Konsumsi BBM Subsidi Diprediksi Melebihi Kuota

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 17 Jul 2019, 20:12 WIB
Diperbarui 17 Jul 2019, 20:17 WIB
20151008-Solar turun-Jakarta

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengatur Kegiatan ‎Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memprediksi konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar subsidi dan premium‎ akan melebihi volume yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Dikutip dari data BPH Migas, di Jakarta Rabu (17/7/2019)‎, kuota solar subsidi atau Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) dalam APBN 2019 ditetapkan sebesar 14,5 juta Kilo Liter (KL), realisasi konsumsi pada semester I 2019 sudah mencapai 7,52 juta ton atau 51 persen. Sedangkan sampai akhir 2019 konsumsi solar subsidi mencapai 15,3 juta KL.

Sedangkan kuota premium atau Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) yang ditetapkan dalam APBN 2019 ‎sebesar 11 juta KL, realisasi konsumsi sampai semester 1 2019 mencapai 5,87 juta KL atau 53 persen. Konsumsi Premium diprediksi mencapai 13,2 juta KL.

Kepala BPH Migas Fansh‎urullah Asa mengatakan, untuk menghindari konsumsi solar subsidi dan premium yang melebihi kuota, BPH Migas segera berkordinasidengan Pertamina, Himpunan Wiraswastawa Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) dan Polri, untuk menjalankan rencana penjatahan atau pengkitiran penyaluran solar subsidi dan premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

"Karena jika tidak dilakukan akan terjadi over kuota BBM solar subsidi antara 0,8 juta KL sampai 1,3 juta KL dari kuota APBN," tuturnya.

BPH Migas juga meminta Pertamina tetap menerapkan sistem informasi pada kran penyaluran BBM di SPBU (Nozzle), untuk mengendalikan penyaluran BBM bersubsidi agar tepat sasaran.

"Program IT Nozzle Pertamina sudah sangat telat, karena saat ini baru sekitar 1.000 SPBU dari 5.518 SPBU yang direncanakan," tandasnya.

 

2 of 4

Ada BBM Satu Harga, Warga Mapia Papua Tak Lagi Beli Premium Rp 15 Ribu

Warga Distrik Sawa Erma dapat BBM satu harga.
Warga Distrik Sawa Erma dapat BBM satu harga. (Liputan6.com/Katharina Janur)

PT Pertamina (Persero) mengoperasikan lembaga penyalur Bahan Bakar Minyak (BBM) Satu Harga di Kampung Bomomani, Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai Provinsi Papua.

Region Manager Retail Fuel Marketing VIII Pertamina Fanda Chrismianto mengatakan, lembaga BBM Satu Harga di Distrik Mapia yaitu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kompak 86.68809 merupakan pertama yang hadir di wilayah Kabupaten Dogiyai, Papua. Hal ini sebagai perwujudan keadilan energi dan pemenuhan kebutuhan BBM masyarakat Dogiyai.

“Titik BBM Satu Harga di Distrik Mapia merupakan wujud kehadiran negara dalam memberikan rasa keadilan dalam hal penyediaan energi khususnya bahan bakar minyak atau BBM sampai pelosok-pelosok daerah," kata Fanda, di Jakarta, Rabu (10/7/2019).

Sebelum berdirinya SPBU Kompak di kampung Bomomani, warga setempat membeli BBM dengan harga mulai dari Rp 10 ribu per liter sampai Rp 15 ribu per liter di luar lembaga penyalur resmi. Sementara itu, lembaga penyalur resmi terdekat berada pada jarak 30 km.

"Mulai sekarang, warga Distrik Mapia bisa dengan mudah mendapatkan BBM dengan harga yang sama dengan di Jakarta, Surabaya, dan wilayah lain di Indonesia yakni Premium Rp 6.450 per liter dan Solar Rp 5.150 per liter. Ke depannya kita juga akan memperkenalkan produk BBM jenis Pertalite dan Pertamax," ungkap Fanda.

Fanda pun berharap, agar masyarakat dapat memanfaatkan sebaik-baiknya SPBU Kompak Kampung Bomomani ini, terlebih karena dibangun oleh putra daerah Mapia sendiri.

"Kehadiran titik BBM Satu Harga ini juga tidak lepas dari dukungan pemerintah baik pusat maupun daerah yang telah mendukung pendirian SPBU mulai dari tahap perizinan," tambahnya

3 of 4

Energi Berkeadilan

BBM satu harga
BBM satu harga di Distrik Sawa Erma, Kabupaten Asmat. (Liputan6.com/Katharina Janur)

Kepala Bidang Hukum Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Hufron Asrofi menyatakan, program BBM satu harga merupakan wujud komitmen pemerintah untuk menyediakan energi berkeadilan bagi masyarakat sesuai dengan sila ke-5 Pancasila.

“Program BBM Satu Harga yang dicanangkan pemerintah di tahun 2016 berawal dari Tanah Papua. Sejak pertama dicanangkan, total telah beroperasi 163 titik dari total 170 titik BBM Satu Harga yang ditargetkan hingga akhir tahun 2019. Titik satu harga Distrik Mapia, Dogiyai ini merupakan lembaga penyalur Satu Harga ke-34 yang telah diresmikan dari total 40 titik di tahun 2019,” jelas Hufron.

Sementara itu, Kepala Distrik Mapia, Yohanes Butu mengapresiasi Pertamina, Kementerian ESDM dan juga BPH Migas yang telah berupaya untuk menghadirkan lagi titik BBM satu harga di wilayah Kabupaten Dogiyai, khususnya di wilayah Distrik Mapia.

Distrik Mapia memiliki sekitar 17 ribu penduduk sehingga kedepannya berharap ada SPBU Kompak lain yang berdiri di wilayahnya.

“Kami mewakili pemerintah Kabupaten Dogiyai sangat mengapresiasi kepada pihak Kementerian ESDM, BPH Migas dan juga Pertamina yang telah mendukung program BBM Satu Harga di wilayah Distrik Mapia ini,“ tandasnya.

SPBU Kompak CV. Eguwai Diti 86.988.09 di Kampung Bomomani merupakan titik BBM Satu Harga pertama di wilayah Kabupaten Dogiyai, Papua dan dikelola oleh Orang Asli Papua.

Titik pasokan berasal dari Terminal BBM Nabire dengan jarak tempuh sejauh kurang lebih 200 km dengan menempuh transportasi darat. Adapun produk yang disediakan adalah Premium dan Solar dengan fasilitas penyimpanan masing-masing 30 drum 

4 of 4

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by