Pengembangan Wirausaha RI Tertinggal dari Malaysia dan Thailand

Oleh Liputan6.com pada 17 Jul 2019, 16:30 WIB
Diperbarui 17 Jul 2019, 17:17 WIB
KriyaNusa 2018

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong peningkatan jumlah wirausaha di Indonesia. Hingga saat ini, sektor kewirausahaan di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan negara ASEAN lain.

Kepala Biro Humas Kemendag Fajarini Puntodewi mengatakan, berdasarkan data Entrepreneurship Global Index 2018, indeks kewirausahaan di negara maju sebesar 14 persen. Sementara indeks kewirausahaan di Indonesia baru sebesar 3,1 persen, masih di bawah negara ASEAN lainnya yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

"Kewirausahaan secara langsung memiliki peran penting dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi. Sehingga upaya mendorong terciptanya wirausaha baru perlu dilakukan," ujar dia di Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Menurut data asosiasi pengguna Jasa internet (APJII), penggunaan sarana niaga elektronik untuk berdagang di luar Jawa baru mencapai 30 persen, masih jauh dibanding dominasi pengguna di Jawa yaitu sebesar 70 persen. Sehingga, potensi pengembangan usaha secara digital di luar Jawa masih cukup besar.

Untuk mendorong pengembangan wirausaha di Indonesia, Kemendag bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar mengadakan pelatihan pemasaran digital bagi mahasiswa inkubator bisnis. Tujuan kegiatan ini untuk mendorong jiwa kewirausahaan di kalangan mahasiswa agar dapat menjadipengusaha mandiri selepas menyelesaikan bangku kuliah.

"Kita perlu mendorong tumbuhnya wirausaha baru, khususnya di kalangan mahasiswa dan kaum muda yang merupakan generasi milenial dengan memanfaatkan era teknologi saat ini. Kesadaran pentingnya wirausaha bagiperekonomian negara perlu ditanamkan kepada kaum muda dalam mendorong kreativitas dan rasa percaya diriuntuk menjadi pelaku usaha. Upaya ini juga untuk membantu mewujudkan target pemerintah menciptakan 1000 technopreneurs," jelas dia.

Pelatihan diikuti sekitar 40 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan dosen pembimbing inkubator bisnis UIN. Jumlah peserta dibatasi agar pengajaran lebih efektif dan materi pelatihan dapat disampaikan secara berkelanjutan.

"Kami sangat mendukung kegiatan ini, yang sejalan dengan program kampus untuk mendidik pebisnis ulung. Agar tidak berhenti sampai di sini, kami juga mengikutkan para dosen pembimbing inkubator bisnis UIN dalam pelatihan ini sebagai training of trainee (ToT) sehingga bisa memberikan pelatihan kembali kepada para mahasiswa lainnya dan program bisa berjalan berkesinambungan,” ungkap Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Abdul Wahab.

2 dari 4 halaman

Pemerintah Ciptakan Wirausaha Baru Lewat Pesantren

Delvira/Liputan6.com
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendidik santri  untuk menumbuhkan wirausaha baru di Tanah Air. Salah satunya dengan menjalankan program Santripreneur yang menjadi implementasi dari Peta Jalan Making Indonesia 4.0, dalam pemberdayaan Industri Kecil dan Menengah (IKM).

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto menuturkan, program Santripreneur, santri masa kini dituntut untuk tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga mampu berwirausaha.

Hal ini merupakan upaya konkret yang dilakukan pemerintah untuk mendorong jiwa wirausaha para santri, antara lain memfasilitasi dengan alat-alat produksi. 

"Misalnya, di Pondok Pesantren Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen ini, kami mengirimkan langsung mesin dan peralatan pembuat roti untuk dimanfaatkan para santri agar bisa produktif dan berwirausaha," kata Airlangga, di Jakarta.

Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) memberikan sejumlah bantuan alat, yaitu satu unit planetary mixer, satu unit spiral mixer (mesin pencampur adonan), satu unit proofer (mesin pengembang adonan), satu unit oven, satu unit mesin potong roti, satu unit lemari es, dan satu unit impulse sealer (alat perekat plastik).

Kemudian, dua unit meja stainless, 10 unit unit loyang pelengkap oven, satu unit hand mixer, satu unit penggiling adonan manual, satu unit tabung gas beserta regulator dan LPG, satu unit timbangan digital, serta satu unit rak bakery pan. Alat-alat tersebut sudah dikirim sejak bulan lalu.

"Tadi saya memastikan barang yang diserahkan sudah sampai atau belum, ternyata peralatan untuk membuat roti bukan saja sudah sampai tapi sudah dipakai untuk memproduksi roti," ucap Airlangga.

Airlangga berharap, dengan bantuan peralatan produksi roti tersebut, setelah lulus dari pesantren, para santri dari Pondok Pesantren Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen selain menjadi ahli dalam bidang ilmu agama, sekaligus bisa menjadi wirausaha yang andal. 

"Jadi, belajar di pesantren, sambil menimba ilmu agama sekaligus sambil berlatih membuat roti, tentunya harus juga bisa menjualnya, imbuhnya.

Menurut Airlangga, pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan berbasis keagamaan yang telah dikenal sebagai lembaga yang mandiri, sekaligus agen pembangunan yang menjadi panutan dalam kehidupan masyarakat. 

Selain itu, pondok pesantren telah dikenal menjadi tempat untuk menempa para santri yang berakhlak dan berbudi pekerti luhur, ulet, jujur, serta pekerja keras.

"Pondok pesantren juga memiliki potensi pemberdayaan ekonomi, mengingat sudah banyak pondok pesantren yang mendirikan koperasi, mengembangkan berbagai unit bisnis atau industri berskala kecil dan menengah, dan memiliki inkubator bisnis. Seluruh potensi ini merupakan modal yang cukup kuat dalam menghadapi revolusi industri 4.0," paparnya.

Airlangga menginginkan, bantuan berupa alat produksi bisa dimanfaatkan secara optimal, Kementerian Perindustrian, sudah memetakan kebutuhan di setiap pondok pesantren di masing-masing daerah. Contohnya, ada pesantren yang seluruh santrinya menggunakan sandal.

Melihat peluang itu, Kemenperin akan memberikan bantuan berupa alat produksi membuat sandal. Jadi nanti kami bantu caranya membuat sandal, sehingga ekonominya menjadi ekosistem di pesantren.

Seluruh kebutuhan santri itu bisa dipenuhi oleh usaha atau koperasi yang dibangun oleh pesantren itu sendiri, terangnya.

 

3 dari 4 halaman

Program Pengembangan Santri

Sekitar 120 Santri asal Garut yang tergabung dalam pesantren/madrasah digital, mendapatkan kesempatan istimewa mengunjungi kedubes Amerika Serikat di Jakarta
Sekitar 120 Santri asal Garut yang tergabung dalam pesantren/madrasah digital, mendapatkan kesempatan istimewa mengunjungi kedubes Amerika Serikat di Jakarta (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Lebih lanjut, Kementerian Perindustrian telah menyiapkan beberapa program atau model untuk mengembangkan pemberdayaan ekonomi berbasis pondok pesantren dan menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan di kalangan santri maupun alumni santri.

"Model yang pertama adalah model Penumbuhan Wirausaha Industri Baru dan Pengembangan Unit Industri di lingkungan pondok pesantren atau dikenal dengan program Santri Berindustri, kata dia.  

Model kedua, yakni program Santri Berkreasi, bertujuan untuk mendidik dan mengembangkan potensi kreatif para santri, di bidang produksi digital dan mencetak creativepreneur di lingkungan pondok pesantren.

Selain itu, dalam rangka memacu implementasi industri 4.0 di sektor IKM, Kemenperin juga turut mendorong para santri dapat mengukuti program e-Smart IKM.

Melalui e-Smart IKM, Kemenperin berupaya melakukan edukasi dan pembinaan terhadap IKM untuk masuk dalam e-commerce. Hal ini merupakan upaya konkret pemerintah untuk lebih memperluas akses pasar IKM dan memperbesar presentase produk Indonesia di e-commerce.

Program studi teknologi yang ada di pesantren harus link and match dengan  kebutuhan di era digital. Paling penting dan diperlukan dalam era digital ini, yaitu program studi sains teknologi, kemudian engineering, art dan matematika. Karena program studi tersebut adalah kunci dari ekonomi digital, imbuhnya.

Berdasarkan data Kemenperin, hingga 2018, Direktorat Jenderal IKMA Kemenperin telah melatih sebanyak 5.945 pelaku IKM di seluruh Indonesia dan membukukan transaksi lebih dari 1,3 miliar pada  2018 yang lalu, naik 773 persen dari transaksi tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 168 juta.

Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih mengungkapkan, hingga saat ini, pihaknya telah membina sebanyak 22 pondok pesantren dengan lebih dari 3.000 santri telah diberikan pelatihan produksi, serta motivasi kewirausahaan.

"Cakupan ruang lingkup pembinaan kami, di antaranya pelatihan produksi dan bantuan mesin atau peralatan di bidang olahan pangan dan minuman (roti dan kopi), perbengkelan roda dua, kerajinan boneka dan kain perca, konveksi busana muslim dan seragam, daur ulang sampah dan produksi pupuk organik cair," tandasnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓