BI Repo Rate Dipangkas, Bunga Kredit Mobil Bakal Ikut Turun

Oleh Liputan6.com pada 18 Jul 2019, 17:30 WIB
Diperbarui 18 Jul 2019, 17:30 WIB
Kredit Mobil Honda

Liputan6.com, Jakarta - Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juli 2019 Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan Bank Indonesia (BI) 7-day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan 25 basis poin (bps) pada angka 5,75 persen. BI juga menahan suku bunga Deposit Facility pada angka 5 persen dan Lending Facility 6,5 persen.

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto mengatakan, pihaknya menyambut positif penurunan suku bunga acuan. Menurut dia, penurunan suku bunga acuan bisa berdampak pada penurunan bunga kredit mobil.

"Bagus dong buat kita, seneng kita. Tapi enggak mungkin (segera). Hari ini diumumin terus besok berbondong-bondong buat orang beli mobil, kan kita ada proses," kata dia, saat ditemui, di sela-sela pameran GIIAS 2019, di ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (18/7).

 

Menurut dia, penurunan suku bunga kredit mobil baru akan terlihat dalam jangka waktu 3 bulan setelah suku bunga acuan diturunkan. Sebab perlu penyesuaian di level pelaku usaha.

"Ya kalo menurut saya tidak mungkin cepat sekali, minimal 3 bulan. Karena dia masih pegang duit yang modalnya (cost of fund-nya) sekian," ungkapnya.

"Kita musti liat, sekarang kan masih Juli. Jadi ya harapan kita mulai Juli ke atas. Ya kan? Ada pameran yang baru sekarang. Andai kata orang beli mobil sekarang pun delivery-nya mungkin baru Agustus. Jadi tidak mungkin diteken hari ini besok udah di garasi," imbuhnya.

Meskipun demikian, dia mengatakan bisa juga penurunan terjadi lebih cepat sesuai dengan kondisi pasar. Jika satu pelaku usaha pembiayaan sudah menurunkan suku bunga, biasanya diikuti oleh yang lain.

"Tapi kalau begitu dia lihat kiri kanan. Kalau leasing yang sono sudah turun (bunga kredit mobil), tapi dia enggak turunin, mampus saja. Kan begitu. Naik harga juga begitu. Kalau saya naik sendirian, tidak dibeli orang," tandasnya.   

2 dari 4 halaman

Bank Mandiri Harap Bunga Acuan BI Turun Jadi 5,75 Persen

BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan 6 Persen
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo saat memberikan keterangan usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Kamis (21/2). BI kembali menahan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7RRR) di angka 6 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Kamsi besok. Salah satu yang akan diumumkan adalah (BI) 7-day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan.

PT Bank Mandiri Tbk berharap Bank Indonesia (BI) kali ini akan menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) dari 6 persen menjadi 5,75 persen.

Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Panji Irawan mengatakan ruang BI untuk menurunkan suku bunga cukup besar karena kondisi perekonomian Indonesia saat ini cukup stabil.

"Terkait suku bunga memang ada harapan diturunkan 25 basis poin, karena kemungkinan besar ada penurunan 25 basis poin oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed)," kata dia dalam acara Paparan Publik Kinerja Keuangan Triwulan - II 2019, di Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Penurunan sebesar 25 basis poin tersebut cukup realistis bagi dunia perbankan saat ini. Terlebih jika The Fed atau bank sentral Amerika Serikat (AS)menurunkan suku bunga acuannya juga, ruang BI untuk menurunkan bunga juga akan semakin lebar.

"Prediksi kami penurunan bunga acuan bagus untuk bank. Misalnya dari 6 persen ke 5,75 persen maka special rate di bank akan turun. Dan ini berdampak ke penurunan biaya dana dan pendapatan bunga jadi bagus," ujarnya.

Menurutnya, jika BI menurunkan suku bunga acuannya dapat menjadi angin segar bagi perbankan nasional. Sebab potensi pendapatan bunga menjadi meningkat.

3 dari 4 halaman

Penurunan Bunga Acuan BI Mampu Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

BI Tahan Suku Bunga Acuan
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menggelar konferensi pers di Jakarta, Kamis (17/1). Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mendesak Bank Indonesia (BI) untuk segera menurunkan suku bunga acuan yang masih ditahan di level 6 persen.

Wakil Direktur INDEF Eko Listianto mengatakan, sudah saatnya bunga acuan diturunkan, mengingat beberapa hal yang menjadi pertimbangan seperti untuk mendorong investasi di sektor riil sehingga berujung meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

"Kembali ditahannya bunga acuan selama 8 bulan berturut-turut di level 6 persen membuat memontum mendorong perekonomian bisa hilang," ujar dia, Senin (24/6/2019).

Menurutnya, kebijakan tersebut memang dapat membuat arus modal jangka pendek (hot money) betah tinggal di Indonesia. Namun seiring negara-negara lain yang mulai melakukan ekspansi moneter dengan penurunan suku bunga acuan, maka sektor riil Indonesia semakin tidak kompetitif lantaran bunga (cost of fund) yang mahal.

"Upaya penurunan suku bunga acuan di negara-negara lain mereka lakukan untuk memberikan stimulus pada pertumbuhan ekonomi. Utamanya agar dampak perang dagang AS-China tidak terlalu menggerogoti kinerja ekonomi sektor riil," ungkap dia.

Selain itu, ia menambahkan, menahan suku bunga acuan hanya akan mengundang hot money yang akan semakin membuat ekonomi rentan jika gejolak tiba-tiba datang. Bunga di luar negeri yang jauh lebih murah juga membuat pelaku usaha di Indonesia tergiur untuk pinjam dana dari luar negeri.

"Akibatnya, ULN (Utang Luar Negeri) Swasta naik dan risiko nilai tukar juga meningkat. Ini terlihat dari kenaikan ULN yang juga diumumkan BI 3 hari menjelang keputusan RDG (Rapat Dewan Gubernur, Bank Indonesia)," sambungnya.

Oleh karenanya, pemerintah dan BI diharapkan segera melakukan respon kebijakan atas dampak perang dagang ke sektor riil. Di sisi kebijakan moneter upaya ini diharapkan juga dilakukan melalui penurunan suku bunga acuan agar produk-produk Indonesia tetap kompetitif.

"Jika suku bunga masih jauh lebih tinggi dari negara lain, maka ekonomi kita akan semakin sulit bersaing. Dengan bunga turun, maka ekspor yang melambat dapat didorong agar menguat, dan impor yang meningkat bisa dihambat dengan geliat produksi dunia usaha di dalam negeri yang meningkat," pungkasnya.  

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓