Jurus Kementan Atasi Anjloknya Harga CPO dan Karet

Oleh Athika Rahma pada 18 Jul 2019, 19:45 WIB
Diperbarui 18 Jul 2019, 19:45 WIB
Buah kelapa sawit.
Perbesar
Buah kelapa sawit. (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta - Harga komoditas karet dan sawit kian menyusut. Per Februari 2019, harga karet menyentuh angka USD 1.527,8 (CNY 10.510) sementara minyak kelapa sawit mentah alias CPO (crude palm oil) bernilai USD 473 per ton (MYR 1.971 per ton).

Hal ini tentu dikhawatirkan oleh para petani yang dirundung ketidakpastian penghasilan. Menyikapi hal tersebut, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengakui sudah memiliki solusi.

"Pertama, kita pakai untuk di dalam negeri, dicampurkan dengan aspal. Kedua, Kementan sudah bertemu delegasi dari Malaysia dan Thailand untuk menahan 260 ribu ton ekspor, jadi bisa lah harga naik," tuturnya di Palangkaraya, Kamis (18/7/2019).

Sementara untuk harga CPO, pemerintah juga mencanangkan penggunaan biodesel B100 sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.

"Kalau CPO solusi permanen sudah dibuat. Kita buat B100, sudah dua tahun dilakukan. Insya Allah dikomersilkan tahun depan, kita serahkan ke ESDM dan BUMN," tambahnya.

Sebagai perbandingan, satu liter solar hanya bertahan menempuh jarak 9 kilometer, sementara satu liter B100 bisa mencapai 13,4 kilometer. Jadi, penggunaan B100 bisa menghemat pengeluaran bahan bakar hingga 35 persen.

Meski begitu, Indonesia nampaknya masih agak jauh dari penerapan B100. Sebab, saat ini konsep bahan bakar ramah lingkungan baru melibatkan B30 (30 persen biodesel pada campuran bahan bakar solar).

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kementan Siapkan 500 Juta Benih Unggul hingga 2024

Menteri Pertanian Amran Sulaiman
Perbesar
Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam peluncuran Program BUN 500 di Kalteng. (Liputan6.com/Athika Rahma).

Kementerian Pertanian (Kementan) tengah memacu pertumbuhan produksi komoditas perkebunan. Melalui Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementan luncurkan program BUN 500 di Desa Sido Mulyo, Kecamatan Buah Batu, Palangkaraya pada Kamis, (18/7/2019).

Peluncuran benih unggul ini dihadiri oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabram, Direktur Jenderal Perkebunan Kasdi Subagyono dan pejabat kementerian lainnya. Amran mengatakan hal ini dilakukan demi mengembalikan kejayaan komoditas rempah.

"Kita ingin agar kejayaan komoditas rempah yang mana ratusan tahun lalu, Indonesia pernah menjadi negara penghasil rempah terbesar dunia. Selain itu, kita juga akan mensejahterakan petani," ungkapnya di Palangkaraya, Kamus (18/7/2019).

Lebih lanjut, program BUN 500 merupakan program penyediaan benih unggul bermutu komoditas perkebunan sebanyak 500 juta bibit dalam kurun waktu 2019-2024.

Benih unggul yang didistribusikan ke Desa Sido Mulyo berjumlah sekitar satu juta bibit dan diangkut puluhan truk. Komoditas unggulan yang diluncurkan ialah kopi, kakao, karet dan kelapa. 

Sementara, untuk menekan biaya pengiriman yang mahal, maka logistik penyedia benih unggul akan dibangun di sentra perkebunan agar nantinya bisa didistribusikan ke perkebunan seluruh daerah secara efektif.

Untuk melaksanakan hal tersebut, Kementan sudah berkoordinasi dengan Gubernur Kalimantan Tengah.

"Kita sudah koordinasi, nantinya program ini diimplementasikan sesuai dengan keunggulan komparatif dan topografi wilayah," tutupnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kementan Ingin Generasi Muda Tertarik Bertani dan Beternak

Sapi
Perbesar
Ilustrasi sapi (iStockPhoto)

Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia berharap agar generasi muda juga bisa bertani atau beternak. Hal ini diungkapkan oleh Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan Kementan.

"Kami ingin jumlah peternak semakin banyak, di samping profesionalisme beternaknya," kata Fadjar dalam konferensi pers penyelenggaran teater berjudul "SUN" di Jakarta, ditulis Senin (7/15/2019).

Fadjar menambahkan, untuk menarik generasi muda agar bisa menjadi seorang peternak, dibutuhkan cara kampanye yang menarik. Salah satunya seperti dengan pertunjukan seni yang baru-baru ini diselenggarakan oleh Kementan, Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO), serta USAID.

"Ini merupakan salah satu upaya, untuk memperkenalkan apa sih ternak ini, bagaimana sih beternak, apa menariknya. Terutama untuk generasi muda," Fadjar menambahkan.   

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by