Restrukturisasi Bikin Deutsche Bank Merugi hingga Rp 49 Triliun

Oleh Athika Rahma pada 25 Jul 2019, 12:35 WIB
Diperbarui 25 Jul 2019, 13:17 WIB
Deutsche Bank

Liputan6.com, Jakarta - Bank terbesar di Eropa, Deutsche Bank terancam gulung tikar. Bank tang tengah melakukan restrukturisasi ini justru merugi karena biaya yang dikeluarkan di atas perkiraan awal atau membengkak.

Dalam laporan kuartal II tahun 2019, Deutsche Bank tercatat merugi 3,15 miliar Euro atau sekitar Rp 49,18 triliun (asumsi kurs 1 Euro sama dengan Rp 15.614). Ternyata, bank asal Jerman itu telah memproyeksi kerugian yang bakal dialami tahun 2019 sekitar 2,8 miliar Euro.

Dikutip dari Reuters, Kamis (25/7/2019), penyebab membengkaknya kerugian perbankan ialah restrukturisasi perusahaan melalui pemangkasan jumlah pekerja hingga 18 ribu orang di seluruh dunia serta reorganisasi perusahaan sampai 2022.

Meski begitu, manajemen perbankan yakin Deutsche Bank masih bisa untung tahun depan. Perlu diketahui, tahun lalu perbankan mencetak untung sebesar 401 juta Euro.

CEO Deutsche Bank Christian Sewing menyatakan akan berusaha melewati masa sulit ini.

"Beberapa minggu terakhir adalah masa-masa yang sangat menantang bagi kita semua, tetapi kita bisa mengatakan dengan keyakinan bahwa kita telah melewati tantangan pertama," ujarnya.

2 of 3

Lehman Brothers Kedua?

ilustrasi-bangkrut-130910c.jpg
Ilustrasi penurunan kinerja.

Di sisi lain, laman Zerohedge menyatakan kalau bank ini mungkin bisa jadi Lehman Brothers kedua. Menurut Nasdaq.com, akhir tahun lalu perbankan hanya memiliki aset senilai USD 1.531 triliun, sementara kewajibannya mencapai USD 1.469 triliun.

Bahkan, saham Deutsche Bank sempat turun 2,3 persen hingga penutupan Rabu (25/7/2019) kemarin. Tentu saja, krisis yang dialami bank ini akan mempengaruhi sistem keuangan global.

3 of 3

Deutsche Bank Akan PHK 18 Ribu Orang

PHK
Ilustrasi: PHK Karyawan (Sumber: IEEE Spectrum)

Deutsche Bank asal Jerman sedang berhemat dan akan memangkas 18 ribu pekerjaan di seluruh dunia. Kabarnya, perusahaan akan keluar dari pasar saham (equities) di ranah global.

Dilaporkan CNBC, Deutsche Bank sedang melakukan restrukturasi dan ingin berhemat hingga USD 6,7 miliar atau Rp 94.4 triliun (USD 1 = Rp 14.111). Pada kuartal kedua 2019 saja, bank asal Jerman ini melaporkan rugi USD 3,1 miliar (Rp 43,7 triliun).

"Saya sangat menyadari bahwa dalam membangun kembali (rebuilding) bank ini, kami melakukan pemangkasan yang mendalam. Saya secara pribadi amat menyesali dampak dari hal ini kepada sebagian dari kalian," ujar CEO Deutsche Bank Christian Sewing dalam keterangan resminya.

Ia melanjutkan bahwa meski berat, tetapi langkah itu tetap perlu diambil oleh pihak bank atas alasan kepentingan jangka panjang. Langkah ini disebut Sewing sebagai "transformasi fundamental."

Langkah PHK 18 ribu orang ini adalah langkah sampai 2022 dan Deutsche Bank menargetkan akan menyisakan 74 ribu pekerja saja. Selain itu, rencana restrukturisasi ini juga akan menghemat sampai USD 19 miliar (Rp 268,1 triliun) pada 2022.

Deutsche Bank juga berjanji akan melaksanakan pemangkasan kerja ini secara bertanggung jawab. Perkumpulan pekerja dan perwakilan pegawai juga akan diajak berkonsultasi sebagaimana seharusnya.

"Saya memahami bahwa ini akan memberi dampak ke orang banyak dan memberi efek ke kehidupan mereka dengan mendalam. Itulah mengapa kami akan melakukkan segalanya untuk menerapkan pemangkasan ini dengan cara yang bertanggung jawab. Saya menganggap itu sebagai tugas kami," jelas Sewing.

Ke depannya, Deutsche Bank sedang berencana berinvestasi sebesar USD 13 miliar (Rp 204,5 triliun) di sektor teknologi pada 2022.

Lanjutkan Membaca ↓