Nasib Harga Emas Pekan Ini Tergantung Bank Sentral AS

Oleh Tommy Kurnia pada 29 Jul 2019, 07:30 WIB
Diperbarui 29 Jul 2019, 20:14 WIB
Ilustrasi Harga Emas (4)

Liputan6.com, Montreal - Nasib harga emas pada pekan depan tergantung keputusan Federal Reserve atau Bank Sentral Amerika Serikat (AS) pada pemotongan suku bunga acuan. Ada dua kemungkinan: suku bunga turun 25 basis poin atau turun 50 basis poin.

Dilansir Kitco, bila suku bunga AS turun 25 bps maka harga emas akan sedikit menurun dan jika turun 50 bps maka harga emas akan meroket. Analis menilai 25 bps jauh lebih realistis mengingat ekononomi AS yang masih stabil.

Berdasarkan Fedwatch Tool dari CME Group, pelaku pasar menyebut akan ada 78,6 persen kemungkinan pemangkasan suku bunga 25 bps, sementara ada 21,4 persen peluang bahwa akan ada pemangkasan sebesar 50 bps.

"(Harga emas) mungkin sedikit menurun karena ada kalangan pasar yang mengharapkan pemangkasan suku bunga 50 bps. Pada akhirnya kita akan mendapat 25 bps dan kita akan melihat sedikit penurunan harga emas," ahli strategis komoditas TD Securities.

Sebaliknya, jika penurunan suku bunga AS mencapai 50 bps, maka harga emas diprediksi makin cemerlang, yakni mencapai USD 1.454. Beberapa analis bahkan memandang nilainya bisa melebihi itu.

Kepala Ekonom CIBC Capital Markets, Avery Shenfeld, menyebut ekonomi AS yang stabil membuat suku bunga tertahan. Ia memprediksi Bank Sentral AS hanya akan menurunkan 25 bps, kemudian 25 bps lagi menjelang akhir tahun. Pada 2020, Shenfeld menilai suku bunga AS akan ditahan.

"Agar Fed lanjut memangkas suku bunga hingga 2020, kamu butuh ekonomi AS yang benar-benar melambat tahun depan," jelas Shenfeld. 

 

 

 

2 of 4

Emas Jadi Instrumen Investasi Potensial Saat Bunga Acuan BI Turun

Ilustrasi emas
Ilustrasi emas.

 Emas batangan merupakan bentuk investasi yang paling menarik dan potensial saat ini. Hal tersebut lantaran proses likuiditasnya terbilang mudah.

"Emas menawarkan kemudahan likuiditas, jadi kalau mau dicairkan bisa cepat," jelas Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira kepada Liputan6.com, Sabtu, 27 Juli 2019.

Sebelumnya, Panel Ahli Katadata Insight Center Damhuro Nasution sempat menyampaikan, investasi paling menarik dalam kurun waktu tiga bulan ke depan adalah obligasi. Kesimpulan itu diambil berdasarkan survei yang dilakukan pada 260 pengelola dana investasi.

Menanggapi hal tersebut, Bhima tak memungkiri bahwa pergerakan imbal hasil (yield) obligasi terbitan pemerintah memang terhitung tinggi. Namun, emas batangan secara potensi lebih besar lantaran pergerakannya terus melonjak naik sejak awal tahun ini.

"Imbal hasil obligasi pemerintah atau SBN (Surat Berharga Negara) untuk tenor 10 tahun memang masih cukup tinggi, diatas 7,2 persen. Dibandingkan dengan indeks saham return year to date cuman 0,69 persen," terangnya.

"Tapi yang paling prospek sebenarnya emas batangan. Harga emas internasional secara year to date atau dari awal tahun naiknya 10,1 persen," dia menambahkan.

 

3 of 4

Saham, Obligasi, atau Emas?

Terjebak di Zona Merah, IHSG Ditutup Naik 3,34 Poin
Pekerja melintasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). IHSG ditutup naik 3,34 poin atau 0,05 persen ke 5.841,46. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Bhima juga menekankan, hal yang perlu diperhatikan saat membeli obligasi yakni tren suku bunga ke depan yang bisa menurun seiring pemangkasan bunga acuan oleh Bank Indonesia. "Ini juga mempengaruhi imbal hasil obligasi," sambungnya.

Secara perbandingan, ia memaparkan, berinvestasi emas memiliki potensi sedikit lebih besar dibanding bermain obligasi ataupun melakukan pembelian reksadana saham.

"Kalau untuk kondisi sekarang, kira-kira pemegang saham 30 persen, obligasi 30 persen, dan emas 40 persen," ujar Bhima.

4 of 4

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓