Penanganan Gas Bocor Blok ONWJ Ditargetkan Rampung 8 Minggu

Oleh Liputan6.com pada 25 Jul 2019, 20:09 WIB
Diperbarui 26 Jul 2019, 02:17 WIB
Ilustrasi tambang migas

Liputan6.com, Jakarta Direktur Hulu Pertamina, Dharmawan Samsu menegaskan bahwa akan menutup penuh pengoprasian sumur YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ). Penutupan ini dilakukan lantaran sumur bor tersebut telah terjadi kebocoran gas yang menimbulkan gelombang udara.

Dia juga menegaskan penanganan penanganan kebocoran ini akan dilakukan paling cepat delapan minggu pasca ditetapkan status darurat.

"Penyelesaian ini perkirakan akan memakan waktu selama 8 minggu atau 10 minggu sejak dinyatakan kondisi darurat," kata dia di kantornya, Kamis (25/7/2019).

Dharmawan mengatakan, untuk mengatasi persoalan gelembung gas tersebut pihaknya akan menggandeng perusahaan asal Amerika Serikat (AS) Boots and Coots. Setelah berhasil ditangani, sumur bor dikasawan tersebut akan ditutup dan tidak akan ditangani lagi.

"Dan untuk kegiatan penanggulangan sumur YY-1 Pertamina telah melibatkan sebuah perusahaan Boots and Coots perusahaan dari AS yang telah memiliki pengalaman dalam menangani kasus serupa termasuk skala yang lebih besar," tambah dia.

Dia menyebut alasan pihaknya menggandeng perusahaan asal AS karena memiliki sepak terjang yang tinggi. Di mana salah satu yang pernah diatasi Boots and Coots adalah insiden Teluk Meksiko.

 

2 dari 3 halaman

Tambak Ikan Terdampak

Sumur migas milik PT Pertamina Hulu Energi (PHE), salah satu anak usaha PT Pertamina (Persero). (Dok PHE)
Sumur migas milik PT Pertamina Hulu Energi (PHE), salah satu anak usaha PT Pertamina (Persero). (Dok PHE)

Seperti diberitakan, meluasnya pencemaran limbah pill oil akibat kebocoran anjungan pengeboran minyak di sumur YYA-1 Blok Offshore North West Jawa (ONWJ) milik PT Pertamina berdampak pada tambak ikan milik petani sepanjang pantai Karawang Utara.

"Sebaran limbah minyak akibat kebocoran pipa Pertamina berdampak pada produksi ikan petambak," kata petani tambak, Aceng, Kamis (25/7) di lokasi tambak Sungai Buntu.

Petani tambak berusia 40 tahun ini bersama teman-temannya, terpaksa memanen ikan lebih dini karena ikan-ikan yang baru berumur 3 minggu banyak yang mati akibat air laut yang tercemar sudah masuk ke area tambak yang tidak jauh dari pesisir pantai.

"Ikan sudah banyak yang mati diduga akibat sirkulasi air laut yang tercemar limbah B3 milik Pertamina," tandasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓