Subsidi Solar Dipangkas, Keuangan Pertamina Tertekan?

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 18 Jul 2019, 14:10 WIB
Diperbarui 18 Jul 2019, 14:10 WIB
Pemerintah Subsidi Solar
Perbesar
Suasana di SPBU Kuningan Jakarta, Sabtu (5/5). Pemerintah berencana untuk menambah subsidi solar di tengah harga minyak dunia yang sedang naik. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta PT Pertamina (Persero) angkat bicara terkait penetapan alokasi subsidi solar pada tahun depan sebesar Rp 1.000 per liter, lebih rendah dari 2019 sebesar Rp 2 ribu per liter.

Direktur Keuangan Pertamina Pahala Mansury mengatakan, ‎perlu dilakukan peninjauan terkait dengan penetapan subsidi solar Rp 1.000 per liter.

Sebab, dengan subsidi solar ditetapkan Rp 2 ribu per liter, harga jual solar subsidi ke masyarakat Rp 5.150 per liter masih lebih rendah dibanding formula yang dikeluarkan pemerintah.

"‎Untuk misalnya subsidi itu ada penurunan dari subsidi perlu kita lihat harga jual eceran dibandingkan formula untuk produk solar itu sebetulnya masih Kita menjual di bawah harga formula‎," kata Pahala, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (18/7/2019).

Menurut Pahala, Pertamina akan menyampaikan kondisi ini ke Pemerintah, serta menunggu kebijakan yang akan diterapkan pemerintah dan DPR atas pengurangan subsidi solar pada 2020.

Terkait dengan penyesuaian harga solar subsidi, perusahaan energi plat merah tersebut akan membicarakannya dengan pemerintah.

"Tentunya Kita akan menyampaikan hal tersebut. Tapi juga tergantung kebijakan pemerintah dan juga dari DPR seperti apa nantinya. Kalau untuk penyesuaian harga kan tentunya Kita harus bicara dengan pemerintah," ‎tuturnya.

 

2 dari 4 halaman

Keuangan Pertamina Tertekan?

Harga Pertamax Naik
Perbesar
Petugas mengisi BBM ke kendaraan konsumen di SPBU Abdul Muis, Jakarta, Senin (2/7). PT Pertamina (Persero) menaikkan harga Pertamax, Pertamax Turbo dan Pertamina Dex mulai dari Rp500 hingga Rp900 per liter mulai 1 Juli 2018. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Namun Pahala tidak memaparkan kondisi keuangan Pertamina secara terbuka, akibat menjual solar ‎subsidi lebih rendah dari harga berdasarkan formula yang ditetapkan pemerintah.

‎"Dengan subsidi Rp 2 ribu pun kita menjual harga di bawah eceran," tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan membahas harga solar subsidi dengan Komisi VII DPR, hal ini dilatarbelakangi penurunan alokasi subsidi solar pada ‎2020.

Jonan mengatakan, berdasarkan hasil rapat kerja anggaran dengan Badan Anggaran DPR ‎subsidi solar pada 2020 alokasi subsidi solar ‎disepakati Rp 1.000 per liter, sedangkan saat rapat dengan Komisi VII DPR disepakati Rp 1.500 per liter.

"Ini saya sampaikan saja karena saya dapat paparan dari Menkeu (Menteri Keuangan Sri Mulyani) tadi maksimal Rp 1.000,"‎ kata Jonan dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Gedung DPR Jakarta, Senin (15/7/2019).

 

3 dari 4 halaman

Harga Solar Bakal Disesuaikan

20151008-Solar turun-Jakarta
Perbesar
Petugas mengisi BBM jenis solar di SPBU kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (8/10/2015). Pemerintah menurunkan harga solar dari Rp 6.900/liter menjadi Rp.6.700/liter. Harga baru itu akan berlaku mulai Jumat, 9 Oktober mendatang. (Liputan6.com/Angga

Menurut Jonan, jika alokas‎i subsidi solar benar ditetapkan Rp 1.000 per liter pada 2020, maka ada kemungkinan akan dilakukan penyesuaian harga jual solar subsidi, sebab alokasi subsidi berkurang.

Dengan pilihan lain membuka kemungkinan memberlakukan harga penyesuaian, mengikuti kondisi harga pasar dengan dikurangi subsidi Rp 1.000 pada tahun depan.

Jonan pun meminta arahan ke Komisi VII DPR, atas dua pilihan kemungkinan tersebut jika subsidi solar dibatasi maksimal Rp 1.000 pada 2020.

"Mungkin kita akan lihat apakah perlu ada adjustment atau penyesuaian eceran di 2020. Harga eceran Rp 5.150 per liter sekarang," tandasnya.‎

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓