Menko Luhut Targetkan PLTA Kaltara Dibangun Mulai 2020

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 26 Jul 2019, 15:40 WIB
Diperbarui 26 Jul 2019, 16:17 WIB
Menjelang Pengumuman Hasil Pemilu 2019, Menko Luhut Beri Keterangan Pers

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menargetkan, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kalimantan Utara dimulai pada 2020, untuk mengejar ketersediaan pasokan listrik Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning.

Luhut mengatakan, rencana pembangunan PLTA Kalimanta Utara harus selesai tahun ini, sehingga pada 2020 pembangunan fisi pembangkit bisa dilakukan sesuai target.

"Ya ini saya minta semua harus selesai tahun ini, harus bisa konstruksi dalam satu tahun ke depan," kata Luhut, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Jumat (26/7/2019).

 

Menurut Luhut, PLTA yang akan dibangun berkapasitas 1.350 Mega Watt (MW) dengan perkiraan investasi sebesar USD 2 miliar dolar. Calon pelanggan yang akan menyerap listrik dari pembangkit tersebut di antaranya fasilitas pengolahan dan pemurnial (Smelter) yang dibangun PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum).

‎"Jadi itu 1.350 Mega Watt. Nanti kek nya ada di Kuning, apa namanya itu Tanah Kuning," tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Pengadaan Strategis I PLN Sripeni Inten Cahyani mengatakan, PLN akan mendukung rencana pemerintah membangun KIPI Tanah Kuning, dengan membangun PLTA di Kalimantan Utara yang sudah masuk dalam Rencana Usaha Pengadaan Ketenagalistrikan (RUPTL).

"Rapat pembangkit di Kalimantan Utara. kami mendukung sudah masuk RUPTL," ujar Inten.

Menurut Inten, kapasitas PLTA yang akan dibangun lebih dari 1.000 Mega Watt (MW), pembangunan akan dilakukan bertahap dan memakan waktu sekitar 5-6 tahun.‎ Untuk nilai investasi, dia belum bisa menyebutkan, sebab masih dalam studi kelayakan.

"Lumayan besar di atas 1.000 MW. harapannya Indonesia punya PLTA paling besar‎," tandasnya.

2 dari 4 halaman

Beroperasi 31 Tahun, Begini Kondisi PLTA Cirata

PLTA Cirata
PLTA Cirata memanfaatkan aliran sungai Cirata yang dibendung (Liputan6.com/Pebrianto Eko Wicaksono)

PT PLN (Persero) telah mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata selama 31 tahun, infrastruktur kelistrikan tersebut memanfaatkan aliran sungai Cirata yang dibendung.

Manager Keuangan UP Cirata, Priyono ‎mengatakan, PLTA Cirata memiliki total kapasitas 1.008 MW dibangun pada 1983 dan beroperasi komersial pada 1988 sebanyak empat unit, dua unit beroperasi pada 1997 dan dua unit beroperasi pada 1998.

"8 unit pembangkit kapasitas 1008 MW. masing-masing satu unit 126 MW,"‎ kata Priyono, di PLTA Cirata, Minggu (7/7/2019). 

‎Meski sudah tidak masuk dalam pembangkit baru lagi, ‎PLTA yang digerakan oleh air Bendungan Cirata ini masih memiliki peran besar dalam sistem kelistrikan Jawa Bali.

Priyono mengungkapkan, PLTA Cirata memiliki fasilitas khusus Automatic Generation Controldan Black Start untuk line charging. Fasilitas ini membuat pasokan listrik dari PLTA Cirata bisa cepat masuk ke sistem interkoneksi Jawa-Bali.

"Cirata bisa suplai listrik cepat sekitar 5-6 menit karena punya line charging ke sistem Jawa Bali," ‎tutur Priyono

Priyono melanjutkan, PLTA Cirata memiliki peran pemikul beban puncak sistem Jawa Bali, sehingga saat konsumsi listrik meningkat maka PLTA yang terletak di Kabupaten Purwakarta inilah menjadi salah satu andalannya untu memenuhi kebutuhan listrik.

"PLTA Memiliki peran strategis, di sistem Jawa Bali sebagai pengendali frekuensip ada sistem 500 kv dan‎ penyangga beban puncak," tandasnya.  

3 dari 4 halaman

PLTA Raja Mandala Siap Dioperasikan

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Rajamandala berkapasitas 47 MW (Megawatt) yang telah resmi beroperasi, Jumat (12/7/2019).
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Rajamandala berkapasitas 47 MW (Megawatt) yang telah resmi beroperasi, Jumat (12/7/2019).

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Raja Mandala siap dioperasikan komersial. Kesiapan ini setelah pembangkit tersebut mendapatkan Sertifikat Laik Operasi (SLO) dari Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

Direktur Utama PT Indonesia Power Sripeni Inten Cahyani mengatakan, PLTA Rajamandala merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Air yang dikelola PT Rajamandala Electric Power (REP), sebuah perusahaan yang dibentuk melalui kerja sama antara PT Indonesia Power dengan Kansai Electric Power Co., Inc. 

Adanya PLTA Rajamandala ini membuat PLN Grup, khususnya PT Indonesia Power menambah jumlah pembangkit listrik yang menggunakan energi baru dan terbarukan.

“Satu lagi program pengembangan pembangkit EBT telah selesai pembangunannya. Harapannya dengan ini kami bisa terus mendukung target 23 persen bauran energi (energy mix) dari program PLN” kata Sripeni, di Jakarta, Jumat (17/5/2019).

PLTA Rajamandala yang berlokasi di hilir PLTA Saguling, telah selesai melaksanakan Nett Dependable Capacity (NDC) Test dan Reliability Run (RR) Test selama 3x24 jam dari rangkaian uji kelayakan.

"Kegiatan ini bertujuan untuk menguji kehandalan dan kapasitas maksimum pembangkit listrik, sebelum beroperasi secara komersial," tuturnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓