Beras RI Dianggap Mahal, Ini Pembelaan Mentan

Oleh Athika Rahma pada 19 Jul 2019, 10:45 WIB
Diperbarui 19 Jul 2019, 11:17 WIB
Pasokan Melimpah dan Stok Gudang Penuh, Operasi Pasar Tidak Perlu

Liputan6.com, Jakarta - Harga beras Indonesia masih dinilai terlalu tinggi untuk masuk pasar ekspor. Bulog menyatakan bahwa ongkos produksi beras Indonesia yang terbilang mahal. Itu disebabkan karena Indonesia masih menggunakan cara konvensional dalam mengelola beras.

Menanggapi hal itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan harga beras Indonesia masih lebih murah dibanding negara tetangga.

"Kami habis pulang dari Jepang, itu beras Indonesia harganya masih jauh lebih murah. Demikian dengan di Taiwan. Di Vietnam, itu sudah Rp 18 ribu per kilogramnya," tutur Amran di Palangka Raya, Kamis (18/7/2019).

Dirinya menambahkan, biaya produksi beras Indonesia cukup kompetitif. Harga di level petani pun sudah terbilang murah.

"Bulog itu Rp 8 ribu per kilogramnya, ya, paling ambil dari petani sekitar Rp 7 ribu. Bahkan ada beberapa yang di bawah itu," tambahnya.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sepanjang Juni 2019, harga beras di penggilingan mengalami kenaikan. Kenaikan tersebut terjadi baik untuk beras kualitas premium, medium dan rendah.

Rata-rata harga beras kualitas premium di tingkat penggilingan sebesar Rp 9.516 per kg, naik sebesar 0,56 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Untuk kualitas medium harga berkisar Rp 9.166 per kg, naik sebesar 0,26 persen. Sedangkan beras kualitas rendah di penggilingan berkisar Rp 9.012 per kg, naik sebesar 0,65 persen.

 

2 of 5

Harga Terlalu Mahal Jadi Alasan Indonesia Sulit Ekspor Beras

Pekerja mengangkat beras ke dalam truk di Pasar beras Martoloyo, Tegal, Jateng.
Pekerja mengangkat beras ke dalam truk di Pasar beras Martoloyo, Tegal, Jateng. Harga beras naik Rp 100 per kilo, akibat sedikitnya pasokan beras karena sebagian sawah terserang wereng. (Antara)

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso (Buwas) mengungkapkan sejumlah alasan mengapai RI terbilang sulit mengekspor beras ke luar negeri

Salah satu alasanya menurut dia, cost produksi (ongkos produksi) beras Indonesia yang terbilang mahal. Itu disebabkan karena Indonesia masih menggunakan cara konvensional dalam mengelola beras.

"Yang butuh beras kita itu banyak, tapi sayang harganya tidak masuk," tuturnya di Jakarta, Senin (2/7/2019). 

Buwas menjelaskan, karena beras Indonesia yang terlalu mahal, beras dalam negeri kalah diminati dibandingkan dengan negeri-negeri tetangga.

"Beras kita terlalu mahal, bahkan seburuk-buruknya gabah kita itu masih lebih mahal dibandingkan gabah luar negeri. Cost produksi kita terlalu mahal," kata dia.

Kendati begitu, pihaknya menekankan bahwa masalah tersebut sebenarnya bukan jadi alasan kuat Indonesia lantas berhak melakukan impor beras dari luar negeri.

Dia mencontohkan, beberapa negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam sendiri saat ini produksi berasnya sudah menggunakan mesin, sehingga lebih efisien.

"Karena beras kita itu masih banyak cara-cara konvensional, pakai tenaga manusia. Thailand, Vietnam sudah mekanisasi, makanya kita tak kompetitif dalam bidang harga," paparnya.  

3 of 5

BPS Catat Harga Beras dan Gabah Naik pada Juni 2019

Potret Semangat Petani Padi Myanmar
Sejumlah petani bekerja mengayak padi di sawah di Naypyitaw, Myanmar, (9/11). Di bawah pentadbiran British, Myanmar adalah negara pengeksport terbesar di dunia beras. (AP Photo / Aung Shine Oo)

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, sepanjang Juni 2019, harga beras di penggilingan mengalami kenaikan. Kenaikan tersebut terjadi baik untuk beras kualitas premium, medium dan rendah.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, pada Juni 2019, rata-rata harga beras kualitas premium di tingkat penggilingan sebesar Rp 9.516 per kg, naik sebesar 0,56 persen dibandingkan bulan sebelumnya. 

Rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp 9.166 per kg, naik sebesar 0,26 persen. Sedangkan rata-rata harga beras kualitas rendah di penggilingan sebesar Rp 9.012 per kg, naik sebesar 0,65 persen.

"Dibandingkan dengan Juni 2018, rata-rata harga beras di penggilingan pada Juni 2019 untuk semua kualitas yaitu premium, medium, dan rendah, mengalami kenaikan 40 persen, 0,34 persen, dan 0,79 persen.

4 of 5

Dibanding Bulan Sebelumnya

Bulog Sumsel Hanya Serap 31 Persen Beras Petani Lokal
Stok beras di gudang Perum Bulog Divre Sumsel Babel (Liputan6.com / Nefri Inge)

Sementara untuk gabah, lanjut Suhariyanto, dibandingkan bulan lalu, rata-rata harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat penggilingan selama Juni 2019 naik Rp 210 per kg (4,72 persen) menjadi Rp 4.656 per kg.

Selain itu, Gabah Kering Giling (GKG) naik Rp 63 per kg (1,18 persen) menjadi Rp 5.361 per kg dan gabah kualitas rendah naik Rp 169 per kg (4,11 persen) menjadi Rp 4.288 per kg.

"Jika dibandingkan Juni 2018, rata-rata harga di tingkat penggilingan pada Juni 2019 untuk GKP mengalami penurunan 1,75 persen, yaitu sebesar Rp 83 per kg. Untuk kualitas GKG turun 1,96 persen sebesar Rp 107 per kg dan gabah kualitas rendah turun 1,82 persen, yaitu sebesar Rp 80 per kg," tandas dia.  

5 of 5

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓