak hanya itu, menurut JK, ada beberapa kendala dalam mewujudkan industri mobil listrik. Salah satunya yaitu terkait pajak.

"Tentu khususnya urusan pajak, ada yang berlaku tahunnya mungkin tahun tahun," ungkap JK.

3 of 4

Toyota dan Hyundai Bakal Kembangkan Mobil Listrik di RI

Mobil Listrik GIIAS 2019
Teknologi fast charging pada mobil listrik BMW i8 Roadster dipamerkan dalam GIIAS 2019 di ICE BSD, Tangerang, Jumat (19/7/2019). Konsumsi bahan bakar gabungan dalam siklus pengujian kendaraan plug in hybrid adalah 47,6 km/liter, ditambah 14.5 kWh energi listrik per 100 km. (Liputan6.com/FeryPradolo)

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, hingga saat ini sudah ada dua pabrikan besar yang menyatakan niatnya untuk investasi di mobil listrik. Kedua pabrikan tersebut yakni produsen mobil asal Jepang, Toyota dan Hyunday, produsen mobil asal Korea Selatan.

"Saat ini berdasar catatan saya sudah ada dua pabrikan besar yaitu Toyota dan Hyundai yang siap untuk berinvestasi di Indonesia khususnya di sektor kendaraan listrik," kata dia, di ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (18/7).

Total nilai investasi yang digelontorkan dua perusahaan tersebut, kata Airlangga mencapai Rp 50 triliun.

"Nilai total investasi mencapai 50 Triliun rupiah untuk 5 tahun yang akan datang," ungkapnya.

Meskipun demikian, dia menegaskan, angka tersebut masih bisa bertambah. Sebab masih ada beberapa investor yang menyatakan minatnya di komponen mobil listrik, yakni baterai.

"Ini (Rp 50 triliun) hanya awal, saya sudah mendapat informasi untuk komponen penunjang seperti baterai juga akan ada investasi baru. Sehingga saya optimis bahwa dalam waktu 5 tahun yang akan datang saya menargetkan akan ada 100 Triliun investasi baru di sektor otomotif," jelas dia.

Terkait investasi untuk pembangunan pabrik baterai mobil listrik, saat ini sedang dilakukan penjajakan dengan sejumlah perusahaan. Meskipun demikian, dia belum menyampaikan perusahaan apa saja serta asal negara perusahaan tersebut.

"Kemarin ada beberapa industri berbasis baterai juga kami sudah bicara. Karena Indonesia sudah punya bahan baku baterai, tinggal kembangkan industri sel baterai," imbuhnya.

Terkait dengan target pengembangan kendaraan listrik di Indonesia, tambah dia, telah tercantum dalam roadmap pengembangan kendaraan bermotor nasional.

"Di mana pada tahun 2025 ditargetkan produksi kendaraan roda empat emisi karbon rendah dan kendaraan listrik mencapai sekitar 20 persen dari total produksi nasional," tandas dia.   

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓